Jumlah anak yang melakukan perjalanan ke luar negeri meningkat secara dramatis, sekitar 1,9 juta per tahunnya. Resiko kesehatan yang dialami tentu saja sama dengan resiko kesehatan yang dihadapi orang tuanya. Masalah kesehatan yang paling sering dilaporkan pada anak adalah:

  • Diare
  • Malaria
  • Kecelakaan kendaraan bermotor dan di air

Petugas kesehatan seharusnya:

  • Mengevaluasi vaksinasi rutin dan yang berhubungan dengan perjalanan
  • Mengevaluasi kegiatan apa saja yang akan dikerjakan selama perjalanan
  • Melakukan konseling preventif dan intervensi spesifik terhadap resiko termasuk persiapan dan pengobatan yang mungkin diperlukan untuk mengatasi kondisi penyakit kronik
  • Memberikan pertimbangan mengenai resiko berpergian ke Negara berkembang, seperti resiko malaria, parasit usus dan tuberculosis
  • Memberikan konseling kepada orang tua dan anak yang lebih besar untuk mempelajari mengenai pertolongan pertama sebelum melakukan perjalanan

Diare dan Dehidrasi

Diare dan penyakit saluran cerna lainnya adalah penyakit yang paling sering dialami selama perjalanan. Anak kecil dan bayi mempuyai resiko yang lebih tinggi karena faktor imunitasnya yang belum sempurna dan kebiasaan buruk memasukan tangan ke mulut. Jika anak kecil dan bayi menderita diare maka mereka akan lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding orang dewasa.

Pencegahan

Penyebab diare pada anak serupa pada orang dewasa

  • Untuk bayi kecil, menyusui adalah cara terbaik untuk mengurangi resiko penyakit akibat makanan dan minuman yang tercemar oleh kuman
  • Orang yang sedang berpergian sebaiknya hanya menggunakan air yang sudah dimurnikan untuk keperluan minum, membuat es batu dan mencampur makanan bayi dan formula
  • Perhatian lebih harus diberikan pada mencuci tangan dan membersihkan empeng, kawat gigi dan mainan yang jatuh ke lantai atau sudah dipegang orang lain
  • Jika tidak bisa mencuci tangan, pembersih tangan yang mengandung alkohol bisa digunakan sebagai agen desinfeksi. Alkohol tidak membersihkan zat organik, sebaiknya tangan yang kotor oleh tanah harus dicuci dengan air dan sabun
  • Produk susu yang segar di negara berkembang mungkin tidak dipasteurisasi dan telah diencerkan dengan air yang tidak bersih
  • Untuk perjalanan pendek, makanan rumah bisa dipersiapkan untuk cemilan selama di perjalanan ketika anak-anak lapar

Manajemen Diare pada Bayi dan Anak Kecil

Orang tua yang membawa anak kecil selama perjalanan harus tahu tanda dan gejala dehidrasi dan cara penggunaan cairan rehidrasi oral yang tepat. Perhatian perlu diberikan pada bayi dan anak kecil yang mengalami diare dengan tanda-tanda:

  • Tanda dehidrasi sedang dan berat
  • Diare berdarah
  • Demam lebih dari 38,5 derajat celcius atau
  • Muntah persisten sehingga hidrasi oral tidak bisa tercapai

Cairan rehidrasi oral tetap harus diberikan lewat botol, spuit maupun sendok sambil mencari pertolongan medis.

Feses pada popok bisa menimbulkan ruam yang merah, eksimatosa dan nyeri pada pantat anak. Ruam ini tidak bisa ditangani dengan krim hidrokortison 1%.

Evaluasi dan Tatalaksana Dehidrasi

Ancaman terbesar pada bayi yang muntah dan diare adalah dehidrasi. Peningkatan suhu pun meningkatkan kehilangan cairan dan dehidrasi.

  • Orang tua harus tahu bahwa dehidrasi sebaiknya dicegah dan ditanggulangi dengan cairan rehidrasi oral sebagai tambahan makanan yang biasanya
  • Nasi dan cairan rehidrasi oral dengan bahan dasar sereal dimana karbohidrat kompleks sebagai pengganti glukosa juga bisa digunakan untuk anak kecil
  • Minuman olahraga yang dirancang untuk menggantika air dan elektrolit yang keluar melalui keringat tidak mengandung proporsi elektrolit yang sama seperti yang dianjurkan WHO untuk cairan rehidrasi oral. Meskipun demikian, jika cairan rehidrasi oral tidak tersedia, anak-anak boleh minum apa saja sampai cairan tersebut tersedia.

Cairan Rehidrasi Oral (CRO): Guna dan Ketersediaannya

CRO tersedia di semua apotik di negara berkembang.

  • CRO disiapkan dengan menambahkan 1 bungkus CRO ke air yang sudah direbus. Pastikan di setiap CRO yang diminum mengandung garam yang berguna untuk mengkoreksi kekurangan air akibat dehidrasi.
  • CRO yang sudah dioplos tidak boleh digunakan setelah 12 jam pada suhu ruang atau 24 jam jika dimasukkan kulkas.
  • Anak yang dehidrasi akan meminum CRO dengan rakus, CRO ini harus diberikan selama masih terjadi dehidrasi. Setelah dehidrasi teratasi, anak akan menolak CRO dan cairan lain bisa diberikan. Jika CRO dimuntahkan terus menerus maka CRO diberikan dengan sendok sedikit demi sedikit dengan frekuensi yang lebih sering.
  • Untuk anak dengan BB < 10 kg, CRO yang diberikan sekitar 60 – 120 mL setiap kali diare atau muntah. Sementara untuk anak dengan BB > 10 kg, CRO yang diberikan sekitar 120 – 240 mL setiap kali diare atau muntah.
  • Spuit tanpa jarum bisa digunakan sebagai alternatif cara pemberian dan bisa dimasukkan dalam daftar barang bawaan yang harus dibawa.
  • Dehidrasi berat adalah kegawatan medis yang biasanya memerlukan pemberian cairan melalui pembuluh darah atau tulang.

Modifikasi Makanan

  • ASI eksklusif tetap diteruskan sesuai permintaan anak
  • Makanan formula bayi tetap diteruskan selama rehidrasi. Volume yang diberikan harus memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi. Formula bebas laktosa atau rendah laktosaa biasanya tidak perlu diberikan. Pengenceran formula dapat memperlambat perbaikan diare dan tidak dianjurkan.
  • Anak yang sudah makan biasa tetap meneruskan makanannya. Yang dianjurkan antara lain gandum, sereal, yogurt, buah dan sayuran. Makanan yang mengandung gula sederhana seperti minuman ringan, jus apel yang tidak diencerkan, gelatin, sereal yang dipermanis dapat lebih menyebabkan diare karena efek penarikan cairan ke dalam usus dan sebaiknya dihindari. Kandungan lemak tinggi juga dihindari karena bisa memperlambat pengosongan lambung.
  • Puasa lebih dari 24 jam sangat tidak dianjurkan. Pemberian makanan sedini mungkin dapat mencegah perubahan suasana pada usus yang disebabkan infeksi, mengurangi durasi penyakit dan memperbaiki nutrisi.
  • Diet khusus seperti pisang, nasi, selai apel dan roti bakar sangat dianjurkan, meskipun demikian diet yang terlalu ketat juga tidak dianjurkan.
  • Orang tua harus rajin mencuci tangan setiap kali mengganti popok bayi yang menglami diare untuk mencegah penularan

Antibiotik

Sedikit data yang ada mengenai penggunaan antibiotik pada diare selama perjalanan. Terapi empiriknya pun terbatas.

  • Pada prakteknya, beberapa dokter meresepkan azitromisisn dosis tunggal 10 mg/kg untuk 1 – 2 hari jika memang antibiotik diperlukan.
  • Syrup azitromisin yang diberi rasa juga tersedia buat anak. Pastikan bertanya pada apoteker mengenai cara mengoplos dan menggunakannya.
  • Untuk orang dewasa, terapi empirik antibiotiknya adalah fluorokuinolon. Obat ini tidak direkomendasikan untuk anak kurang dari 18 tahun karena bisa menyebabkan kerusakan tulang rawan. Fluorokuinolon pada anak hanya boleh digunakan atas indikasi infeksi saluran kemih (FDA), infeksi saluran cerna yang disebabkan shigella yang resisten, salmonella, vibrio cholera dan campylobacter jejuni.

Malaria

Penyakit ini termasuk penyakit serius dan mengancam jiwa anak.

  • Anak dengan malaria bisa mengandung banyak parasit dalam darahnya
  • Anak juga beresiko komplikasi berat seperti syok, kejang, koma dan kematian
  • Gejalanya mirip dengan penyakit lain yang menyebabkan demam sehingga diagnosis dan tatalaksanya sering terlambat.
  • Oleh karena itu jika berpergian ke daerah yang endemis malaria, orang tua harus paham betul tanda dan gejala klinis dari malaria dan harus segera mencari pertolongan medis.

Obat Anti Malaria

Obat yang digunakan anak sama dengan dewasa kecuali beberapa hal:

  • Atovaquin/proguanil tidak boleh digunakan untuk profilaksis pada bayi dengan BB < 5 kg karena kurang data keamanannya
  • Klorokuin, meflokuin dan proguanil rasanya pahit sehingga tabletnya boleh digerus lalu dimasukkan ke dalam kapsul gelatin seusai dosis anak yang dibutuhkan
  • Obat malaria setelah digerus juga bisa dicampur dengan sedikit air sehingga lebih mudah diminum oleh bayi dan anak
  • Karena overdosis bersifat fatal, sebaiknya obat anti malaria harus disimpan di tempat yang tidak bisa diakses oleh anak-anak.

Serangga dan Sejenisnya

Pencegahan gigitan nyamuk maupun serangga lain sangatlah penting mengingat beberapa penyakit bisa menular melalui gigitan nyamuk atau serangga seperti penyakit demam kuning, Japanese ensefalitis dan dengue. Penyakit-penyakit ini tidak ada obatnya.

Cara Pencegahan Umum

  • Anak-anak harus tidur diruangan ber-AC, jendela yang bisa ditutup atau jika tersedia menggunakan kelambu.
  • Jaring pencegah nyamuk harus digunakan pada tas bawaan anak
  • Pakailah celana panjang dan baju panjang selama aktivitas di luar ruangan.
  • Pakaian yang dipakai bisa direndam permetrin sehingga serangga tidak akan mendekati

Penggunaan Repellen

  • Produk yang mengandung minyak eukaliptus lemon tidak boleh digunakan pada anak < 3 tahun
  • Produk yang digunakan harus jelas batasan usianya
  • AAP merekomendasikan produk yang mengandung DEET tidak boleh digunakan pada bayi < 2 bulan
  • Untuk bayi < 2 bulan gunakan cara yang lain selain repellen
  • Repellen hanya boleh digunakan untuk kulit yang terekspos, tidak boleh pada kulit yang terluka atau teriritasi
  • Jangan biarkan anak mengolesi sendiri. Hindari pengolesan repelen pada mata, mulut dan telinga.
  • Jangan mengoles kulit di bawah baju. Tidak perlu tebal-tebal, cukup sampai serangga menyingkir saja
  • Setelah tidak diperlukan, segera cuci kulit dengan air dan sabun.

Produk yang mengandung repellen dan tabir surya biasanya tidak direkomendasikan karena penggunaannya berbeda.

Infeksi dari Tanah

Anak-anak lebih sering kontak dengan tanah atau pasir dibandingkan orang dewasa oleh karena itu anak-anak lebih sering terinfeksi parasit yang terdapat dalam tanah termasuk cacing tanah.

  • Anak-anak harus memakai alas kaki dan sebaiknya dihindari berkontak langsung dengan tanah
  • Pakaian jangan dikeringkan di tanah. Pakaian harus disetrika terlebih dahulu untuk mencegah kontaminasi larva

Gigitan Binatang dan Rabies

Rabies lebih sering pada anak daripada orang dewasa karena anak lebih banyak kontak dengan binatang. Selain itu mereka lebih sering digigit di kepala atau leher sehingga cederanya lebih serius.

  • Sebaiknya anak-anak tidak bermain-main dengan binatang yang tidak dikenal dan segera memberitahu orang tua jika tergigit binatang
  • Gigitan mamalia harus dicuci dengan air dan sabun sampai bersih. Anak perlu dievaluasi apakah membutuhkan profilaksis rabies atau tidak. Selain anjing, kelelawar juga dapat menularkan rabies.

Perjalanan Udara

Perjalanan cukup aman untuk anak-anak, meskipun demikian ada beberapa hal yang harus diperhatikan

  • Anak dengan penyakit paru atau jantung kronik mempunyai resiko kekurangan oksigen selama penerbangan, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
  • Anak-anak harus tetap di tempat duduknya selama perjalanan udara karena beresiko untuk mendapat trauma jika dibiarkan tidak terjaga.
  • Anak usia < 1 tahun harus duduk menghadap ke belakang dengan sabuk pengamannya, > 1 tahun boleh menghadap ke depan dengan sabuk pengaman yang sesuai, sementara jika beratnya sudah lebih dari 20 kg boleh menggunakan sabuk pengaman pesawat terbang.
  • Penyesuaian tekanan di dalam telinga pada bayi dan anak dapat dilakukan dengan menyusui bayi atau lewat botol, mengunyah permen karet pada anak besar. Antihistamin dan dekongestan tidak terbukti menguntungkan.
  • Tidak ada bukti perjalanan udara memperberat otitis media.
  • Jet lag sangat mungkin terjadi. Setelah tiba, anak-anak sebaiknya melakukan aktivitas selama hari masih terang untuk membantu penyesuaian.

Kecelakaan

Kecelakaan kendaraan merupakan penyebab utama kematian pada anak saat perjalanan

  • Anak < 20 kg harus duduk menggunakan car seat dan sabuk pengaman yang sesuai
  • Sebaiknya anak duduk menghadap ke belakang
  • Di negara berkembang, mungkin sabuk pengaman yang menghadap ke belakang kurang tersedia.

Tenggelam

Tenggelam adalah penyebab kematian terbanyak kedua pada anak.

  • Anak selalu harus disupervisi dengan ketat
  • Sebaiknya membawa jaket pengaman atau pelampung sendiri
  • Alas kaki pelindung juga harus dipertimbangkan untuk menghindari cedera kaki

Schistosomiasis merupakan resiko di daerah endemik, sebaiknya anak-anak tidak berenang di air segar yang tidak diklorin.

Cedera Tekanan

Baik anak maupun orang dewasa sama-sama berpotensi terhadap cedera tekanan. Anak kecil yang belum bisa bicara menunjukkan gejala yang tidak spesifik, seperti kehilangan nafsu makan dan iritabel. Mereka bisa rewel dan mengalami perubahan pola tidur dan aktivitas. Anak yang lebih besar mungkin mengeluh sakit kepala dan sesak napas.

Jika dicurigai demikian, segera bawa anak ke tempat dengan tekanan yang lebih rendah untuk mengevaluasi apakah ada perbaikan atau tidak.

Sengatan Matahari

Sengatan matahari dan luka bakar sebelum usia 15 tahun berhubungan erat dengan melanoma dan kanker kulit. Ekspose terhadap sinar UV paling tinggi pada khatulistiwa, pada tekanan tinggi, siang hari (pukul 10 pagi sampai 4 sore) dan di daerah cahaya dipantulkan air dan salju.

  • Tabir surya direkomendasikan untuk anak > 6 bulan. Tabir surya dipakai hanya jika dibutuhkan dan harus segera dioleskan kembali setelah berkeringat dan ekspos terhadap air.
  • Bayi di bawah usia 6 bulan lebih rentan karena kulitnya tipis dan sensitive. Sebaiknya selalu berada di tempat yang teduh dan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh. Tabir surya minimal dapat dioleskan pada tangan dan wajah.
  • Pakailah pakaian renang yang memiliki efek tabir surya
  • Topi dan kaca mata juga mengurangi resiko pada kulit dan mata

Kotak Obat Anak untuk Perjalanan

Selain yang sudah dibahas sebelumnya, juga perlu dipertimbangkan:

  • Makanan dan minuman yang aman
  • Sapu tangan yang aman bagi anak
  • CRO
  • Spuit tanpa jarum
  • Popok dan krim untuk ruam popok.
  • Obat yang diminum secara teratur
  • Obat lain sering digunakan, misalnya paracetamol (Yoga)

Referensi: Traveler’s Health – Yellow Book

Share artikel ini: