(Windhi –Yoga)
Anemia adalah kadar hemoglobin yang lebih rendah dari pada nilai normal berdasarkan usia.
Batasan anemia berdasarkan usia:
- < 2 bulan : < 9 mg/dl
- 2-6 bulan : < 9.5 mg /dl
- 6-24 bulan : < 10.5 mg/dl
- 2 -11 tahun : < 11.5 mg/dl
- > 12 tahun perempuan : < 12 mg/dl
- >12 tahun laki-laki : < 13 mg/dl
Gejala – gejala anemia yaitu:
– Pucat
– Gangguan pertumbuhan
– Sesak / sulit bernafas
– Lemah, lesu, tampak tidak bergairah
– Konjungtiva (selaput dalam kelopak mata) tampak pucat
– Adanya bising jantung pada pemeriksaan fisik jantung
Berdasarkan gambaran sel darah merah (penialaian ditentukan dari pemeriksaan MCV = Mean Corpuscular Volume), anemia diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
Anemia mikrositik
Berikut berbagai penyebab anemia mikrositik :
- Anemia defisiensi zat besi
- Kelainan bawaan pada bentuk hemoglobin, yaitu thalasemia, anemia sideroblastik
- Infeksi yang berlangsung lama
Anemia normositik
Berikut berbagai penyebab anemia normositik
- Produksi sel darah merah berkurang pada penyakit : anemia aplastik, leukemia.
- Perdarahan (catatan: perdarahan yang berlangsung lama dapat menyebabkan anemia defisiensi besi).
- Gangguan pemecahan sel darah merah (hemolitik).
Anemia makrositik
Berikut berbagai penyebab anemia makrositik
- Defisiensi vitamin B12
- Defisiensi asam folat
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk mendeteksi anemia:
- Pemeriksaan darah tepi lengkap
- Apusan darah tepi
- Hitung retikulosit (sel darah merah muda)
Penatalaksanaan:
Tatalaksana anemia berdasarkan penyebabnya.
Anemia Defisiensi Besi
Anemia muncul pada keadaan defisiensi besi yang cukup berat . Defisiensi besi dapat menganggu kemampuan kognitif dan perkembangan psikomotor anak, meski belum menjadi anemia. Sebagian besar anemia defisiensi disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang mengandung cukup zat besi seperti daging, ikan, ayam, sayuran hijau, kacang, kuning telur, atau terlalu banyak mengkonsumsi susu sapi. Pada anak remaja putri, anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh kehilangan darah akibat menstruasi.
Faktor Risiko Anemia Defisiensi Besi :
Usia < 6 bulan :
– Prematur
– Berat badan lahir rendah
– Kehamilan kembar
– Ibu dengan anemia defisiensi besi
Usia 6- 24 bulan :
– ASI eksklusif setelah 6 bulan
– Terlambat pemberian makanan pendamping ASI yang mengandung zat besi.
– Terlalu banyak minum susu sapi
– Kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi
Remaja Putri :
– Pola makan yang buruk (terlalu banyak jajanan warung yang tidak bergizi)
– Menstruasi
– Fase pertumbuhan cepat pada masa pubertas
Pencegahan anemia defisiensi besi:
- MPASI sejak usia 6 bulan
- Hindari susu sapi kuran dari 12 bulan
- Pertimbangkan suplementasi zat besi pada golongan risiko tinggi
Catatan : penerapan zat besi akan meningkat jika dimakan bersamaan dengan makanan tinggi vitamin C seperti jeruk, strawberry, brokoli.
Tatalaksana Anemia Defisiensi Besi
- Edukasi mengenai diet untuk meningkatkan asupan makanan kaya zat besi. Batasi konsumsi susu sapi.
- Suplementasi besi diberikan pada anak yang terbukti defisiensi besi dan dilanjutkan sampai 3 bulan setelah Hb normal. Suplementasi yang dianjurkan adalah Fe Glukonat dengan dosis 1 mL/kgBB perhari dari 300mg Fe Glukonat / 5 ml. Pemberian dan penyimpanan suplemen zat besi haruslah berhati-hati karena kelebihan dosis dapat berakibat fatal. Tinja dapat berwarna kehitaman atau abu-abu selama terapi zat besi.
- Pemberian zat besi melalui infus atau pemberian transfusi pada anemia defisiensi besi sangat jarang dilakukan. Pada umumnya tranfusi dilakukan pada Hb < 8 mg/dl.
Sumber : Royal Children Hospital, Paediatric Handbook, 2009
