Mencegah Kesalahan Pengobatan

Hampir setiap orang di dunia ini menggunakan obat-obatan pada suatu waktu atau berulang. Di amerika serikat, pada satu perkiraan, pada suatu minggu sekitar 1 dari lima orang dewasa di AS akan menggunakan obat resep dokter, obat bebas atau suplemen makanan dan hampir sepertiga dari orang dewasa akan menggunakan lima atau lebih obat yang berbeda.

Sebagian besar obat-obatan memberikan manfaat, tetapi pada keadaan tertentu dapat memberikan bahaya kepada orang yang menggunakannya. Beberapa efek samping obat (ESO) ini tidak dapat dihilangkan; semakin kuat/poten suatu obat maka kecenderungan untuk memiliki bahaya/efek yang tidak diinginkan semakin besar. Bahaya atau efek yang tidak diinginkan ini kadangkala disebabkan kesalahan dalam peresepan atau kesalahan menggunakan obat-obat tersebut dan efek yang timbul tidak dapat dihilangkan namun sebenarnya dapat dicegah.

Untuk itu Institute of Medicine (IOM) membuat laporan mengenai hal ini, dan menemukan bahwa kesalahan pengobatan ternyata secara mengejutkan umum terjadi dan membebankan anggaran negara. Untuk itu IOM memberikan pendekatan untuk menurunkan angka kesalahn pengobatan tersebut. Pendekatan yang dilakukan memerlukan perubahan dari dokter, suster, apoteker dan pihak lain dalam industri kesehatan, mulai dari Badan Pengawas Obat dan makanan dan lembaga pemerintah lainnya, rumah sakit dan organisasi/institusi kesehatan lainnya dan dari pasien.

Biaya yang tidak dapat diterima dari kesalahan pengobatan

Di rumah sakit, kesalahan dalam penggunaan obat umum terjadi di setiap tahapan; penyediaan obat, peresepan obat, penjualan obat, penggunaan obat dan pemantauan efek obat; tetapi kesalahan tersering terjadi pada tahap peresepan dan penggunaan obat. Saat semua bentuk kesalahan diperhitungkan maka pasien rumah sakit diperkirakan secara rerata mengalami lebih dari satu kesalahan pengobatan setiap hari.

Efek samping obat (ESO) akibat kesalahan pengobatan dipertimbangkan dapat dicegah. Angka kejadian yang akurat mengenai  seberapa sering efek samping obat yang sebenarnya dapat dicegah sulit didapat. Satu studi memperkirakan 380.000 efek samping obat yang dapat dicegah terjadi tiap tahun, studi lain memperkirakan 450.000 dan pihak IOM percaya bahwa angka ini cenderung di bawah perkiraan. Angka yang sama juga ditunjukka pada keadaan yang lain, pada satu studi di layanan perawatan jangka panjang angka efek samping obat yang dapat dicegah yang muncul tiap tahun sebanyak  800.000; pasien rawat jalan Medicare menunjukkan 530.000 per tahun angka efek samping obat yang dapat dicegah. Bukti menunjukkan kedua angka ini juga di bawah perkiraan sebenernya.  Studi-studi tersebut tidak ada yang memasukkan kesalahan dalam pemberian- kegagalan untuk meresepkan obat yang sebenarnya dibutuhkan pasien. Institute of Medicine dengan memasukkan semua angka dalam penghitungan menyimpulkan sedikitnya terdapat 1,5 juta efek samping obat yang tidak diinginkan di AS setiap tahunnya. Angka sebenarnya dapat jauh lebih banyak.

Kesalahan pengobatan ini tidak dapat disangkal akan menimbulkan biaya bagi pasien, keluarga mereka, tempat kerja mereka dan rumah sakit, penyedia layanan kesehatan dan asuransi. Satu studi menemukan bahwa setiap ESO yang dapat dicegah yang terjadi di rumah sakit menambah sekitar $8,750 (pada kurs 2006) terhadap biaya menginap di rumah sakit. Dengan perkiraan 400.000 kejadian setiap tahun maka secara perkiraan konservatif maka didapatkan total biaya mencapai $3,5 milyar pada satu kelompok. Studi lain ESO yang dapat dicegah pada Medicare pasien usia 65 tahun atau lebih menemukan biaya tahunan sebesar $887 juta untuk mengatasi kesalahan pengobatan pada kelompok ini. Studi ini sayangnya hanya mencakup beberapa biaya, tetapi tidak mengikutsertakan kehilangan pendapatan, atau kesakitan dan penderitaan yang ditimbulkan.

Hal yang mengejutkan adalah kejadian ini bisa dicegah. Untuk itu IOM menyarankan langkah-langkah serial/berkelanjutan yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah kesalahan pegobatan.

Perubahan pandangan dalam hubungan Pasien-Penyedia Layanan Kesehatan/provider

Langkah pertama adalah mempersilahkan dan mendorong pasien untuk lebih aktif mengambil peranan dalam perawatan kesehatan mereka. Di masa lalu sistem kesehatan cenderung paternalistik dan terpusat pada penyedia layanan kesehatan/providersentris, Ternyata cara yang paling efektif untuk mengurangi kesalahan pengobatan adalah menuju model pelayanan kesehatan dengan peningkatan relasi antara pasien dan provider kesehatan. Pasien sebaiknya lebih mengerti mengenai obat-obatan yang mereka gunakan dan mengambil tanggung jawab lebih besar untuk memantau pengobatan mereka, sementara provider kesehatan mengambil langkah untuk mengedukasi, berdiskusi dan mendengarkan pasien.

Untuk mendukung model ini maka dokter, suster, apoteker dan provider lainnya harus berkomunikasi lebih dengan pasien di setiap tahap pengobatan dan membuat komunikasi 2 arah, mendengarkan pasien sama baiknya dengan berbicara kepada pasien. Mereka sebaiknya memberikan informasikan kepada pasien semua risiko, kontraindikasi dan kemungkinan efek samping dari obat-obatan yang mereka gunakan dan apa yang harus dilakukan bila pasien merasakan efek samping tersebut. Mereka sebaiknya menyediakan diri saat kesalahan pengobatan terjadi dan menjelaskan kemungkinan yang terjadi.

Pasien dan walinya sebaiknya ikut ambil bagian secara aktif dalam proses pengobatan. Mereka sebaiknya belajar untuk mencatat semua pengobatan yang mereka gunakan dan turut bertanggung jawab dalam memantau pengobatan, contoh: mencek ulang obat yang didapat dari apotek dan melaporkan perubahan yang tidak diharapkan setelah menggunakan obat yang baru.

Sistem kesehatan juga perlu untuk melakukan edukasi yang lebih baik kepada pasien dan menyediakan fasilitas kepada pasien untuk belajar mandiri. Pasien sebaiknya diberikan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai obat-obatan mereka pada berbagai tahap perawatan, selama konsultasi dengan dokter, saat pulang dari rumah sakit, saat di apotek dan seterusnya. Perlu adanya usaha untuk meningkatkan kualitas dan kemudahan informasi mengenai obat kepada konsumen. IOM menyarankan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk menstandarisasi dan meningkatkan selebaran informasi kesehatan yang disediakan apotek, memperbaiki informasi obat di internet dan membangun layanan telepon 24 jam sehingga pasien dengan mudah mendapat akses kepada informasi obat.

Menggunakan teknologi informasi untuk mengurangi kesalahan pengobatan

Langkah kedua yang cukup penting untuk mengurangi kesalahan pengobatan adalah dengan menggunakan secara maksimal teknologi informasi dalam peresepan dan penjualan obat. Dokter, perawat dan asisten dokter tidak dapat selalu memiliki informasi mengenai obat yang mereka resepkan, namun dengan teknologi informasi saat ini mereka bisa. Dengan akses internet atau PDA, peresep dapat memperoleh informasi mendetail mengenai obat yang akan mereka resepkan dan terbantu dalam menentukan obat yang akan diresepkan.

Yang lebih menjanjikan adalah resep elektronik (e-prescription). Dengan menulis resep secara elektronik , dokter dan provider lainnya dapat menghindari kesalahan penulisan resep manual. Dengan menggunakan resep elektronik dan dihubungkan dengan riwayat pasien maka dimungkinkan untuk memeriksa kemungkinan alergi obat, interaksi obat-obat, dan kelebihan dosis. Dengan sistem elektronik maka resep akan mengikuti pasien dari rumah sakit ke praktek dokter atau dari rumah perawatan ke apotek mencegah kesalahan yang umum terjadi. IOM menyarankan tahun 2010 semua provider dan apotek menggunakan resep elektronik.

Secara umum semua penyedia layanan kesehatan sebaiknya menjadi organisasi yang terpercaya dan bertujuan untuk meningkatkan keamanan pengobatan.

Meningkatkan Pengemasan dan penulisan label obat

Cara lainnya untuk mengurangi kesalahan pengobatan adalah memastikan informasi obat dikomunikasikan secara jelas dan efektif kepada provider dan pasien. Beberapa kesalahan muncul karena 2 obat yang berbeda memiliki nama yang tampak atau berbunyi hampir serupa. Dengan ini IOM menyarankan industri obat dan pemerintah bekerja bersama untuk penamaan obat, tidak hanya nama obat tetapi juga singkatan dan akronim. Pada saat bersamaan lembar informasi obat juga sebaiknya didesain ulang dengan mempertimbangkan cara terbaik untuk mengkomunikasikan informasi mengenai obat.

Kebijakan Pemerintah

Untuk menurunkan ESO yang dapat dicegah membutuhkan perhatian dan peran serta aktif dari semua pihak yang terlibat. Pemerintah sebaiknya memperhatikan dan mengkoordinasikan penelitian yang diarahkan untuk mempelajari lebih lanjut perihal pencegahan kesalah pengobatan. Badan-badan pembuat kebijakan sebaiknya mendorong pengaplikasian praktek dan teknologi yang akan menurunkan angka kesalahan pengobatan. Badan akreditasi sebaiknya mendapat pelatihan mengenai praktek pengobatan. IOM percaya dengan usaha ini akan menghasilkan kesalahan pengobatan yang jauh lebih sedikit dan mencegah kejadian ESO, menurunkan angka bahaya kepada pasien karena obat, dan sangat menurunkan biaya ekonomi negara.

(YSK)

Sumber :Preventing Medication Errors

http://www.iom.edu/?id=35961

Share artikel ini: