Resistansi antimikroba (AMR) tetap menjadi ancaman besar bagi kesehatan global, sementara kemajuan penanganannya  masih  berjalan lambat. Laporan Lancet Series 2024 menyatakan pentingnya vaksinasi, kebersihan, air bersih, dan pengendalian infeksi sebagai langkah utama dalam menekankan penyebaran AMR, terutama di negara yang berpenghasilan rendah sampai menengah. Selain itu, pengembangan obat mikroba baru juga sangat dibutuhkan untuk  menghadapi patogen prioritas dan penyakit menular terabaikan. AMR berdampak luas pada kelompok rentan seperti bayi baru lahir, lansia, dan penderita penyakit kronis, namun pada dasarnya semua orang beresiko karena penyebaran mikroorganisme resisten yang tidak mengenal batas wilayah. Para penyitas AMR mengalami beban medis, finansial, dan psikologis yang berat akibat sistem kesehatan yang belum mampu memberikan pencegahan, diagnosis, dan pengobatan yang efektif. Mereka menyatakan agar pengalaman mereka diakui dan dilibatkan dalam perumusan kebijakan global. WHO telah membentuk Task Force of AMR Survivors untuk memperkuat suara para penyitas di bidang kebijakan, penelitian, dan advokasi publik. Artikel ini menekankan pentingnya pendekatan yang berfokus pada manusia (people centered approach), kolaborasi  lintas  sektor, dan aksi nyata di forum internasional seperti Sidang Umum PBB 2024 dan Konferensi Tingkat Tinggi Menteri tentang AMR di Riyadh guna memperkuat respons global terhadap resistansi antimikroba.

Mari kenali para pahlawan penyintas AMR

Gabriella Balasa, Amerika Serikat

Perempuan muda dari Virginia- Amerika Serikat dengan fibrosis kistik yang mengalami infeksi kronis oleh Pseudomonas aeruginosa yang resisten berbagai obat (MDR)

 

Anthony Darcovich, Canada / Amerika Serikat

Konsultan manajemen di New York yang harus mengalami beberapa kali operasi di bahu akibat infeksi kuman yang resisten terhadap Klindamisin dari operasi pertamanya.

 

Tori Kinamon, Amerika Serikat

Juara senam muda dari Carolina Utara-Amerika Serikat mengalami infeksi Staphylococcus aureus yang resisten terhadap Metisilin.

 

Rob Purdle, Amerika Serikat

Suami sekaligus ayah berasal dari California – Amerika Serikat mengalami infeksi Koksidioidomikosis yang menyebar ke sistem saraf pusatnya.

 

Susan Charles, Inggris

Seorang konsultan komunikasi sains, merawat ibunya yang menderita penyakit paru kronis dan infeksi berulang yang resisten terhadap antibiotik,  serta khawatir pilihan obatnya semakin menipis.

 

Vanessa Carter, Inggris/ Afrika Selatan

Perempuan Afrika Selatan yang berhasil meengatasi infeksi tulang oleh S.aureus yang resisten terhadap metisilin yang menyebabkan wajahnya rusak.

 

Brandon Jaka, Zimbabwe

Siswa muda Zimbabwe yang lahir dengan HIV, terlambat dan mengalami infeksi HIV yang resisten terhadap obat.

 

Mashood Lawal, Nigeria

Direktur farmasi sebuah RS di Nigeria yang rawat inap karena batu ginjal, lalu terkena covid-19 dan infeksi saluran kemih oleh E.coli yang resisten berbagai obat (MDR).

 

Bhakti Chavan, India

Mahasiswa muda India yang mengalami infeksi TBC yang resisten terhadap obat TBC, harus berjuang selama 2 tahun untuk mencari pengobatan.

 

John Kariuki, Kenya

Dokter hewan Kenya yang harus mengalami beberapa kali operasi pinggul karena infeksi kuman yang resisten berbagai obat (MDR) yang diperoleh saat di Rumah Sakit.

 

Felix Liauw, Indonesia

Ayah muda ini terpaksa kehilangan bayinya. Saat rawat pertama, keliru dinyatakan infeksi berat. Perawatan berikutnya, bayi justru terkena infeksi bakteri rumah sakit yang sudah resisten dan tidak bisa dibasmi antibiotik super kuat sekalipun.

 

Diterjemahkan oleh: Putra Ramadhan

Referensi:

  • www.thelancet.com dipublikasi online Mei 23, 2024
  • https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01030-4
Share artikel ini: