Dear all,
Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.
Suatu hari, pasangan muda yang very smart, datang membawa bayi 11 bulan karena menolak makan.
Sudah ke dr. Apin dan dr. Windhi.
Diminta untuk mengubah menu.
Pergi ke dsa (dokter spesialis anak) lain, disuruh cek urine.
Diberi Cefixime 10 hari karena leukosit di urine 8 dan leukosit esterase positif.
Hasil kultur keluar belakangan, steril!
Setelah dipersilakan duduk, ibu langsung mengeluarkan lembaran hasil lab. Saya pura-pura tidak lihat (hehehe, maaf ya; diagnosis kan pegangannya dari anamnesis dan pemeriksaan fisik; hasil pemeriksaan lab sekedar penunjang dan hanya berlaku untuk sebagian penyakit).
Saya pun mulai ngobrol, menggali informasi, mulai dari riwayat kehamilan sampai dengan kelahiran. Manajemen laktasi. Dan pola pemberian MPASI.
Nah saat masuk ke MPASI, ibu bercerita bahwa sejak awal, sudah menolak makan. Susah sekali. Hanya sedikit-sedikit. Berbagai menu sudah disuguhkan, tetap ditolak. Ada nada defensif dari pihak ayah ibu. Berusaha keras untuk menyatakan bahwa semua upaya sudah dilakukan. Secara tidak langsung, berusaha meyakinkan bahwa, penolakan makanan ini karena suatu penyakit (dalam hal ini, ISK – infeksi saluran kemih).
Awalnya, yang dikeluarkan hasil urine lengkap.
Orang tua menunjukkan angka-angka yang memperkuat dugaan terhadap ISK yaitu:
– leukosit 8 – 10
– leukosit esterase positif.
– bakteri + (bukan hasil kultur)
Imho (in my humble opinion -red), (hasil pemeriksaan lab ini -red) tidak bisa jadi pegangan untuk menyatakan diagnosisnya ISK.
W : Bu, menerjemahkan hasil urin, harus sangat hati-hati. Urinenya kan urine tampung, bukan urine yang diambil dengan teknik supra pubic puncture.
Kulit sekitar kemaluan kan banyak bakterinya, bakteri tersebut bisa mengkontaminasi sehingga hasil urinenya, ada bakteri. Nah, pada kondisi seperti ini, tidak boleh menegakkan diagnosis ISK dari angka-angka tersebut semata.
A(ayah): Iya Dok, urin tampung harus diterjemahkan dengan hati-hati. Daan … anaknya juga gak demam, Dok. Ini hasil kulturnya (steril).
Saya jadi cemas, Dok. Makanya second opinion, bagaimana anak saya, Dok? Terlanjur makan antibiotik broad spectrum 10 hari.
W : Pak, Bu, second opinion itu seharusnya dilakukan sebelum memutuskan suatu tindakan atau terapi. Bukan setelahnya.
A : Iya sih, Dok.
W : Kenapa tidak fokus pada kecukupan asupan nutrisinya?
Dear all,
Second opinion adalah hak pasien. Sayangnya, atas nama berbagai alasan, sering tidak dilaksanakan. Salah satu alasan tidak second opinion yang dikemukakan orang tua adalah ” habis panik, Dok, jadi saya buru-buru aja. Gak kepikiran buat cari opini lain”.
Kita boleh panik kalau ada tanda-tanda kegawat daruratan. Sesak napas, penurunan kesadaran, dehidrasi berat, dan kejang lama dan berulang.
Mari kita manfaatkan jalur 2nd opinion. Kapan?
1. Kalau divonis mengalami kelainan yang serius atau …
2. Butuh terapi jangka lama.
3. Ada konsekuensi komplikasi yang berat
4. Kalau ada keraguan akan diagnosis dan atau treatment.
Apa manfaat 2nd opinion?
1. Kejelasan diagnosis dan treatment.
2. Ketepatan tatalaksana (treatment).
3. Menambah respek kepada dokter yang pertama menangani, apabila ternyata, diagnosis dan tatalaksananya sudah tepat.
4. Patient safety.
Bagaimana teknisnya?
1. Sebelum suatu intervensi dieksekusi (sebelum pemeriksaan lab., sebelum rawat inap, dan atau sebelum terapi)
2. Kemana kita mencari opini kedua tsb?
Usahakan kita pergi ke ahlinya.
Divonis ISK, 2nd opinionnya ke dsa ahli nefrologi/ginjal.
Divonis TB (tuberkulosis -red), ke dsa ahli respirologi/paru.
Semoga bermanfaat.
Salam patient safety
Wati
