Definisi rinitis: inflamasi/peradangan pada lapisan epitel hidung dan ditandai minimal dua dari gejala berikut yaitu beringus, hidung tersumbat, bersin, dan hidung gatal.

Tiga jenis rinitis:
1. Rinitis alergi adalah rinitis yang terjadi akibat paparan alergen pada pasien yang tersensitisasi. Contoh allergen tersering adalah tungau debu rumah, serbuk sari dari rumput/pohon, bulu hewan (kucing dan anjing), dan lumut/jamur.
2. Rinitis infeksi adalah rinitis yang disebabkan infeksi virus. Terkadang gejalanya bisa mirip dengan rinitis alergi. Pasien atopi bisa juga mengalami rinitis infeksi bahkan lebih rentan. Anak dapat mengalami infeksi saluran pernapasan atas sebanyak 11 episode per tahun pada bayi, 8 episode pada usia pra sekolah, dan 4 episode usia sekolah. Hanya 0,2-2% dari infeksi saluran pernapasan atas tersebut yang berlanjut menjadi infeksi sinus (sinusitis).
3. Rinitis non-alergi non-infeksi adalah bentuk yang berbeda dari kedua rinitis di atas. Sebagai contoh: iritasi hidung akibat paparan polusi/asap rokok, refluks gastroesofagus, pengaruh hormone (hipotiroid, kehamilan), pengaruh obat (beta bloker, kontrasepsi, antiinflamasi non steroid), atau vasomotor, idiopatik.

Seberapa sering penderitanya?
Sekitar 8,5% usia 6-7 tahun dan 14,6% usia 13-14 tahun.

Gejala rinitis alergi:
1. Hidung tersumbat
2. Hidung beringus
3. Hidung gatal
4. Bersin

Tanda rinitis alergi:
1. Allergic shiner (kelopak bawah mata terlihat lebih gelap karena bendungan pembuluh darah kronis)
2. Allergic salute (tampak garis di hidung karena sering diusap/gosok akibat gatal)

Penyakit penyerta rinitis alergi:
1. Konjungtivitis alergi; ditandai gejala gatal di mata, konjungtiva kemerahan, mata berair, dan sembab
2. Hipertrofi adenoid dan tonsil
3. Sleep apnea (henti napas sesaat saat tidur)
4. Infeksi telinga tengah
5. Disfungsi saluran tuba di telinga

Penyakit penyerta lain rinitis alergi:
1. Asma
2. Eksim/dermatitis atopi

Diagnosis:
1. Gejala klinis
2. Tipe, durasi, dan frekuensi dari gejala
3. Faktor pencetus

Pikirkan diagnosis lain (bukan rinitis alergi) bila dijumpai keluhan hidung hanya satu sisi, hidung tersumbat tanpa ada gejala lain, sekret hidung mukopurulen (kuning kehijauan), nyeri atau mimisan berulang. Pemeriksaan hidung juga diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan polip hidung.

Beberapa diagnosis banding lain yang menyerupai rinitis alergi:

Metode diagnosis yang bisa dilakukan adalah uji cungkil kulit (skin prick test) dan serum IgE terhadap alergen. Uji cungkil kulit adalah pemeriksaan yang sederhana, tidak memerlukan sampel darah, dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit. Di sisi lain, serum IgE membutuhkan sampel darah dan hasilnya berupa nilai kuantitatif. Kedua pemeriksaan tersebut saling melengkapi. Namun, yang terpenting adalah wawancara medis.

Terapi:

  1. Penghindaran terhadap alergen
  2. Antihistamin oral dan intranasal
  3. Kortikosteroid intranasal; direkomendasikan untuk anak di atas usia 2 tahun; pilihannya adalah flutikason furoat, mometason furoat, flutikason proprionat karena penyerapan ke dalam tubuh (sistemik) rendah sehingga efek samping steroid pun minimal.
  4. Kortikosteroid sistemik; bukan menjadi terapi utama; bila diperlukan, hanya diberikan dalam waktu singkat 3-7 hari.
  5. Antagonis reseptor leukotrien oral (montelukas)
  6. Antikolinergik nasal; jarang diberikan pada anak
  7. Dekongestan nasal; hanya diberikan dalam waktu singkat sebab bila diberikan jangka panjang akan terjadi rebound effect yaitu pembengkakan mukosa hidung setelah dekongestan nasal dihentikan.
  8. Sodium kromoglikat nasal
  9. Lain-lain: omalizumab, imunoterapi

(felix)

Referensi:

Paediatric rinitis: position paper of the European Academy of Allergy and Clinical Immunology. Allergy. 2013;68:1102-6.

Share artikel ini: