Marianka

Putra pertama saya lahir normal usia 35 minggu berat = 2,8 kg & pjg = 46 cm. Sekarang usia 11 bln berat = 10 kg & pj = 73 cm. Setelah imunisasi DPT 3 & Polio 4 mengalami demam 2 hari. Pada hari ke-4 & 5, demam tinggi 38,5 derajat C dan diberi Tempra (paracetamol) tapi panasnya tdk turun. BAB encer 4x sehari dan sering kecepirit tapi putra saya masih aktif bermain.
Pada hari ke-6 tengah malam saya ukur dengan termometer biasa, suhunya 40,5 derajat C, tapi putra saya tertidur pulas. Kemudian saya bawa ke UGD RS. Harapan Kita, diinfus & opname.
Selama 10 jam pertama di RS, putra saya masih demam 38,5 derajat C meskipun diberi obat turun panas dan pada saat dimasukan obat turun panas dari dubur langsung BAB encer dgn jumlah banyak. DSA memberi obat Paracetamol 125, Urineg, Lacto b, Smecta. DSA menyatakan tes darah urine baik hanya tes feses menunjukkan adanya jamur.
Putra saya hanya dirawat sehari karena terus menangis tidak mau diam, setelah 19 jam panasnya turun dan diperbolehkan pulang. DSA memberikan tambahan obat Candidistis. Obat dari RS hanya saya berikan selama 3 hari di rumah dan obat Candidistis belum saya berikan karena ragu-ragu akan efek sampingnya.
Sekarang suhu tubuhnya 36 derajat C, BAB 2x sehari terkadang padat/encer. Tidur 11-12 jam dalam 24 jam. Pola makan minum dalam 24 jam : 3x sehari tim instan, jeruk 1 bh, susu Chil Mil 500 ml, air putih 200 ml.

Pertanyaan saya :

Apakah obat dari DSA Candidistis masih perlu diberikan, apakah efek sampingnya sesuai di brosur yaitu gastrointestinal, mual, muntah, & diare?

Apa penyebab adanya jamur di feses & apakah berbahaya?

Apakah makanan tim instan seduh tidak berbahaya bila dikonsumsi sejak usia 8 bln hingga sekarang (11 bln)?

Apakah paracetamol, acetaminophen atau ibuprofen yang efektif aman bagi bayi?

Normalkah tumbuh kembang putra saya, sekarang baru belajar berdiri dengan merambat dan tubuhnya masih belum seimbang saat duduk merangkak?

Bagaimana dengan pola makan & minum putra saya apakah perlu tambahan vitamin?

Demikian saya sampaikan, jawaban Dokter saya nantikan. Atas bantuan Dokter, saya ucapkan terima kasih.

JAWABAN

Pertama, tingginya demam tidak otomatis menyiratkan bahwa penyakitnya berat. Bahaya demam adalah dehidrasi, jadi yang paling penting saat anak demam adalah perhatikan perilakunya, kalau tidur terus menerus dan tidak atau sulit dibangunkan, nah barulah kamu harus cemas.

Kedua, saat anak demam, berikan minum lebih banyak dari biasanya.

Ketiga: diare. Anak demam tinggi, pasti sistem pencernaannya sedikit banyak terganggu karena ensim pencernaan terkena dampak dari suhu yg tinggi (ensim kan suatu protein dan suhu tinggi akan merusak protein – sehingga fungsinya terganggu). Jadi, expected bahwa pola BAB anakmu berubah, menjadi lebih cair dari biasanya. Tapi rasanya anakmu belum masuk kriteria diare karena definisi diare adalah BAB cair, dalam jumlah besar setiap kali si anak BAB, dan frekuensinya 6 kali atau lebih.

Keempat: jamur pada tinja. Pada dasarnya, saluran cerna kita mulai dari mulut sampai anus penuh dengan bakteri alias kuman. Namun demikian, kuman ini merupakan kuman baik yang membantu pencernaan kita, membantu mengolah makanan yang kita makan menjadi makanan yang bergizi, serta membantu membentuk vit B dan vitamin K. Selain itu, kuman baik ini mencegah maraknya kuman yang jahat di usus kita. Nah, pemberian antibiotika ketika tidak ada infeksi kuman (terbukti dari lab nya yang normal), tentunya lantas kita berpikir, siapa yg dibunuh oleh antibiotika tsb? tentunya kuman baik yang ada di sal cerna kita.
Nah akibat matinya kuman baik ini, maka terjadi kevakuman dan kavling yang semula ditempati oleh kuman baik akan diisi oleh kuman jahat termasuk jamur. Namun demikian, jamur ini hanya sementara saja kok, kecuali kita menderita gangguan sistem imun dimana sistem imun kita amat sangat menurun seperti pada penderita HIV, atau pasien pasca transplantasi organ. TIDAK PERLU OBAT ANTI JAMUR. Jadi kamu sudah benar, tidak usah berikan anti jamurnya.

Kelima: pola makan. Wah anakmu kan sudah 11 bulan ya sebentar lagi di usia 12 bulan seharusnya dia sudah makan apa yg kita makan; jangan terlalu lembek lagi dan perkenalkan banyak serat dalam makanannya. Nah, kalau pada pasien saya dan para orang tua yang mengikuti kelompok edukasi, saya selalu nyatakan bahwa feeding itu bukan sekedar memberikan makanan ….
Feeeding merupakan proses belajar bagi si anak; feeding juga harus merupakan adventure dan harus entertaining alias menyenangkan. Perkenalkan anak pada berbagai variasi makanan termasuk sayur dan buah. Dan makan, tidak harus bubur susu atau nasi tim; kentang puree, ubi kukus, labu siam kukus, alpukat/apel/per dll juga makan. Buatlah menu yang bervariasi bagi anak, sesedikit mungkin penggunaan makanan instan kecuali kamu bepergian dan repot. Ok good luck

Dijawab oleh: Wati

Share artikel ini: