Salah satu upaya meningkatkan keselamatan pasien adalah menekan kejadian penyakit infeksi. Oleh karena itu, sebagai pasien, Anda dihimbau untuk mengingatkan tenaga kesehatan (termasuk dokter) untuk mencuci tangan dengan baik dan benar sebelum menyentuh tubuh anda. Seharusnya, tindakan menjaga hygiene ini termasuk juga upaya membersihkan semua alat kesehatan yang dipakai untuk memeriksa pasien, misalnya, stetoskop. Namun demikian, bagaimana cara meminta nakes untuk membersihkan stetoskop (dengan cairan desinfeksi).

Di Amerika Serikat asosiasi para ahli pengendalian infeksi dan epidemiologi (Association for Professionals in Infection Control and Epidemiology/APIC) memiliki suatu jurnal resmi yaitu The American Journal of Infection Control).   Asosiasi ini baru menyusun suatu program peningkatan kualitas layanan kesehatan dan di edisi jurnal bulan Juli 2017, ditulis pentingnya pasien mengingatkan nakes untuk membersihkan stetoskop sebelum dipakai untuk setiap pasien. Hal ini disebabkan karena berdasarkan penemuan terakhir, ternyata  para tenaga kesehatan jarang membersihkan stetoskopnya sebelum memeriksa pasien berikutnya. Padahal kebersihan stetoskop termasuk salah satu usaha pencegahan penyebaran infeksi. Panduan (guideline) pengendalian infeksi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) menyatakan bahwa alat-alat kesehatan yang dipakai berulang, seperti stetoskop, harus disucihamakan (di-disinfeksi) sebelum digunakan pada pasien yang berbeda.

“Stetoskop digunakan berulang kali sepanjang hari dan terkontaminasi (oleh kuman) setiap selesai melakukan pemeriksaaan pada pasien, jadi harus diperlakukan sebagai vektor transmisi (penyakit) yang potensial,” kata Linda Greene, RN, MPS, CIC, FAPIC, presiden APIC 2017. “Kelalaian menyucihamakan stetoskop dapat menjadi masalah keselamatan pasien yang serius, sama halnya seperti mengabaikan kebersihan tangan.”

Laporan tersebut menyebutkan pada penelitian awal, penulis mengamati kebersihan stetoskop (menyeka dengan alkohol, alkohol gel atau menyeka dengan desinfektan) di awal rotasi 4 mingguan pada mahasiswa kedokteran, dokter residen, dan  dokter pendidikan tahun ketiga di rumah sakit pendidikan.  Hasil pengamatan awal terhadap usaha menjaga kebersihan stetoskop milik staf rumah sakit adalah nol!! Proyek ini juga mengamati kebersihan tangan, termasuk penggunaan alkohol gel atau sabun dan air.

Tim lalu melakukan penyuluhan pada para klinisi tentang pentingnya kebersihan stetoskop, dan menekankan himbauan bagi para klinisi untuk menjaga kebersihan stetoskop sebelum menghadapi pasien berikutnya. Mereka juga mengisyaratkan kemungkinan pemantauan pada fase berikutnya. Namun demikian, hasil yang sama terjadi: tidak dilakukan sanitasi terhadap  stetoskop.

Penulis berkomentar, ”Dengan beberapa keterbatasan yang ada, proyek ini menggarisbawahi minimnya upaya menjaga kebersihan stetoskop. Solusi permasalahan ini bukan melalui upaya penyuluhan standar pengendalian infeksi melainkan pada upaya memperbaiki kebiasaan dan melakukan modifikasi kultural untuk meningkatkan  kebersihan tangan. Ternyata mengubah kebiasaan dan budaya justru merupakan suatu tantangan berat meski para nakes sudah beberapa kali diberi paparan pentingnya upaya pengendalian infeksi melalui cuci tangan dan kebersihan stetoskop.  Butuh upaya konsisten untuk mengubah kebiasaan dan budaya saat ini agar berubah menjadi budaya dan kebiasaan yang sifatnya: Memastikan agar para nakes menjaga kebersihan stetoskop. Seharusnya, kebersihan stetoskop termasuk usaha menjaga kebersihan tangan di rumah sakit merupakan suatu keharusan seiring dengan meningkatnya

Tadinya, kebersihan tangan lebih banyak diperhatikan daripada kebersihan stetoskop, akan tetapi data mikrobiologi menunjukkan bahwa kontaminasi terhadap stetoskop setelah satu kali pemeriksaan (pasien) sebanding dengan kontaminasi pada tangan dokter yang dipakai (dominan). Kuman potensial patogen  yang ditemukan pada biakan (kultur) dari stetoskop antara lain:  Staphylococcus aureusPseudomonas aeruginosaClostridium difficile, dan vancomycin-resistant enterococci. Bahkan, penelitian terkini oleh Swiss study menemukan bahwa stetoskop dapat menularkan bakteri yang potensial resisten (terhadap antibiotika), di antaranya methicillin-resistant Staphylococcus aureus(MRSA). Bakteri bakteri yang ditemukan dari biakan stetoskop tersebut merupakan bakteri yang sudah resisten terhadap antibiotic atau yang sering disebut sebagai “SUPERBUGS”.
Bagaimanapun, Tim peneliti sudah mengantisipasi sebelumnya bahwa hasil kultur stetoskop ini tidak menyenangkan, mengingat buruknya tingkat kebersihan stetoskop yang telah dilaporkan oleh penelitian lain. “Kami sudah mengantisipasi rendahnya tingkat kebersihan stetoskop, akan tetapi terkejut karena tidak ada yang menjaga kebersihan stetoskop, meskipun di Institusi kami, tindakan pembersihan stetoskop ini sudah tercantum pada daftar periksa evaluasi akhir bagi mahasiswa kedokteran tahun kedua karena upaya menjaga hygiene ini menggambarkan kompetensi dalam melakukan anamnesis (Tanya jawab pengumpulan informasi dari pasien) dan pemeriksaan fisik yang lengkap.”

Sumber : oubreaknewstoday.com

Share artikel ini: