Anemia defisiensi zat besi (ADB) cukup banyak ditemukan pada anak terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Berbagai strategi telah dikembangkan untuk mencegah anemia defisiensi zat besi pada anak antara lain (1) memberikan tambahan zat besi pada bayi ASI dari usia 4 sampai dengan 6 bulan (saat MPASI dengan protein hewani diberikan); (2) di beberapa negara, tambahan zat besi diberikan di dalam MPASI kemasan jadi; (3) Zat besi juga ditambahkan ke susu formula; (4) bahkan di Mexico dikembangkan penambahan zat besi pada air yang digunakan untuk membuat MPASI.

Sebenarnya apakah anemia defisiensi besi itu?  Pahami anemia defisiensi besi dan algoritma tatalaksananya dalam artikel “Anemia Defisiensi Zat Besi”.  Dalam pertumbuhannya, seorang bayi akan mengalami penurunan hemoglobin dan ini adalah normal yang disebut “Anemia Fisiologis”. ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, apakah bayi dengan ASI eksklusif juga rentan terhadap anemia defisiensi besi?  Temukan jawabannya dalam artikel “ASI dan Zat besi”.  Artikel “Rekomendasi Suplemen Zat Besi” mengulas rekomendasi AAP (American Academy of Pediatric) tentang anjuran pemberian suplemen besi pada bayi dan anak. Pada dasarnya, penuhilah kebutuhan besi anak dari makanan sehari-hari, kenali makanan tinggi besi dengan membaca artikel “Makanan Tinggi Zat Besi”.

Tidak semua anak memerlukan tambahan besi, ketahui kondisi tertentu yang menjadi kontraindikasi pemberian zat besi pada artikel “Zat Besi Berlebih”.  Apabila anak anda memerlukan suplemen besi, informasi mengenai suplemen besi dapat ditemukan dalam artikel “Suplemen Zat Besi”.

Salam Sehat

Diperbaharui : 22 Maret 2017

Share artikel ini: