CAPING (50): SALAH GEMPUR!

Dear all, Selamat pagi. Semoga semua berbahagia. Sebetulnya, masalah balita itu tidak muskil. Sakitnya ya itu-itu saja. Demam, bapil (batuk pilek -red), dan diare serta muntah. Penyakit ringan yang sembuh sendiri (bukan sembuh lantaran obat yang diresepkan. KASUS 1. I: Anak saya demam masuk hari ke-4. Hari ke-2 tuh demamnya tinggi. Padahal sudah saya kasih Sanmol (parasetamol -red). Sorenya menggigil. Saya takut kejang. Saya kasih Ibuprofen. Nah hari ke-3, pagi, demam reda tapi kok sore naik lagi. Saya bawa ke UGD. Katanya obat demamnya mesti masuk yang dari anus. Jadi sekarang selang seling (bergantian -red). (Saya beri -red) Parasetamol tapi kalau tinggi, ibuprofen. Kalau nanti malam masih demam, disuruh cek laboratorium. W: Bu, demam itu bukan penyakit. Demam itu salah satu respons badan kita untuk melawan bakteri dan virus yang masuk tubuh kita. Obat demam tidak menyembuhkan. Parasetamol diberikan supaya anak merasa agak nyaman. Parasetamol bekerja baik ketika diberikan per oral (diminum) bukan yang lewat anus (pemberian per anus, kadar terapinya di darah tidak sebaik ketimbang yang diminum. KASUS 2. I: Bu, anak saya dah lama banget batuk. Ke DSA (dokter anak -red), bilangnya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut -red). Dikasih antibiotik, puyer, dan nebul (uap). Sudah 1 minggu, masih batuk. Batuknya berat. W: Batuk berat tuh kayak apa? (Ibu tidak bisa kasih contoh) I: Banyak dahaknya, Dok. Jadi saya bawa ke DSA lain. Katanya ada kemungkinan bronkitis. Antibiotiknya diganti, dikasih pengencer dahak, obat pilek, obat alergi dan buat jalan napas (catatan: bronkodilator). W: Waduuh… Ibu sudah pernah baca-baca tentang bronkitis? Please do (tolong baca -red). Soalnya, tidak sedikit yang panik kalau dengar kata bronkitis. Bronkitis itu umumnya karena infeksi virus. Tidak butuh antibiotik. Obat lainnya juga tidak perlu Nah. Kedua kasus di atas merupakan contoh yang terjadi selama ini di kalangan para orangtua di Indonesia. Demam, dilawan habis-habisan. Batuk ditekan mati-matian. Yang kasihan siapa, hayooo? Ada 2 pihak yang nelongso. Paling sengsara ya si anak. Harus menelan berbagai obat yang TIDAK dia perlukan. Obat-obatan yang TIDAK bermanfaat, bahkan BERISIKO EFEK SAMPING. Ya. Anak jadi victim (korban -red), demi apa? Demi menyenangkan orang tuanya? Seolah memang ada jalan instant, abrakadabra, demam hilang. Abrakadabra, batuk senyap. Sengsara kedua, siapa? Saya lah hehehe. Saya harus tersenyum pedih (ibarat sedang sakit gigi) menyaksikan drama ini. Prihatin. Sayangnya, sulit menyadarkan para orangtua bahwa demam tidak berbahaya; bahwa batuk merupakan refleks untuk melindungi paru-paru kita. Kadang saya merasa, orangtua seolah memilih di PHP (Pemberi Harapan Palsu -red) ketimbang diberi nasehat profesional dan obyektif. Jadi? Pahami, musuhnya itu siapa? Musuhnya kan si mikroba (virus, bakteri). Nah, jangan gempur demam dan batuk. Keduanya, BUKAN musuh. Salam bijak pasien cerdas Wati