CAPING (36): DI”UAP”, BATUK PUN LENYAP (?)
Dear all, Selamat pagi. Semoga semua berbahagia. Di fasilitas kesehatan (RS maupun klinik), pemandangan di ruang tunggu anak, mayoritas isinya anak batuk pilek. Begitu juga di ruang tunggu rehabilitasi medik. Kebanyakan, antri untuk di “uap”. Ada apa dengan batuk? Mengapa harus dibombardir obat, “uap”, dan obat? KASUS 1. I: Anak saya batuk pilek sudah lama, Dok. Saya takut ada apa-apa. Sudah di uap 3x, resep obat minum sudah habis, masih juga batuk. Kami memang keluarga alergi banget. W: Kamu takut apa? (Takut ada “apa-apa” kan tidak jelas). Ada kegawat daruratan? I: Gak pernah sesak sih, Dok. Bukan pneumonia kan ya? W: Ya kalau sudah berhari-hari, apalagi lebih dari seminggu, ya bukan pneumonia dong. KASUS 2. I: Dok, saya sudah berusaha gak kasih obat. Tapi jadinya masih batuk deh. Boleh gak saya “uap”? Teman-teman saya, kalau anaknya batuk, diuap. W: Kalau asma, memang harus dapat obat yang melebarkan saluran napas. I: Gak asma sih. Tapi katanya uap buat ngencerin dahak. W: Kalian tahu apa obat yang diberikan saat di “uap”? I: V buat longgarin nafas, B buat ngencerin dahak, terus apa lagi gitu, saya lupa. KASUS 3. Suatu malam, WA masuk. Ibu dari bayi berusia 23 hari: I: Dok, aku di UGD. Dede bayi batuk terus. Aku takut. Sudah diperiksa, kata dokter mau diuap, tapi saya bilang, saya mau tanya dokter dulu. Anaknya gak sesak, gak demam. W: Tidak sesak berarti tidak gawat darurat. Pasti juga bukan asma. Tidak usah diuap bu. ASI sering sering (meski sedikit sedikit). Begitu dahsyatnya gelombang “uap” di Indonesia (atau hanya di Jakarta? Atau di Jakarta dan kota besar lainnya? Di perkampungan? AMAAAN) Anak non asma, JANGAN diuap. JANGAN diberi obat asma oral (sirup maupun puyer). Obat yang diberikan melalui alat yang namanya nebulizer atau yang dijuluki parents sebagai uap, adalah kelompok bronkodilator. Melebarkan bronkus (misalnya, kelompok SALBUTAMOL). Anak batuk pilek common cold, bronkusnya tidak menyempit. JANGAN beri bronkodilator. Tidak ada manfaat nya, yang ada, dapet efek sampingnya (please baca salbutamol di drugs.com). Coba ayah ibunya mengonsumsi salbutamol, memangnya enak? Commonly reported side effects of albuterol include: tremor. Other side effects include: hypersensitivity reaction and tachycardia (jantung berdebar cepat). Check with your doctor immediately if any of the following side effects occur while taking albuterol: More common Shakiness in the legs, arms, hands, or feet trembling or shaking of the hands or feet Less common Fast, irregular, pounding, or racing heartbeat or pulse Rare Cough difficulty breathing difficulty with swallowing hives or welts hoarseness large, hive-like swelling on the face, eyelids, lips, tongue, throat, hands, legs, feet, or sex organs noisy breathing redness of the skin shortness of breath skin rash slow or irregular breathing swelling of the mouth or throat tightness in the chest wheezing Coba resapkan risiko efek samping di atas. Kalau benar asma, harus salbutamol. Kalau bulan asma, ya JANGAN. Keliru juga menganggap terapi uap ini bisa mengencerkan dahak. Di seluruh dunia, tidak ada obat pengencer dahak. FLUID is the real mucolytic (pengencer dahak/mucolytic), akan dibahas di CAPING lain. Tunggu ya. Batuk pilek bukan musuh, tapi digempur membabi buta memakai senjata yang peruntukannya bukan untuk batuk pilek. Kita kehilangan logika sehingga alih-alih menata hidup agar lebih sederhana, kita memilih membuat drama yang justru membuat hidup jadi heboh. “Sudah uap kok masih batuk?” Iyalah, nebulizer dengan obat salbutamol, bukan obat batuk. Selamat menjaga kejernihan nalar. Batuk BUKAN penyakit. Salam kesederhanaan Wati
Copy and paste this URL into your WordPress site to embed
Copy and paste this code into your site to embed