Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Liburan sekolah, HOREEEEE!

Sekolah itu asyik, cool, bisa main sama teman-teman. Tapiiiii, liburan sekolah lebih asyik lagi! Bebas bangun jam berapa aja. Gak ada PR (Jaman saya sekolah kan tiap hari banyak PR). Gak usah belajar.

Jaman saya dulu, libur sekolah itu, jalan-jalan naik kereta, asyik banget. Ke Bandung, lewat area persawahan luas. Atau lewat puncak naik mobil, berhenti di puncak pas. Surga dunia!

Jaman saya dulu, libur sekolah artinya:

Bisa main bola setiap saat (bukan cuma anak laki-laki yang main bola);

Bebas manjat pohon buah sekompleks, satu persatu dapat giliran.

Ngadu layangan, benangnya, gelasan. Anak perempuan juga bisa bikin layangan yang gak singit.

Ngadu gading, ngadu jangkrik.

Perang sumpit (“peluru”nya kacang hijau).

Liburan sekolah jaman saya dulu, identik dengan bau matahari. Daaan jika liburan itu di musim penghujan, semakin lengkaplah kebahagiaan kami. Begitu mendung menyelimuti kota, berdoa agar segera turun hujan. Begitu air hujan turun dari langit, satu persatu anak-anak keluar rumah. Merdeka! Main hujan basah kuyup sambil bawa bola ke taman.

Nikmatnya hidup.

Bapil (batuk pilek -red)? Ya wajar toh. Mandi air hangat. Minum teh jahe anget.

Tiduran bentar. Besok hujan lagi. Besok main lagi.

Jaman sekarang?

Libur gak libur, indoor.

Ayo masuk, anginnya besar, mau hujan. Nanti masuk angin. Anak disuruh di dalam rumah.

Jadi?

Ajak anak mencintai alam terbuka. Menghargai tanah dan tanaman. Menghargai air dan hujan. Mensyukuri nikmatNya.

Ayooo maiiin di luar yuuk!

Punya layangan baru niiih.

Salam anak alam,

Wati

Share artikel ini: