Belakangan ini, banyak kita baca atau dengar berbagai media massa merilis kejadian luar biasa (KLB) difteri. Salah satu penyakit yang seharusnya sudah bisa dicegah dengan vaksinasi. Tak tanggung-tanggung, dua daerah dikategorikan KLB difteri. Padang dan kabupaten Bandung.
Dilansir dari laman Republika.co.id tanggal 4 Februari 2015, sudah ada 7 anak terinfeksi difteri di Padang dan dua diantaranya meninggal. Di kabupaten Bandung, sudah ada 6 anak terinfeksi difteri dan satu diantaranya meninggal, seperti dilansir Tempo.co tanggal 28 Januari 2015.
Bila ditelisik di tahun-tahun sebelumnya, difteri terus menjadi momok di beberapa daerah lain. Sebut saja, Madura, Madiun, Pontianak, dan Banjarmasin. Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan, tahun 2004 terdapat 106 kasus dan 2008 ada 123 kasus difteri di Indonesia.
Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri ditularkan melalui droplet (percikan liur) orang yang terinfeksi saat batuk atau bersin. Setelah masa inkubasi 2-5 hari, toksin yang dihasilkan oleh bakteri akan membentuk selaput putih keabuan (pseudomembran) di saluran pernapasan. Akibatnya, jalan napas tersumbat dan pasien sesak napas. Kemudian, toksin terserap dan bersirkulasi ke dalam darah sehingga mengakibatkan kerusakan pada berbagai organ beberapa minggu kemudian, tersering adalah jantung (1 minggu) dan saraf (3-5 minggu). Di jantung, kerusakan berupa gangguan irama hingga gagal jantung. Sementara itu, komplikasi saraf berupa kelumpuhan (paralisis) pada otot mata, alat gerak, hingga otot diafragma yang berperan penting pada proses bernapas. Studi di Thailand, seperti dimuat di Southeast Asian J Trop Med Public Health 2002, melaporkan komplikasi jantung lebih sering terjadi dan fatal daripada saraf (10% vs 4,7%).
Infeksi difteri sangat menular dan angka kematiannya tinggi. Dari 10 orang yang diterapi, satu orang masih bisa meninggal. Bila tidak diterapi, risiko kematian lebih besar yaitu 50% atau 1 dari 2. Penegakkan diagnosis difteri didasarkan pada klinis dan pemeriksaan laboratorium. Orangtua perlu segera membawa anak ke dokter ketika mendapati anak sesak napas, nyeri tenggorokan disertai bunyi mengorok (stridor). Ketika klinis sudah dicurigai difteri, pengobatan harus segera dilakukan tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Dokter akan mengambil sampel dari usapan tenggorok. Kemudian, sampel dikultur dan diidentifikasi kumannya beberapa hari kemudian.
Tata laksana difteri berupa pemberian antitoksin dan antibiotik. Pasien juga perlu diisolasi untuk mencegah penularan ke pasien lain. Sekitar 48 jam pasca antibiotik, biasanya pasien sudah tidak berpotensi menularkan lagi, namun tetap dipastikan terlebih dahulu. Anggota keluarga lain perlu diskrining apakah mereka menderita atau karier (pembawa kuman difteri tetapi tidak bergejala).
Imunisasi adalah satu-satunya pencegahan difteri. Kejadian luar biasa difteri ditengarai oleh cakupan imunisasi DTP yang rendah. Diperkeruh lagi dengan gagasan antivaksin dari kelompok tertentu. Seorang anak harus mendapat imunisasi DTP sebanyak 5x sebelum usia 6 tahun yaitu usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15-18 bulan, dan 4-6 tahun. Selanjutnya, booster diberikan satu kali pada usia 11-12 tahun. Orang dewasa pun diharapkan mendapat imunisasi ulangan setiap 10 tahun.
Tak dipungkiri, ada orangtua yang khawatir dengan efek samping dari imunisasi DTP seperti demam tinggi, rewel, menangis lama, dan kejang. Akan tetapi efek samping tersebut tidaklah sering. Sebagai contoh, menangis selama lebih dari 3 jam terjadi pada 1:1000 anak pasca DTP; kejang 1:14000; dan demam tinggi 1:16000.
Hal lain yang perlu disorot adalah kepastian terjaganya rantai dingin (cold chain) selama proses distribusi vaksin dari produsen ke konsumen. Studi di Cianjur, seperti dilansir dari Sari Pediatri 2011, masih menemukan petugas puskesmas kecamatan menyimpan makanan dan minuman di dalam kulkas vaksin. Akibatnya, kulkas sering dibuka-tutup dan suhu tidak optimal. Imunisasi DTP akan rusak bila disimpan di bawah suhu 2oC atau lebih dari 8oC.
Semoga dengan KLB ini, ada hikmah yang bisa dipetik. Bila tidak, bukan tak mungkin akan ada lagi kasus difteri lagi di tahun akan datang. Lagi…dan lagi.(Felix)
