Siapa yang seringkali membeli obat tetes mata sendiri di Apotek/Toko Obat saat mata merah? Atau mungkin diresepkan Dokter tetes mata antibiotik/steroid karena mata merah?

Berdasarkan survei kesehatan oleh Kemenkes pada tahun 2009, mata merah atau konjungtivitis masuk dalam 10 besar penyakit yang dijumpai di rawat jalan.1 Penyebab terseringnya adalah infeksi virus yaitu 80% pada populasi dewasa dan 50% pada populasi anak.2,3 Oleh karena itu, penyakit mata merah umumnya bersifat swasirna (self-limiting) yaitu dapat sembuh tanpa pengobatan. Bahkan pada kasus mata merah akut yang disebabkan oleh bakteri sekalipun dapat sembuh secara spontan (7-14 hari). Namun, memang penggunaan antibiotik pada kasus konjungtivitis bakterial akut dapat mempersingkat durasi penyakit sebanyak 1-2 hari.4

Mengetahui hal ini, tentunya kita harus mulai menghentikan kebiasaan memakai obat tetes mata antibiotik (dan juga tetes mata kombinasi antibiotik-steroid) untuk mata merah. Mengapa? Karena penggunaan tetes mata antibiotik tidak bermanfaat pada mata merah yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus.5 Tetes mata antibiotik juga tidak dapat mengatasi penularan mata merah akibat infeksi virus. Menghindari penggunaan tetes mata antibiotik yang tidak tepat dapat mencegah berkembangnya resistensi terhadap antibiotik.6

Berbeda halnya dengan penggunaan tetes mata antibiotik yang masih bermanfaat pada kasus mata merah akibat infeksi bakteri (terutama pada kasus infeksi sedang-berat), penggunaan tetes mata kombinasi antibiotik-steroid harus ditinggalkan. Tetes mata kombinasi ini masih sering dijumpai dijual bebas dengan kandungan dexamethasone-neomycin-polymixin. Penggunaan tetes mata yang mengandung steroid ini justru dapat memperpanjang durasi mata merah dan memperburuk infeksi.6 Belum lagi risiko munculnya efek samping penggunaan steroid topikal yang menyertai yaitu glaukoma dan katarak.7 Sehingga, penggunaan steroid topikal sangat dibatasi, hanya untuk kondisi tertentu (mis. pseudomembran, keratitis, dan fase akut konjungtivitis alergi) yang membutuhkan penegakan diagnosis oleh Dokter Spesialis Mata.

Lalu, bagaimana mengatasi mata merah yang seringkali disertai gejala-gejala yang dapat menurunkan produktivitas? Kompres hangat pada mata dan penggunaan tetes air mata buatan (artificial tears) dapat membantu agar mata nyaman selama melewati perjalanan penyakit ini (umumnya mereda dalam 7-10 hari).6 Jangan lupa untuk menghindari penggunaan linen bersama, menghindari mengucek mata, dan meningkatkan budaya cuci tangan untuk menurunkan risiko penularan mata merah.7 Periksakan diri ke Dokter apabila gejala tidak juga mereda. Pada kondisi penyebab mata merah yang belum jelas, penundaan terapi lebih dianjurkan daripada pemberian antibiotik yang agresif.6,7

Hentikan penggunaan tetes mata antibiotik ataupun tetes mata kombinasi antibiotik-steroid untuk mata merah tanpa didahului pemeriksaan mata-penegakan diagnosis-peresepan obat oleh Dokter! Jangan lupa membaca artikel penyakit mata merah (konjungtivitis) untuk mengetahui karakteristik setiap jenis mata merah. –hrn-

  1. Kemenkes RI., 2010. 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2009. Available from: http://www.Depkes.go.id.
  2. Sitompul R. Viral Conjunctivitis: Diagnosis and Therapy in Primary Health Care. eJKI. Vol. 5, no. 1 (2017)
  3. Gigliotti F, Hendley JO, Morgan J, Michaels R, Dickens M, Lohr J. J Pediatr 1984;104:623-6.
  4. Sheikh A, Hurwitz B. Topical antibiotics for acute bacterial conjunctivitis: Cochrane systematic review and meta-analysis update. Br J Gen Pract. 2005 Dec 1; 55(521): 962–964.
  5. http://www.choosingwisely.org/patient-resources/antibiotics-for-pink-eye/
  6. https://labblog.uofmhealth.org/rounds/nearly-60-of-pinkeye-patients-receive-antibiotic-eye-drops-but-theyre-seldom-necessary
  7. https://www.cbc.ca/news/health/pink-eye-conjunctivitis-antibiotic-drops-1.4191989


Share artikel ini: