Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Saat kita butuh berkonsultasi urusan kesehatan, tidak jarang minim persiapan. Umumnya, pasien mencari nama dokter (kebanyakan rekomendasi teman atau saudara atau dari sosial media), membuat appointment, lalu datang.

Sedihnya, tidak jarang pula yang pasca konsultasi, merasa ada yang kurang, merasa ada yang tidak fullfilled (tidak terpuaskan). Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi konsumen kesehatan yang bijak (bukan sekedar cerdas); sehingga dianggap layak menjadi mitra nakes (tenaga kesehatan -red)?

TUJUAN KONSULTASI.

Yang pertama harus dilakukan adalah tentukan TUJUAN konsultasi. Misalnya, untuk kontrol berkala anak sehat, atau untuk mengetahui ada tidaknya masalah yang serius saat anak sakit.

Oleh karena itu, secara garis besar, kunjungan ke nakes dibagi 2 yaitu saat anak sehat (preventif) dan saat anak sakit (kuratif).

Konsultasi preventif bertujuan untuk memastikan anak sehat (fisik dan mental), dan untuk mendeteksi dini jika ada penyimpangan.

Konsultasi kuratif, untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang serius yang luput dari pengamatan, menentukan diagnosis (minimal diagnosis sementara), dan menyusun plan of treatment.

KONSULTASI PREVENTIF

Misalnya konsultasi untuk imunisasi, untuk “check up” tahunan, dan lain-lain.

Tujuannya:

1. Untuk mengetahui status pertumbuhan anak.

– Bagaimana laju pertumbuhannya (kenaikan Berat Badan, Panjang Badan/Tinggi Badan, Lingkar kepala).

– Menganalisis plotting di growth chart (kurva pertumbuhan) anak.

2. Untuk mengetahui status perkembangan anak.

Dilakukan pengamatan singkat 4 aspek perkembangan kemampuan:

– motorik kasar

– motorik halus

– kognitif, sosial

– verbal

3. Untuk mengetahui kecukupan asupan nutrisi:

– manajemen laktasi

– manajemen MPASI

– manajemen asuhan nutrisi di atas usia 2 tahun

4. Untuk mengetahui kelengkapan status imunisasi dan mengejar (catch up) imunisasi yang tertinggal.

Imunisasi diberikan secara simultan.

5. Untuk mengenal anak dan keluarganya.

– Menjalin relationship yang genuine (tulus).

– Memahami situasi psikososial keluarga

Persiapan kunjungan konsultasi preventif:

1. Bekal ilmu

2. Buku paspor kesehatan.

3. Buat catatan singkat terkait 4 butir di atas seandainya ada yang perlu dibahas.

4. Buat daftar pertanyaan tetapi harap diingat, pasien yang lain juga butuh diskusi jadi pertanyaan prioritas saja, sisanya bisa dibahas di milis (milissehatyop) ini.

Pertanyaan:

Bijaklah.

Maksudnya?

Batasi pada pertanyaan yang esensial, pertanyaan prinsip yang betul-betul relevan dengan tujuan konsultasi.

Harap dicatat, orang lain juga butuh berkonsultasi, semua orang punya masalah.

Kita bahas daftar pertanyaan di CAPING lain ya. Pantengin terus CAPING ya…

KONSULTASI KURATIF

Misalnya saat sakit.

Tujuan konsultasi:

1. Memastikan diagnosis.

Misalnya, ada keraguan dugaan diagnosis. Plus, menyusun plan of treatment.

2. Apabila ada kekhawatiran luput dari sesuatu yang lebih serius

3. Apabila ada kegawat daruratan.

4. Untuk second opinion.

5. Kunjungan ulang evaluasi hasil terapi/tatalaksana.

6. Dan lain-lain.

Persiapan:

1. Catat hal-hal yang menyebabkan kegalauan. Dengan catatan, jangan galau akan sesuatu tetapi samasekali tidak punya pemahaman akan hal tersebut.

Contohnya:

Takut bronkitis, padahal apa itu bronkitis juga ibunya tidak tahu samasekali.

Atau

Takut ada apa-apa. Harus jelas, apa yang dikhawatirkan. Jangan takut sama: kenapa-kenapa. Nanti hasil konsultasinya ikutan rancu (ujungnya, over atau mistreatment).

Atau

Takut stunting. Tapi baca growth chart tidak paham

2. Daftar pertanyaan: 3 basic questions

KESIMPULAN

DON’TS:

1. Datang dengan modal seadanya, atau berbekal ilmu: katanya…

Di lain sisi, berharap dapat kuliah lengkap.

2. Membuat list pertanyaan yang sangat panjang.

3. Berharap ada solusi instant. Abrakadabra.

Semua keluhan harus lenyap seketika.

4.Harus ada resep. Obat dan atau suplemen. Padahal, kunjungan ke dokter kan untuk konsultasi. Belum tentu butuh obat. Selain itu, dokter bukan tukang obat lho…

5. Tidak membawa buku paspor kesehatan.

6. Tidak memberikan informasi yang obyektif, apa adanya.

7.Kunjungan imunisasi hanya untuk juss – suntik selesai dan tidak ada diskusi berbobot dua arah terkait butir-butir di atas.

Jadi?

Be a smart patient.

A well informed patient is easier to care for.

Wati

You and your doctor, it takes TWO to tango

Share artikel ini: