oleh: Windhi Kresnawati

Berikut adalah contoh-contoh mitos yang keliru di masyarakat dan penjelasan faktanya :

Tidak memberikan makanan hewani sampai usia 9-10 bulan karena kuatir alergi.

Protein hewani (seperti daging sapi, ayam, telur dan ikan) mengandung tinggi zat besi, energi dan vitamin lainnya untuk mencukupi kebutuhan yang tidak lagi dapat dicukupi oleh ASI saja. Menunda pemberian bahan hewani, meningkatkan risiko kekurangan gizi. Memang sejak tahun 2000, terdapat anjuran untuk menunda pemberian protein hewani dengan alasan kekuatiran terhadap alergi makanan. Naun pada tahun 2008, para ahli menyatakan tidak ditemukan hubungan antara menunda pemberian protein hewani dengan pencegahan alergi. Hal tersebut malah menimbulkan kekurangan gizi. Berikut adalah sara pemberian makanan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi alergi makanan:

  1. Pada prinsipnya pemberian protein hewani dapat dilakukan sejak usia 6 bulan.
  2. Untuk mengenal makanan baru, berikanlah di rumah, jangan di restaurant atau tempat penitipan bayi.
  3. Berikan dalam jumla sedikit lalu pantau apakah terdapat reaksi, kemudian berikan dalam jumlah yang lebih banyak.
  4. Jika terdapat reaksi alergi, konsultasikan dengan dokter.

Pemberian madu pada bayi di bawah 1 tahun masih kontroversial.

Madu merupakan salah satu bahan makanan yang tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 12 bulan. Madu mengandung botulinum toxin yang dapat merusak saraf anak. Secara ilmiah, pemberian madu belum terbukti manfaatnya pada bayi. Selain madu, berikut adalah makanan yang tidak dianjurkan pada usia kurang dari 12 bulan:

–          Makanan bulat yang keras dan berpotensi tersedak (permen, kacang, popcorn, wortel mentah).

–          Susu sapi utuh

Pemberian madu pada bayi sering dipromosikan oleh penjual herbal bukan tenaga kesehatan. Oleh karena itu pemberian madu pada bayi di bawah usia 1 tahun bukan berdasarkan bukti ilmiah yang sahih.

Jangan memberikan bayam karena dapat menyebabkan methemoglobinemia

Makanan yang mengandung nitrat seperti bayam, beet, dan wortel dapat menyebabkan berkuranganya daya ikat oksigen pada darah yang dikenal dengan methemoglobinemia. Risiko tersebut terjadi pada usia bayi kurang dari 4 bulan. Bayam, beet, wortel tetap aman diberikan diatas usia 6 bulan.

Utamakan pemberian buah-buahan agar bayi lebih sehat.

Salah satu prinsip pemberian MPASI adalah padar nutrisi. Buah bukan merupakan sumber energi, protein dan zat besi. Pemberian MPASI sejak awal selalu menerapkan variasi makanan untuk mendapatkan nutrisi yang cukup. Adalah keliru memberikan buah sebagai menu utama MPASI. Buah diberikan sebagai sumber vitamin, variasi rasa, dan bumbu. Memberikan jus buah pada anak sebaiknya mengikuti kaidah berikut:

–          Hanya boleh diberikan pada bayi diatas 6 bulan

–          Berikan jus buah segar bukan “minuman rasa buah”

–          Jangan memberikan jus buah dalam botol susu, melainkan gunakan gelas atau cangkir

–          Posisi buah adalah “snack” bukan MPASI pokok.

–          Maksimal pemberian jus buah adalah 120 mL perhari untuk menghidari anak kenyang namun miskin energi.

–          Menambahkan air putih pada jus buah boleh dilakukan

–          Hindari pemberian buah kalengan untuk bayi di bawah 10 bulan

–          Jangan berikan jus buah sebagai pengantar tidur.

–          Sebaiknya jus buah dipasteurisasi sebelum diberikan kepada bayi

–          Jangan memberikan jus buah sebagai pengganti ASI atau susu formula.

Gunakan 3 atau 4 days rule, saat memberikan satu jenis makanan untuk mengevaluasi adanya alergi makanan.

Penggunaan metode ini dilakukan pada:

–          Bayi dengan risiko alergi yang tinggi (orang tua atau saudara kandung memiliki penyakit atopi seperti dermatitis atopi, rhinitis alergi, atau asma).

–          Makanan yang berpotensi menimbulkan alergi seperti kacang, telur, susu sapi dan ikan.

Kekeliruan yang sering terjadi adalah apabila 4 days rule dilakukan pada semua jenis makanan, akibatnya bayi mendapatkan sedikit variasi makanan dan berisiko kekurangan gizi. Lihat tips di atas bagaimana memberi bayi makanan yang risiko alerginya tinggi. Metode 4 days rule tidak wajib dilakukan.

Untuk membuat rasa lebih enak dan meningkatkan napsu makan anak, garam dan gula dapat ditambahkan pada MPASI

Pemberian tambahan garam dan gula tidak dianjurkan pada makanan anak. Garam membuat kerja ginjal ekstra sedangkan gula berisiko menimbulkan obesitas. Bumbu dapat diperioleh dari buah manis atau ASI jika ingin menambah rasa.

Sumber:

  1. Guidelines for diagnosis and management of food allergy in United States: summary of NIAID-Sponsored expert panel report. J allergy clin immunol. 2010
  2. Patient information: starting solid food during infancy (beyond the basic). http://www.uptodate.com/contents/starting-solid-foods-during-infancy-beyond-the-basics. 2015
  3. AAP Clinical report on infant with methemoglobinemia. Am Fam Physician. 2005
  4. Infant and young child feeding, model chapter for textbooks for medical students and allied health professionals. World Health Organization. 2009
Share artikel ini: