Sebuah survei dilakukan sejumlah organisasi yang peduli akan keamanan pangan terhadap 25 restoran cepat saji dengan jaringan terbesar di Amerika Serikat pada tahun 2016. Beberapa restoran cepat saji yang mengikuti survei ini juga memiliki banyak gerai di Indonesia.

Chain Reaction 2

Laporan survei yang diberi judul Chain Reaction 2 ini memaparkan kebijakan restoran, pelaksanaan dan transparansinya kepada publik tentang penggunaan antibiotik pada ternak (sapi babi, ayam dan kalkun) yang dagingnya disajikan dalam menu mereka. Ini survei kedua dengan jumlah restoran dua kali lebih banyak dibandingkan survei pertama pada tahun 2015.

Survei ini dilakukan antara lain karena tuntutan masyarakat yang menginginkan makanan sehat dan berkualitas, termasuk di antaranya bebas dari penggunaan rutin antibiotika. Kini makin banyak konsumen yang peduli pada kesehatan pribadi, dampak lingkungan, dan kesejahteraan hewan, selain rasa dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Ini berarti makin banyak konsumen yang merasa perlu memperoleh informasi lengkap tentang apa yang tersaji di piringnya.

Hasil survei tersebut melaporkan bahwa hanya ada 2 restoran yang berhasil mendapat predikat A. Kedua restoran tersebut mempunyai kebijakan untuk menyediakan semua daging dari ternak yang dipelihara tanpa penggunaan antibiotik. Demikian pula pelaksanaannya sesuai dengan kebijakan yang dicanangkan, mengambil ternak dari suplier yang tidak menggunakan antibiotik selama pemeliharaannya. Selain itu mereka menyediakan informasi tersebut bagi konsumen pada website yang bisa diakses publik dengan mudah. Sementara beberapa restoran cepat saji populer yang memiliki banyak gerai di Indonesia masih memperoleh predikat C+ bahkan F (yang terendah).

Chain Reaction 2 juga memaparkan bahwa kebijakan dan implementasi kebijakan menyajikan bahan baku daging bebas antibiotik paling banyak dapat dilakukan untuk ayam. Sementara ternak yang sulit dipelihara tanpa penggunaan antibiotik secara rutin adalah babi dan kalkun.

Penyalahgunaan antibiotik terjadi tidak hanya pada manusia, namun juga pada hewan termasuk ternak.  Praktek tersebut menyebabkan bakteri yang resisten (kebal) terhadap antibiotik makin merebak. Pada ternak, antibiotik kerap digunakan untuk memacu pertambahan berat badan dan mencegah munculnya penyakit. Penyakit pada ternak umumnya disebabkan oleh pola makan, kepadatan populasi hewan di kandang dan sanitasi lingkungan yang kurang terjaga. Akibatnya bakteri resisten antibiotik, disebut juga superbug, bermunculan dan dapat menyebar pada manusia melalui udara, tanah, air, daging hewan ternak bahkan para pekerja di peternakan.

Survei yang dilakukan tiap tahun tersebut bertujuan membantu konsumen untuk memilih daging yang akan dikonsumsi dengan informasi yang cukup. Selain itu juga mendorong jaringan restoran cepat saji untuk memperbaiki kebijakan terkait kualitas daging yang mereka sajikan. Diharapkan dengan pemaparan hasil survei akan mendorong lebih banyak lagi jaringan restoran cepat saji yang  tergerak untuk menerapkan kebijakan pengurangan antibiotik secara rutin pada ternak di semua penyedia bahan baku daging bagi restoran mereka.

Tekanan dari pasar (terutama konsumen) saja, tentunya tidak cukup untuk membendung laju resistensi antibiotik. Pemerintah perlu turun tangan dengan membuat dan mengawasi pelaksanaan peraturan dan perundang-undangan yang membatasi penggunaan antibiotik pada ternak penghasil bahan pangan. Penggunaan antibiotik hendaknya terbatas hanya bagi hewan ternak yang sakit saja, tidak lagi digunakan sebagai pemicu pertumbuhan (growth promotor) dan upaya pencegahan munculnya penyakit pada hewan ternak. Dengan demikian laju perkembangan dan penyebaran superbug dapat diperlambat atau bahkan dihentikan. (syl)

Sumber : Chain Reaction 2, 2016

Share artikel ini: