Di lapangan:

“Dahulu, terutama sebelum 2012, banyak kita lihat iklan susu formula di media massa. Digembar-gemborkan meningkatkan kecerdasan otak karena susu formula ditambahkan AA/DHA. Ironisnya, air susu ibu pun ditinggalkan.”

De Rhetorica:

  • AA = arachidonic acid; DHA = docosahexaenoic acid. Banyak produk susu formula yang disuplementasi AA/DHA dan diklaim meningkatkan fungsi otak baik dalam hal kognitif, psikomotor, maupun ketajaman visual.
  • AA adalah salah satu dari kelompok omega-6, sedangkan DHA omega-3. Keduanya tergolong asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (long-chain polyunsaturated fatty acids/LCPUFA) dan tidak dapat diproduksi oleh tubuh (atau sangat sedikit), melainkan perlu didapat dari makanan sehingga disebut asam lemak esensial. Makanan kaya AA/DHA antara lain ikan laut dalam seperti mackerel, salmon, tuna, dan sardines. Kandungan DHA pada mackerel: 1,2-1,6 gram per 100 gram ikan, salmon: 0,6-1,2 gram, dan tuna: 0,4-1 gram.
  • Saat masih dalam kandungan, janin mendapat AA/DHA dari ibu yang ditransfer melalui plasenta. Oleh karena itu, asupan diet ibu menentukan jumlah yang dapat ditransfer ke janin. Asam lemak tersebut sangat penting untuk pertumbuhan otak terutama saat trimester ketiga sampai usia 2 tahun. Bayi yang lahir prematur akan kehilangan kesempatan untuk mendapat AA/DHA tersebut.
  • Air susu ibu mengandung AA/DHA, namun tidak pada susu formula. Kandungan AA/DHA dalam ASI sangat bervariasi, tergantung dari diet ibu. Susu formula yang dipasarkan saat ini banyak yang sudah disuplementasi AA/DHA. Hal itu dipicu dari sebuah studi yang menunjukkan bahwa bayi ASI memiliki kadar DHA yang lebih tinggi daripada bayi susu formula yang tidak difortifikasi DHA. Kontroversi pun muncul, apakah penambahan AA/DHA pada susu formula benar-benar bermanfaat.
  • Cochrane 2008 dan 2011: pemberian susu formula yang sudah difortifikasi asam lemak tak jenuh rantai panjang tidak bermanfaat bagi fungsi neurokognitif dan ketajaman penglihatan baik pada bayi cukup bulan maupun kurang bulan. Pada kelompok bayi kurang bulan, bayi yang diikutsertakan dalam uji klinis adalah bayi yang hampir cukup bulan (near-term) dan bayi kurang bulan yang sehat sehingga mungkin efek yang diharapkan tidak terlihat.
  • Codex Alimentarius Commission: penambahan DHA maksimal 0,5% dari total lemak susu formula. Bila DHA ditambahkan, jumlah AA harus minimal sama dengan jumlah DHA (minimal rasio AA: DHA 1:1), dan eicosapentaenoic acid (EPA) tidak boleh lebih banyak daripada DHA. Rasio AA/DHA perlu dipertimbangkan karena rasio yang tidak seimbang akan menimbulkan kompetisi di antaranya. Misalnya, penambahan DHA saja tanpa AA dapat menurunkan kadar AA dalam plasma darah.
  • Birch EE dkk 2007: studi prospektif, acak tersamar ganda, membandingkan ketajaman visual dan fungsi kognitif pada usia 4 tahun setelah diberi susu formula LCPUFA. Terdapat 3 kelompok diet yaitu susu formula tanpa AA/DHA, susu formula DHA saja, dan susu formula AA/DHA, yang dibandingkan dengan kelompok ASI saja. Studi dilakukan sejak usia 0 hari dan dipantau saat usia 4 tahun. Saat usia 0-4 hari, bayi “diacak” untuk mendapat salah satu dari ketiga jenis susu itu, sedangkan kelompok ASI tidak “diacak”. Baik kelompok susu maupun ASI mendapat susu atau ASI selama 17 minggu eksklusif (tidak ada makanan selama 17 minggu pertama). Pada usia 4 tahun, semua anak tersebut diuji ketajaman penglihatan dan tes IQ. Hasilnya, kelompok susu AA/DHA mempunyai ketajaman penglihatan dan IQ yang tidak berbeda dengan kelompok ASI. Di sisi lain, kelompok susu tanpa AA/DHA memiliki ketajaman penglihatan yang lebih rendah daripada kelompok susu AA/DHA dan ASI, serta IQ verbal yang lebih rendah daripada kelompok ASI.
  • Auestad N dkk 2003: studi dengan metode yang hampir sama dengan Birch EE dkk 2007, memaparkan hasil yang berbeda. Pemantauan pada usia 39 bulan menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna IQ dan ketajaman visual di antara keempat kelompok tersebut (tiga kelompok susu formula dan satu kelompok ASI).
  • Makrides M dkk 2005: meta-analisis dari 14 uji klinis susu formula LCPUFA pada bayi cukup bulan. Hasilnya, suplementasi LCPUFA pada susu formula tidak memberi efek positif terhadap pertumbuhan bayi (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala). Analisis subgroup pada susu formula yang hanya difortifikasi DHA saja (tanpa AA) juga tidak memberi efek positif. Studi ini tidak menemukan efek samping dari suplementasi LCPUFA tersebut.
  • Qawasmi A dkk 2013: meta-analisis dari 19 uji klinis. Hasilnya, LCPUFA pada susu formula meningkatkan ketajaman penglihatan bayi (cukup bulan dan kurang bulan) pada pengukuran di usia 2, 4, dan 12 bulan dibandingkan bayi yang mendapat susu formula tanpa LCPUFA. Namun, studi ini tidak menemukan efek dosis maupun waktu mulai pemberian LCPUFA terhadap ketajaman penglihatan.
  • US Food and Drug Administration: studi perihal manfaat AA/DHA pada susu formula bervariasi, ada yang menunjukkan efek positif, ada juga yang tidak. Produsen susu formula perlu melakukan pemantauan selama produknya dipasarkan (postmarket surveillance).
  • Beberapa studi yang dipaparkan di atas menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Hal itu dapat disebabkan antara lain:
    • Perbedaan kadar dan rasio AA/DHA yang digunakan dalam studi.
    • Sumber asam lemak pada susu formula (alga, minyak ikan).
    • Metode pemeriksaan/pengukuran yang berbeda.
    • Subjek penelitian yang tidak homogen.
    • Jumlah subjek penelitian yang terbatas.
    • Bayi cukup bulan atau kurang bulan.
    • Bagaimanapun ASI tetaplah yang terbaik. Jargon AA/DHA sebagai “zat kecerdasan” hendaknya tidak diterima begitu saja sebab kecerdasan anak tidak semata-mata dari AA/DHA, melainkan pola asuh yang benar. Apakah dengan minum AA/DHA tanpa interaksi dengan anak, anak akan cerdas?

Referensi:

  1. http://seafood.oregonstate.edu/.pdf%20Links/Omega-3%20Content%20in%20Fish.pdf
  2. http://www.fda.gov/Food/FoodborneIllnessContaminants/PeopleAtRisk/ucm108079.htm
  3. Schulzke SM dkk. Cochrane Database Syst Rev. 2011;2:CD000375.
  4. Simmer K dkk. Cochrane Database Syst Rev. 2008;1:CD000376.
  5. Birch EE dkk. Early Hum Dev. 2007;83:279-84.
  6. Auestad N dkk. Pediatrics. 2003;112:e177-83.
  7. Makrides M dkk. Am J Clin Nutr. 2005;81:1094-101.
  8. Qawasmi A dkk. Pediatrics. 2013;131:e262-72.
  9. Cunnane SC dkk. Lipids. 2000;35:105-11.
Share artikel ini: