Di lapangan:
“Menjemur bayi menjadi kebiasaan rutin bagi para ibu dengan dalih mencegah bayi kuning. Bayi ditelanjangi dan dibiarkan terjemur langsung di bawah paparan sinar matahari pagi. Praktisi kesehatan pun masih memperbolehkan kebiasaan itu.”

“Di sisi lain, American Academy of Pediatrics merekomendasikan bayi berusia 0-6 bulan tidak boleh terpapar langsung sinar matahari. Hal itu ditengarai meningkatnya angka kejadian kanker kulit di kemudian hari.”

De Rhetorica:
• Sekitar 90% kanker kulit terjadi akibat paparan sinar ultraviolet dari matahari. Secara garis besar kanker kulit dibagi menjadi dua yaitu non melanoma (karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa) dan melanoma. Melanoma adalah jenis yang paling mematikan.

• Insiden kanker kulit terus meningkat di berbagai negara. Australia adalah negara dengan insiden tertinggi, selanjutnya Afrika. Berdasarkan US Cancer Statistics Working Group, pada tahun 2012 didapatkan 67.753 orang di Amerika Serikat terdiagnosis melanoma, dan sebanyak 9251 meninggal karena melanoma (6013 pria dan 3238 wanita).

• Bagaimana dengan Indonesia? Data dari Poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS Cipto Mangunkusumo Jakarta menunjukkan terdapat 261 kasus karsinoma sel basal, 69 karsinoma sel skuamosa, dan 22 melanoma selama tahun 2000-2009.

Ada tiga jenis ultraviolet (UV) yaitu UVA, UVB, dan UVC

o UVB adalah penyebab utama kanker kulit. UVB menyebabkan luka bakar dan secara langsung dapat merusak DNA. UVB tidak dapat menembus jendela. Awalnya, tabir surya dibuat untuk menangkal paparan UVB.
o Sekarang pun diketahui bahwa UVA juga menyebabkan melanoma. UVA tidak secara langsung merusak DNA, melainkan memicu stres oksidatif dan mendegradasi vitamin D. UVA juga menyebabkan kerut dan age spot (perubahan warna kulit kecoklatan akibat paparan UV), serta dapat menembus jendela.
o UVC digunakan dalam dunia kedokteran untuk sterilisasi alat/ruangan.

• Tipe kulit sangat mempengaruhi kecenderungan seseorang mengalami luka bakar matahari dan berapa lama pajanan matahari hingga menyebabkan luka bakar tersebut. Food and Drug Administration (FDA) membuat klasifikasi tipe kulit menjadi skala 1 hingga 6. Seseorang dengan kulit tipe 1 dan 2 mempunyai kulit tipis dan sangat mudah mengalami luka bakar dan parah. Sementara itu, kulit tipe 5 dan 6 adalah kulit yang lebih gelap dan tidak mudah terbakar.

• Pemakaian tabir surya mampu menurunkan risiko keratosis aktinik (lesi kulit pra-kanker tersering) dan karsinoma sel skuamosa (kanker kulit kedua terbanyak, sekitar 700.000 penderita di Amerika Serikat setiap tahun). Pada tahun 2010, tabir surya juga dilaporkan dapat melindungi melanoma.

Komposisi tabir surya:
• Bahan kimia: avobenzone dan benzophenone. Efek samping berupa jerawat, sensasi terbakar, kulit kering, gatal, kemerahan, dan melepuh. Beberapa bahan kimia tambahan lain adalah alkohol, pewangi, atau pengawet sehingga perlu dihindari bila punya alergi.

• Bahan fisik: titanium oksida dan zink oksida. Bahan fisik bersifat memantulkan, menyebarkan dan menyerap radiasi UVA dan UVB. Dengan kemajuan teknologi, bahan fisik sudah dibuat sangat kecil (nanopartikel) dan jarang menimbulkan efek alergi. Kekhawatiran terhadap efek samping dari nanopartikel tidak terbukti sebab nanopartikel hanya akan berada pada lapisan stratum korneum kulit yang tersusun dari sel mati, dan tidak akan menembus ke lapisan di bawahnya yang berupa sel hidup.

• Tabir surya diperlukan setiap hari bila aktivitas anda lebih sering di luar ruangan. Bahkan saat cuaca berawan pun, tabir surya tetap dioleskan karena 80% sinar ultraviolet tetap dapat berpenetrasi ke kulit.

• Tabir surya dioleskan 15 menit sebelum ke luar ruangan. Jangan lupakan daerah bibir sebab kanker kulit juga bisa bermula dari bibir.

Tips penggunaan tabir surya dari FDA:
o Gunakan tabir surya sun protection factor (SPF) 15 atau lebih.
o Hindari paparan matahari terutama pada pukul 10.00-14.00
o Gunakan pakaian yang menutupi sebagian besar kulit tubuh seperti baju lengan panjang, celana panjang, kacamata tabir surya, dan topi.
o Oleskan tabir surya berulang tiap 2 jam, atau lebih sering bila berkeringat atau setelah berenang/berendam di air.

Rekomendasi dari American Academy of Dermatology mengenai pemakaian tabir surya:
o Tabir surya dengan daya proteksi mencakup UVA dan UVB.
o SPF 30 atau lebih
o Tahan air

• Tabir surya saja tidak cukup untuk melindungi kulit dari panas matahari, melainkan perlu dilakukan upaya lain yaitu:
o Olesi tabir surya pada semua kulit yang terekspos cahaya matahari.
o Pakai pakaian yang melindungi tubuh seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi, dan kacamata tabir surya.
o Usahakan berada di tempat yang teduh. Ingatlah bahwa pajanan matahari paling kuat pada pukul 10 pagi hingga 2 siang.
o Tabir surya penting dipakai bila sedang berada di dekat air dan pasir. Air dan pasir bersifat reflektor sehingga meningkatkan risiko pajanan matahari.
o Vitamin D dapat dikonsumsi dari makanan atau suplemen. Tidak harus “mencari” matahari hanya untuk mendapat vitamin D.
o Hindari prilaku berjemur untuk menggelapkan kulit (tanning) ataupun menggunakan produk tanning. Sinar ultraviolet dan kulit tanning menyebabkan kanker kulit.
o Segera ke dokter kulit bila menjumpai perubahan pada kulit.

• Rekomendasi pemakaian tabir surya pada bayi:
o Usia 0-6 bulan: bayi berusia kurang dari 6 bulan perlu dihindarkan dari sinar matahari. Tabir surya tidak dioleskan pada bayi berusia kurang dari 6 bulan. Kulit mereka juga tipis dan terlalu sensitif bila dioleskan tabir surya. Kulit bayi hanya mengandung sedikit melanin yaitu pigmen kulit yang berperan memberi warna kulit dan melindungi kulit dari sinar matahari sehingga kulit bayi sangat rentan mengalami kerusakan kulit akibat matahari.

1. Gunakan kaca film pada jendela rumah atau mobil untuk mengurangi paparan sinar UV.
2. Bila hendak keluar rumah, sebaiknya sebelum pukul 10 pagi atau setelah 4 sore dan menggunakan kereta bayi dengan penutup.
3. Gunakan pakaian bayi yang menutupi lengan dan kaki.
4. Gunakan topi lebar untuk melindungi wajah, leher, dan telinga bayi dari pajanan matahari.
o Usia 6-12 bulan: bayi sudah dapat memakai tabir surya.
o Balita: pada usia ini, biasanya anak cenderung “tidak bisa diam” sehingga agak sulit untuk meminta anak diam sejenak agar kulit bisa diolesi tabir surya. Oleh karena itu, strateginya adalah menggunakan tabir surya dalam bentuk semprot (spray), namun hati-hati agar tidak langsung mengenai wajah. Semprot terlebih dahulu di tangan lalu oleskan ke wajah. Perhatikan tempat bermain anak dan edukasi agar anak bermain di tempat yang teduh. Pakai topi, kacamata dan pakaian yang menutupi tubuh.

Kontroversi:
o Tabir surya meningkatkan risiko melanoma? Studi komprehensif dari Huncharek dan Dennis dkk dengan mengkaji semua penelitian tahun 1966-2003 tidak menemukan bukti bahwa tabir surya meningkatkan risiko melanoma. Selain itu, studi di Australia oleh Green dkk pada 1621 subjek menunjukkan pemakaian tabir surya mengurangi insiden melanoma hingga 50-73%.
o Tabir surya mengurangi sintesis vitamin D pada tubuh? Belum ada studi komprehensif yang dapat menyatakan jumlah paparan sinar matahari yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Studi pada peselancar di Hawai oleh Binkley dkk menemukan fakta menarik. Semua subjek peselancar mengaku kulitnya terpapar sinar matahari (tanpa memakai tabir surya) rata-rata 22,4 jam per minggu. Semua kulit mereka kecoklatan (tanned). Hasil pengukuran kadar 25(OH)D menunjukkan 51% dari subjek tersebut tidak memiliki kadar yang cukup (insufisiensi). Hal itu membuktikan bahwa sintesis vitamin D tidak dapat tercukupi hanya dengan sinar matahari.

Kesimpulan:
o Belum adanya penelitian yang menunjukkan jumlah paparan matahari yang cukup untuk memenuhi vitamin D, maka sebaiknya orangtua perlu berhati-hati ketika memutuskan hendak menjemur bayi. Sebaiknya bayi berusia 0-6 bulan tidak terpapar sinar matahari langsung. Bila bayi sudah berusia >6 bulan, tabir surya dapat digunakan. Kenakanlah pelindung tubuh saat keluar rumah untuk mengurangi risiko paparan sinar matahari.(Felix)

Referensi:
Food and Drug Administration. http://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm258416.htm
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. http://perdoski.org/doc/mdvi/images/19/EDITORIAL_-__Epidemiologi_kanker_kulit_(61-62).pdf
Sunscreen FAQs. American Academy of Dermatology.
The Burning Facts. United States Environmental Protection Agency. September 2006.
Skin Cancer Foundation. Sun safety tips for infants, babies, and toddlers.
Skin Care Foundation. Sunscreen: safe and effective?
Huncharek M, dkk. Am J Public Health. 2002;92:1173-7.
Dennis LK, dkk. Ann Intern Med. 2003;139:966-78.
Green AC, dkk. J Clin Oncol. 2011;29:257-63.
Gilchrest BA. Skin Therapy Letter. 2008;13:1-5.
Binkley N, dkk. J Clin Endocrinol Metab. 2007;92:2130-5.
American Academy of Pediatrics, dk. Pediatrics. 2011;127:588-97.

Share artikel ini: