Indikasi          : Tuberkulosis (TBC), digunakan kombinasi dengan obat lain; tularemia; brucellosis; plaque.

Kontraindikasi             : gangguan pendengaran, myasthenia gravis, kehamilan.

Perhatian : nyeri pada saat penyuntikan, hindari pemberian pada anak-anak jika memungkinkan; penggunaan pada bayi dan lanjut usia perlu dimonitor kadar streptomisin dalam darah, fungsi pendengaran, fungsi keseimbangan; pada gangguan ginjal, dosis perlu diturunkan dan dilakukan pemeriksaan kadar streptomisin dalam darah.

Kehamilan : hindari jika memungkinkan karena berkaitan dengan kerusakan saraf pendengaran dan vestibular terutama pada trimester dua dan tiga.

Menyusui : streptomisin melalui ASI, pengobatan tetap dilanjutkan dengan memantau efek samping pada bayi seperti jamur dimulut dan diare.

Dosis   :

Untuk Tuberkulosis (melalui suntikan inramuskular dalam) : dewasa dan anak 15 mg/kg perhari, atau tiga kali seminggu (pasien berusia diatas 60 tahun atau pasien dengan berat badan kurang dari 50 kg mungkin tidak dapat mentoleransi dosis diatas 500-750 mg perhari).

Catatan : konsentrasi plasma tertinggi (sekitar 1 jam setelah pemberian) seharusnya 15-40 mg/liter, pada jeda waktu pemberian seharusnya kurang dar i5 mg/liter, pada gangguan ginjal atau pada lanjut usia, kadar streptomisin kurang dari 1 mg/l iter)

Sediaan : bubuk 1 gram per vial.

Efek Samping :

Gangguan pendengaran dan gangguan keseimbangan, kerusakan ginjal, jarang : kekurangan magnesium pada terapi jangka panjang, colitis akibat antibiotik, mual, muntah, ruam, anemia hemolitik, anemia aplastik, agranulositosis, trombositopenia, nyeri dan bengkak ditempat suntikan.

Interaksi obat :

–          Alcuronium : meningkatkan efek relaksasi otot.

–          Amfoterisin B : meningkatkan risiko kerusakan ginjal

Share artikel ini: