Alasan ini sering muncul pada literature-literatur antivaksin, yang menunjukkan bahwa vaksin tersebut tidak efektif. Hal ini muncul karena secara angka, lebih banyak jumlah orang sakit yang telah divaksin dibandingkan yang belum divaksin.

Hal ini dipengaruhi oleh dua hal pertama tidak ada vaksin yang 100% efektif, ambil contoh saja vaksin campak dengan efektivitas 98% karena system vaksin adalah merangsang terbentuknya antibody sehingga dipengaruhi oleh reaksi individual. Kedua, di Amerika Serikat hampir semua anak telah mendapatkan vaksinasi campak.

Misalkan kita ambil contoh, terdapat 1000 anak yang terdiri dari 995 anak yang telah diimunisasi campak, dan 5 anak yang belum diimunisasi campak. Pada saat terjadi paparan terhadap virus campak, maka anak-anak yang belum mendapat imunisasi berisiko menderita campak yaitu semua anak sejumlah 5 anak. Sedangkan dari yang sudah mendapat imunisasi campak (995 anak) terdapat presentasi efektivitas 98% bahkan jika menerima booster campak efektivitas bisa lebih dari 99% sehingga kemungkinan ada 1-2% anak  yang sudah diimunisasi namun terkena penyakit campak, yaitu sejumlah 9-19 anak. Angka ini tentu saja lebih tinggi dari pada jumlah anak yang sakit yang belum diimunisasi campak.

Tetapi ketika kita lihat lagi, ini tidak bisa membuktikan bahwa vaksin tidak berfungsi sebab jika kita lihat dari presentasinya SEMUA anak (100%) yang tidak divaksinasi berisiko menderita penyakit campak namun hanya 1% dari anak yang divaksinasi berisiko menderita penyakit campak.Jika tidak ada anak yang diimunisasi campak, maka kemungkinan ada 1000 anak yang menderita campak. (WK)

Sumber : www.who.int

Share artikel ini: