Salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia saat ini adalah bakteri yang resisten (kebal) terhadap antibiotik. Data WHO, yang disampaikan pada akhir Januari 2018, melalui program GLASS (Global Antimicrobial Surveillance System) menyebutkan bahwa sekitar 500.000 orang terinfeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik di 22 negara di dunia. Salah satu pemicu makin berkembangnya bakteri yang resisten antibiotik adalah penggunaan antibiotik yang tidak bijak, baik pada manusia maupun hewan khususnya ternak.

Terapi dan pengobatan pada hewan sering kali juga menggunakan antibiotik yang sama dengan yang dikonsumsi oleh manusia. Antibiotik pada peternakan dengan skala industri digunakan secara rutin untuk memacu pertumbuhan berat badan, mencegah munculnya penyakit yang diakibatkan karena pola makan dan sanitasi lingkungan kandang yang buruk serta populasi hewan dalam kandang yang padat. Chain Reaction 2 menyebutkan : 96% pemberian antibiotik tersebut melalui makanan atau minuman. Cara pemberian tersebut menjadi salah satu kunci penyebaran bakteri yang resisten antibiotik (superbugs). Penyebaran bisa terjadi melalui udara, air, tanah, daging ternak maupun para pekerja peternakan.

Superbugs ini dapat menyebabkan kita sakit, atau menularkan sifat resisten  terhadap antibiotiknya pada bakteri lain, yang pada akhirnya menyebabkan kita sakit. WHO pada November 2015 telah merekomendasikan untuk memastikan penggunaan antibiotik pada hewan hanya untuk mengobati dan mengendalikan infeksi penyakit saja.

Super-superbugs

Ancaman lebih mengerikan sudah tampak di depan mata, yakni munculnya super-superbugs. Super-superbugs ini kebal terhadap semua antibiotik modern yang ada di dunia ini. Pada Mei 2016 di Amerika Serikat, ditemukan suatu gen yang bisa menularkan (mentransmisikan) daya kebal terhadap colistin dari satu bakteri ke bakteri lain. Colistin adalah antibiotik terakhir, senjata pamungkas yang digunakan saat semua antibiotik lain gagal. Gen ini ditemukan pada bakteri E.coli dari seorang pasien di Pennsylvania dan dalam sediaan yang diambil dari babi yang disembelih di rumah potong hewan (RPH). Gen yang sama ditemukan lagi pada sediaan babi yang kedua di bulan Juni 2016. Pada bulan yang sama, gen tersebut ditemukan juga pada manusia (pasien yang kedua) di Amerika Serikat.

Muncul dan menyebarnya gen yang resisten terhadap colistin ini menggarisbawahi pentingnya pembatasan pemakaian antibiotik secara rutin pada hewan ternak sesegera mungkin. Bila tidak dibatasi maka penyebaran superbugs, bahkan super-superbugs, akan terjadi lebih cepat dengan jumlah berlipat ganda. Dan saat bakteri-bakteri super itu menginfeksi manusia, tidak ada antibiotik yang bisa mengatasinya.

Partisipasi Semua Pihak

Sebelum ancaman superbug ini makin menguat, maka semua pihak perlu berpartisipasi untuk melakukan langkah pencegahan.

Masyarakat bisa berpartisipasi dengan mengkonsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter pada kasus-kasus infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Selain itu sedapat mungkin memilih daging dari hewan ternak yang dipelihara tanpa pemberian rutin antibiotik.

Pengusaha ternak memegang peranan peting dalam pembatasan penggunaan antibiotik pada hewan ternaknya. Gunakan antibiotik hanya untuk kasus infeksi penyakit bakteri sesuai anjuran dokter hewan.

Pemerintah perlu berpartisipasi aktif dengan membuat peraturan dan menegakkan aturan pembatasan penggunaan antibiotik rutin pada hewan ternak, antara lain dengan melarang penggunaan antibiotik untuk memacu pertambahan berat badan dan pencegahan penyakit, dan menghimpun data kasus-kasus penyakit yang menggunakan antibiotik (terutama yang juga digunakan pada manusia), jumlah pemakaian antibiotik dan spesies hewan yang mengkonsumsinya. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah melakukan pengawasan terhadap kemungkinan munculnya bakteri-bakteri resisten antibiotik pada bahan baku makanan yang dikonsumsi manusia.

Mari kita bijak dalam memilih bahan makanan yang kita konsumsi demi kesehatan kita! (syl)

Sumber:

1. Chain Reaction 2, 2016

2. WHO

Share artikel ini: