BAKTERI, LAWAN atau KAWAN?
Pada tahun 1862, Louis Pasteur menyatakan bahwa mikroba merupakan penyebab terjadinya penyakit infeksi.
TEORI KUMAN (The Germ theory) ini, telah membawa kemajuan medis yang luar biasa, baik dari sisi pencegahan (ditemukannya vaksin, upaya higienis misalnya pasteurisasi) maupun kemajuan di bidang pengobatan penyakit infeksi.
Namun demikian, teori ini juga menumbuhkan persepsi bahwa bakteri adalah musuh dan harus dibasmi (misalnya, dengan memberikan antibiotik). Saatini, teori “musuh” tersebut sudah ditinggalkan. Pendekatan “perang” melawan mikroba meskipun telah berhasil menyelamatkan banyak nyawa, kini menghadapi tantangan baru, yaitu bermunculannya bakteri yang kebal (resistensi) terhadap antibiotik. Bakteri kebal ini sering dijuluki sebagai superbugs.
LIVING, DANCING WITH BACTERIA
Persepsi kita tentang bakteri telah berubah drastis berkat riset yang sudah ada. Bakteri bukan lagi sekedar kuman penyebab penyakit, melainkan makhluk purba yang perannya sangat penting untuk keberlangsungan hidup di bumi.
CiptaanNya yang tertua, yang jumlahnya luar biasa banyak sekali.
Mikroba merupakan mahluk tertua di planet ini. Mereka sudah ada sejak 3.7 milyar tahun yang lalu.
Jumlahnya? Tidak alang kepalang! Lima juta trilyun trilyun
5,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000
Setara dengan jarak linier satu trilyun cahaya dari bumi.
Mereka membantu mengikat nitrogen di tanah, menjaga siklus zat organik, bahkan membentuk mikrobioma yang kini dikenal sebagai “organ” tambahan di tubuh kita.

Fungsi mikroba di saluran cerna kita
- Ubah makanan menjadi nutrisi (zat gizi)
- Memproduksi Vit B & K
- Menjaga agar usus tetap sehat
- Menjaga agar buang air besar lancar
- Melindungi tubuh dari mikroba jahat
Ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari cara hidup bakteri. Berikut beberapa di antaranya:
- Mikrobioma tubuh sebagai “organ tersembunyi”. Triliunan bakteri hidup di usus, kulit, dan saluran pernapasan kita. Mereka membantu mencernakan makanan, menghasilkan vitamin, melatih sistem imun, hingga melindungi dari patogen berbahaya.
- Keseimbangan antibiotik. Antibiotik memang senjata ampuh, tetapi penggunaannya yang berlebihan justru mempercepat lahirnya resistensi. Dalam praktik medis, penggunaan bijak antibiotik kini menjadi kunci untuk menjaga efektivitas terapi.
- Belajar dari spesies lain. Manusia unggul dalam bahasa, teknologi, dan alat, tetapi juga menciptakan ancaman bagi kelangsungan hidup sendiri, sedangkan bakteri menunjukan cara hidup yang selaras dengan ekosistem.
JANGAN BERPERANG! BERDANSA INDAH SAJALAH
Alih-alih hanya berfokus pada “perang” melawan bakteri, dunia medis kini mulai menekankan pada keseimbangan memanfaatkan bakteri baik, mengendalikan bakteri bahaya, serta menggunakan antibiotik secara bijak. Bakteri bukan sekedar ancaman, melainkan juga pendukung penting yang dapat membantu manusia menghadapi tantangan kesehatan. Dengan mempelajari “menari bersama bakteri”, kita tidak hanya melindungi diri dari penyakit, tetapi juga membuka jalan menuju pengobatan yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
The metaphor of ‘Dancing with the Bacteria’ is one possible alternative to the metaphor of war.
Dalam evolusi kehidupan ini, kita semua harus belajar hidup berdampingan.
Disadur oleh Putra Ramadhan (28 Sept 2025) dari buku “Dancing With Bacteria” karya Satya Sivaraman-ReAct International.


