Jakarta, 18 September 2006 jam 21.38

Dear all,
Selamat malam. Apa kabar? Saya mah pegellll semua badan hehehe… soalnya Garuda Jumat delayed, eh kemarin juga delayed… gak jelas alasannya. Waktu Jumat sih katanya pesawatnya rusak… suruh tunggu tanpa diberitahu kepastian berangkat.

Kamis malam terakhir akses internet sebelum sembahyang magrib terus malam gak buka-buka lagi karena siap-siap Solo, ngepak baju, materi ceramah, lalu ada sisa waktu sedikit bikin slidesnya hehehe… anak-anak dah ribut nyuruh tidur jangan terlalu malam.

Baru buka email lagi tadi pagi sambil gedabrutan bikin rundown buat radio Delta, lalu nyeling slide buat Vico besok (hiks, sampai Sabtu sore kok puadat banget ya). Wah ternyata email buanyaak banget… (sebetulnya malam minggu sempat mencoba connect lewat Telkom di hotel… mahal mahal deh batin saya… tapi ya itu… bolak balik connectionnya putus katanya errormbuh gak ngerti errornya apa… tahu dong… saya kan raja gaptek hehehe).

Sejuta rasa berkecamuk saat membaca milis tadi pagi. Mumet jelas. meski sebenarnya saya berencana menulis edisi cinta perihal Melbourne (seri 2), saya juga berniat menulis Pelangi tetapi nanti… kalau dah tenang… Ramadhan biasanya lebih tenang dan nyaman untuk kontemplasi… tapi menyimak perkembangan milis, saya putuskan menyempatkan diri menulis edisi Cinta bertemakan warna.

Warna? Apa maksudnya? Bingung saya… memangnya milis Sehat punya warna? Konotasi warna di email-email beberapa hari belakangan ini menyiratkan suatu “aliran” (sampai muncul istilah mainstream)… Padahal… apa yang kami sosialisasikan di milis adalah pemecahan berdasarkan masalah, penanganan sesuai guidelines. Guideline anak batuk pilek kan beda dengan anak asma, jadi anak batuk pilek bukan asma jangan dikasih obat asma. Dan kalau bicara berdasarkan guideline, di belahan bumi manapun kita berada, kurang lebih sama… tidak akan ada perbedaan yang prinsipil. Jadi bukan soal warna bukan soal mainstream. Dengan mengacu pada guidelines, semuanya menjadi jauh lebih sederhana. Kalau memang mau memakai istilah “warna”… warna guidelines ya sama… gak ada guideline satu penyakit yang warna warni alias beda-beda.

Apabila ini disadari para SP … tentunya tidak akan ada lagi pemikiran bahwa warna Sehat “harus” seragam…

Lalu ada lagi istilah “out of the box“. terus terang saya jadi bingung. Yang dimaksud “box” itu apa? Dan siapa? Yang dimaksud out of the box itu siapa dan seperti apa? Kalau melihat keluar sana… di masyarakat… yang minoritas itu siapa? Praktek yang “lazim” itu seperti apa?Bagaimana? Milis Sehat mensosialisasikan konsep yang tidak lazim?… Padahal… guidelines kan bukan hal yang “tidak lazim”… Bahwasanya medical practices yang berlangsung di Indonesia berbeda dengan guidelines yang disosialisasikan… Apakah lantas milis Sehat mempunyai
“lagu kebangsaan” sendiri? Ilmu kedokteran kan gak bisa dibikin improvisasi tanpa scientific evidence. Jadi bukannya milis Sehat yang “out of the box” di pandangan orang luar?

Saya juga bingung, mengapa ketika dr. Ian bicara lugas apa adanya karena beliau mengikuti dan mengimplementasikan guidelines lalu tak diapresiasi? Kita harus bisa menghargai anak muda yang berani bicara apa adanya. Kalau tidak, surutlah idealisme anak muda dokter… Harapan kita satu-satunya (saya mah paling kuat ngurus milis maksimal 5 tahun lagi). Soal cara… kita semua sepakat bahwa milis ini bukan untuk menghujat siapapun. Tidak pernah ada niatan sekecil apapun. Apa untungnya? Buang energi.

Energi saya juga dah mau habis nih hehehe… bentar lagi mau pijetan ahhhhhhh. Saya berdoa, agar semakin bermunculan dokter-dokter muda idealis yang berani bicara apa adanya… Saya berdoa… dokter-dokter muda seperti Ian tidak surut dan terus aktif di milis ini…. Kerja bakti dan kerja sosial ini memang kerja gila kata sebagian orang …

Salam sehat,
Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

Wati

Share artikel ini: