Mungkin ada dari teman, saudara, atau pengasuh yang memiliki keperihatinan terhadap perkembangan seorang anak, tapi tidak yakin mengenai cara yang tepat untuk mengutarakan kekhawatiran yang dimiliki kepada orangtua dari anak tersebut. Tentunya penting untuk menindaklanjuti kekhawatiran tersebut, melakukan intervesi segera dan tepat, namun demikian hal ini bisa jadi sulit dilakukan jika tidak menggunakan pendekatan yang tepat.

Dalam artikel ini akan dijabarkan mengenai daftar Do’s and Don’ts (apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan) yang diambil dari pengalaman dari beberapa orangtua pada saat melakukan pendekatan kepada orangtua lain, sehubungan dengan perkembangan anak tersebut, seperti:

  • Menjadi pendengar yang baik bagi orangtua sang anak, dimulai dengan mendengarkan observasi yang mereka lakukan dan mendengarkan kekhwatiran yang mereka rasakan
  • Selalu bersifat “supportive”, tidak pernah menghakimi
  • Menghindari jargon, ‘melabelkan’ anak, atau menggunakan terminologi
  • Selalu bersikap positif, dan berusaha menekankan bahwa tidak terjadi sesuatu yang ‘serius’ pada sang anak

Tentu saja tidak ada orangtua yang ingin mendengar bahwa ada hal yang perlu dikhawatirkan terhadap sang anak, apalagi hal tersebut berkaitan dengan tahap-tahap perkembangannya. Pada dasarnya, setiap orangtua berusaha untuk melindungi anaknya. Tapi, jika anak tersebut tidak berkembang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan (developmental milestones), atau malah perkembangannya menujukkan indikasi yang bisa dikategorikan sebagai “red flags”, maka penting untuk segera melakukan pengecekan pada sang anak. Supaya ini terjadi, banyak teman, kakek/nenek, ataupun dokter yang merasa dirinya menjadi bagian dan memiliki peran untuk melakukan diskusi dengan orangtua mengenai pengecekan perkembangan anak tersebut.

Keterlambatan dan gangguan perkembangan pada anak masih kurang dipahami dengan baik pada masyarakat kita. Baru sedikit orang yang paham mengenai apa yang dimaksud dengan gangguan perkembangan itu sendiri, apalagi mengerti mengenai pilihan-pilihan dalam pengobatan dan invtervensinya. Mungkin banyak dari kita yang bisa mengenali (secara kasat mata) perbedaan fisik yang dimiliki oleh anak-anak dengan Cerebral Palsy atau Down Sydrome. Tapi ternyata, kita tidak menyadari adanya gangguan perkembangan anak yang sifatnya lebih tersembunyi seperti autisme dan bagaimana gangguan perkembangan tersebut tercermin/terlihat pada bayi atau anak-anak yang mengalami gangguan tersebut.

Kurangnya pengetahuan mengenai gangguan perkembangan anak juga diperburuk dengan adanya stigma. Stigma maksudnya adalah ketakutan akibat kurangnya pengetahuan itu sendiri. Ketakutan itu menyebabkan orangtua enggan untuk lebih jauh lagi bertanya atau perduli terhadap perkembangan si anak.  Ketakutan ini juga menyebabkan orang-orang yg dekat dengan orangtua – pengasuh, kakek/nenek, atau teman – merasa sungkan untuk menyatakan kekhawatiran mereka kepada orangtua si anak.

Beberapa pegasuh/caregivers, bahkan tenaga medis, mungkin memiliki kekhawatiran mengenai “pelabelan” anak. Pada dasarnya, diagnosa tidak bersifat “melabelkan” – diagonosa yang sesuai dapat memdeskripsikan keterbatasan seorang anak, tapi tidak pernah boleh mendefinisikan anak tersebut, maka diagnosa yang spesifik tersebut dapat membantu si anak untuk mendapatkan akses terhadap  program edukasi yang sesuai dan terapi yang tepat, seperti terapi okupasi, terapi wicara, atau terapi fisik.

Identifikasi dan intervesi dini akan menyempurnakan inti dalam pola asuh orangtua (parenting), yaitu untuk mencari tahu keunikan setiap anak dan memenuhi kebutuhan berbeda setiap anak dalam rangka mempersiapkan mereka memasuki masa dewasa. Kebutuhan seoarang anak yang dimengerti secara penuh, dengan melihat kelebihan dan kekurangan anak tersebut, akan memberikan kesempatan si anak untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Tujuan akhirnya adalah memberikan kesempatan anak untuk memgembangkan potensi diri seutuhnya.

Jika kita merasa khawatir mengenai perkembangan seorang anak, dan mau mengutarakan hal ini kepada orangtua si anak, maka ada beberapa daftar Do’s and Don’ts:

Lakukan:

1. Mengatur sedemikian rupa – waktu dan tempat – supaya pembicaraan sukses

Ibu saya mengajak saya untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks. Dalam perjalanan, beliau mengungkapkan kekhwatiran beliau tentang (perkembangan) anak saya, yang semakin meyakinkan kekhawatiran saya sendiri mengenai perkembangan anak saya. Setelah itu, kami berdua saling bertangisan. “

Memilih waktu dan tempat yang tepat menjadi aspek yang penting dalam memulai pembicaraan. Coba untuk bebicara empat mata dan dari hati ke hati di waktu yang lowong dan tidak ada interpusi. Dedikasikan waktu yang cukup. Penting juga untuk memahami bahwa emosi si orangtua tidak bisa diprediksi. Bersiaplah untuk memberikan bantuan (jika diperlukan oleh si orangtua).

2. Memulai sesuatunya dengan melakukan observasi, meberikan pertanyaan-pertanyaan, dan menunjukkan kepedulian kepada orangtua si anak.

“Sangat penting untuk menunjukkan bahwa kita menghargai pandangan orangtua; dimulai dengan memahami apa yang menjadi kekhawatiran mereka, dan kepedulian terhadap masalah yang mungkin akan dihadapi.”

Penting untuk menilai di mana posisi orangtua dalam melihat dan memahami perkembangan anak mereka, sebelum kita mengutarakan kekhawatiran pada mereka (mengenai subjek ini). Kemungkinan orangtua Si anak sudah menyadari ada masalah pada perkembangan si anak, tapi tidak bisa mengutarakan dengan tepat apa yang mereka rasakan. Mulai memberikan pertanyaan – dengan berhati-hati dan tidak menyinggung perasaan si orangtua – yang dapat membuat orangtua tersebut merasa nyaman untuk menceritakan hasil observasi, pertanyaan-pertanyaan, atau kekhawatiran yang sebenarnya sudah mereka rasakan. Baru kemudian kita utarakan juga hasil observasi kita mengenai perkembangan anak (dari orangtua tersebut.) Dengan melakukan hal ini, orangtua dan kita (yang juga merupakan orangtua seorang anak) dapat saling bertukar pikiran dan malah bahkan ‘mengesahkan’ kekhawatiran dan ketakutan mereka.

3. Posisikan diri anda pada posisi orangtua si anak. Bersikap mendukung, dan tidak menghakimi.

“Jika anda ingin berbicara kepada si orangtua, lakukanlah dengan cara yang baik, penuh kasih sayang dan kepedulian. Akan lebih baik jika pembicaraan dimulai dengan memberikan pujian terhadap kelebihan si anak, di mana ditekankan juga bahwa kelebihan anak itu terbentuk karena didukung oleh kemampuan, cinta, dan dedikasi si orangtua kepada anak tersebut.”

Pembicaraan yang paling diingat oleh para orangtua dengan anak yang memiliki kebutuhan khusus, adalah pembicaraan yang terjadi pada saat pertama kali kekhawatiran itu diutarakan (oleh pihak lain). Pendekatan yang penuh empati, selanjutnya membentuk rasa percaya, dan rasa pengertian yang ditunjukkan – dan bukan dengan menghakimi – akan membuat orangtua merasa lebih baik. Tunjukkan bahwa kita bersikap terbuka dengan intonasi dan perilaku yang penuh kepedulian tersebut. Apapun hasil akhirnya, dalam jangka panjang, orangtua akan mengingat dan menghargai diskusi yang dilakukan dengan empati dan rasa sayang.

4. Fokus pada ‘milestones’ perkembangan anak, menggunakan indaktor yang absolut, dan fokus untuk ‘mengesampingkan’ terjadi sesuatu yang serius.

“Subjek ini sifatnya sangat sensitif, sehingga sulit untuk membuatnya masuk akal. Dengan ‘milestones’, maka masalah akan terlihat objektif.”

Berikan orangtua bahan bacaan yang sifatnya positif seperti daftar-pembanding dari ‘milestones’ perkembangan anak. Dengan melihat daftar-pembanding ini diharapakan dapat memberikan orangtua sesuatu yang bisa mereka pikirkan dan pertimbangkan (mengenai perkembangan anak mereka), tanpa memberikan label apapun kepada sang anak.  Daftar-pembanding ini juga membantu memulainya pembicaraan antara si orangtua dan dokter serta memberikan informasi spesifik mengenai apa saja kelebihan si anak sekaligus area yang masih perlu untuk diperbaiki.

5. Memberikan sumber referensi kepada si orangtua atau pengasuh. Ada orangtua yang mendapatkan pemahaman dengan cara seperti ini.

“Seingat saya, saya pernah melihat sebuah situs web yang menggambarkan keunikan anak saya, yang jujur saja, sifatya adalah perilaku yang menggangu. Seberapapun saya ingin merasa bahwa saya salah dalam menilai perilaku anak saya, semakin saya membacanya, semakin saya mengerti memang sesuatu telah terjadi”

Mendapatkan informasi mengenai gangguan perkembangan anak melalui bacaan, apakah itu literatur atau melalui situs web, bisa membantu orangtua untuk mencocokkan perilaku si anak dengan materia yang terdapat dalam bacaan tersebut, apakah mengalami gangguan perkembangan atau tidak. Dengan referensi bacaan inipun dapat memberikan deskripsi yang objektif dari bentuk-bentuk umum (dari suatu gangguan perkembangan) yang membuat orangtua bisa mengenali dan menyadari adanya kekhawatiran pada perkembangan si anak, sesuai dengan pemahaman yang mereka miliki.

6. Menekankan pentingnya indentifikasi dini dan intervensi”

“Kuncinya adalah intervensi dini. Beritahukan orangtua bahwa semakin cepat mengetahui adanya keterlambatan/gangguan dari perkembangan pada anak, semakin mudah untuk membantu anak tersebut.. Jika tidak diambil tindakan cepat, kemungkinan akan lebih lama lagi untuk membantu kemajuan perkembangan si anak”

Salah satu cara untuk menilai adanya kekhawatiran dalam perkembangan si anak adalah jika terlihat tanda-tanda pada fisik di mana si anak mengalami kesakitan yang sifatnya serius dan terus-menerus, seperti asma, maka kita harus segera melakukan pemeriksaan sesegera mungkin untuk mengeliminasi kemungkinan bahwa si anak mengidap pernyakit tersebut. Jika memang ada masalah dengan kesehatan si anak, maka akan lebih memperparah keadaan jika anak tersebut tidak mengalami pemeriksaan. Sedangkan untuk keterlambatan perkembangan, seperti keterlambatan pada perkembangan bahasa, perilaku, interaksi sosial, masalahnya berebeda. Jika tidak mendapatkan intervesi yang tepat waktu, gangguan tersebut akan mengalami pemburukan.

Dan yang paling membantu intervensi dini ini berhasil adalah meningkaktkan kualitas hidup si anak dan keluarga, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga kehidupan akan lebih baik ketika intervensi itu dilakukan.

7. Miliki rasa percaya diri ketika mengutarakan kepedulian adalah hal yang perlu anda lakukan. Bagian tersulitnya adalah bagaimana menemukan kalimat yang tepat dan memulai pembicaraan.

“Ketika anak saya berumur 18 bulan dan belum berbicara, teman saya berkata bahwa saya harus segera membawanya ke dokter anak. Harus saya akui, saya merasa tersinggung diperlakukan seperti itu. Tetapi ketika saya menyadari bahwa dia memberikan nasehat yang benar, saya merasa berterima kasih. Kebanyakan orang hanya diam saja melihat keadaan tersebut.  Walaupun dia tidak bisa mengutarakan nasehatnya dengan cara yang halus, tapi dia membuat saya bertindak.”

Cobalah berlatih terlebih dahulu mengenai cara dan apa yang ingin ada bicarakan. Utarakan hasil observasi anda yang telah memberikan kesimpulan bahwa adanya kekhawatiran dengan cara yang supportive, dan penuh kepedulian. Hal ini dapat membantu anda untuk mengurangi kegelisahan anda sekaligus memberikan rasa percaya diri untuk memulai pembicaraan dari hati ke hati dan mendapatkan hasil akhir yang positif.

8. Dengan menyatakan kekhawatiran anda, anda dapat membantu orangtua untuk memvalidasi apa yang selama ini mereka takuti atau sulit mereka utarakan.

“Saya merasa nyaman dengan penyangkalan saya selama ini. Saya hanya berpikir, ‘oh, semua ini akan berlalu’. Tetapi ketika adik perempuan saya menyatakan kekhawatirannya, pernyataan dia menyimpulkan apa yang selama ini saya takutkan. Kadang-kadang saya perlu seseorang untuk ‘membangunkan’ saya dari zona nyaman,  dan membuat saya bergerak.”

Kadang di bawah sadarnya, orangtua memiliki kekhawtiran akan ‘sesuatu’ pada perkembangan anaknya, tapi mungkin mereka takut untuk menyatakannya. Yang mereka butuhkan mungkin hanya mendengar bahwa ada orang lain yang juga khawatir, sehingga meyakinkan kecurigaan yang mereka rasakan selama ini.  Hal ini membuat orangtua merasa tidak sendiri dan memberikan dorongan bagi orangtua untuk melakukan tindakan selanjutnya untuk si anak.

JANGAN LAKUKAN:

1. Jangan menyingkirkan perasaan khawatir orangtua.

“Dengarkan dan observasi saja. Berikan waktu yang cukup untuk mendengarkan si orangtua dan lakukan observasi terhadap si anak, sebelum anda melakukan atau mengatakan sesuatu.”

Jika orangtua menyatakan kekhawatirannya langsung kepada anda, anda memiliki kesempatan yang unik untuk membantu mereka. Kadang orangtua hanya ingin didengarkan untuk menyalurkan keperihatinan mereka dalam bentuk kata-kata dan tindakan.

2. Jangan membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Setiap anak itu unik.

“Saya pernah mendengar cerita mengenai anak yang belum berbicara dan suatu waktu, mulai bicara dengan suara yang bisa dibilang cukup lantang. Saya juga mendengar bahwa Einstain termasuk anak yang telat berbicara, dan cukup membuat saya merasa nyaman. Walaupun saya mendengar cerita-cerita yang cukup berarti, mereka tidak mampu mebuat saya bergerak maju untuk membantu anak saya. Hal ini malah semakin memberikan rasa ragu dalam diri saya.”

Kadang teman atau keluarga menceritakan cerita yang bertujuan memberikan rasa nyaman kepada orangtua dengan menceritakan anekdot mengenai orang-orang yang sebelumnya pernah mengalami keterlambatan/gangguan dalam perkembanganya. Alih-alih memberikan efek nyaman kepada orangtua yang diharapkan dan mengesampingkan kekhawatiran, cerita teserbut malah membuat orangtua tidak bisa menunjukkan keunikan si anak dan malah menghilangkannya. Atau, cerita-cerita tersebut malah membuat orangtua yang sudah memiliki keraguan, semakin  merasa tidak nyaman. Apapun alasannya, menceritakan anekdot tersebut tidak memberikan manfaat. Lebih utama adalah memikirkan apa yang terjadi pada si anak tersebut.

3. Jangan menggunakan label, jargon, atau terminologi.

“Ketika guru Playgroup tempat anak saya bersekolah menyatakan bahwa anak saya membutuhkan ‘pendidikan khusus’, saya berpikir bahwa sang guru menganggap anak saya seorang yang terbelakang. Saya tidak mempedulikannya. Begitupun ketika dokter mengatakan bahwa dia pernah ‘melihat anak-anak seperti anak saya’, saya berhenti mendengarkan.”

Mungkin menakutkan bagi orangtua jika menyebutkan gangguan perkembangan tersebut dengan kata-kata yang spesifik. Banyak ganguan perkembangan disalahartikan dan menyebutkan gangguan tersebut secara harfiah dapat memberikan rasa takut yang luar biasa kepada orangtua. Kadang, memberikan artikel atau buku kepada orangtua tersebut mampu membuat orangtua tersebut merasa berhubungan/terkait dengan masalah gangguan perkembangan.

4. Jangan menakuti orangtua; bersikaplah positif.

“Dokter memberitahukan saya bahwa pengasuh di tempat penitipan anak saya memiliki kekhwatiran mengenai anak saya, tapi saya tidak setuju. ‘Bukankah sesuatu yang wajar jika anak berbeda dengan anak yang lain? Mengapa anak saya diberikan label?’ Saya tidak pernah lupa kata-kata sang dokter yang begitu sederhana: ‘Periksalah anak anda, untuk menyingkirkan  kemungkinan itu. Anda tidak akan mengalami kerugian apapun.’ Jika anak saya tidak mendapatkan bantuan lanjut karena gangguan teridentifikasi di usia yang dini, mungkin dia – lebih tepatnya, KAMI – tidak akan merasa sebaik sekarang.”

Jika kita dapat mendorong orangtua untuk bertemu dengan dokter anak untuk mendiskusikan kekhawatiran mengenai perkembangan sang anak, maka akan ada dua hasil akhir, yang dua-duanya memberikan hasil yang positif. Jika kekhawatiran itu dapat disingkirkan (dengan pemeriksaan), maka orangtua bisa tenang kembali. Jika memang kekhawatiran itu benar adanya, maka mencari bantuan melalui evaluasi dan referensi akan membantu keluarga untuk kembali ke jalur perkembangan yang sehat.

Tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan kepada kekhawatiran-kekhawatiran tersebut. Keadaan malah akan lebih baik.

Ini adalah pesan positif di mana keluarga dan teman bisa berbagi kepada orangtua dan mendorong mereka untuk mencari bantuan. (RK)

Sumber:

“Sharing Concerns , Parent to Parent “ , http://www.firstsigns.org/concerns/parent_parent.htm

Share artikel ini: