Pada zaman sebelum abad 20, jika seorang bayi tidak dapat disusui oleh ibunya (ibu meninggal atau bayi tersebut ditelantarkan) maka bayi itu akan dicarikan ibu susu, yaitu seorang wanita yang dalam fase menyusui bayinya. Apabila bayi-bayi tersebut tidak mendapatkan ibu susu, maka susu hewan akan diberikan kepadanya (pilihan paling sering adalah susu sapi). Belakangan diketahui bahwa pemberian susu sapi pada bayi baru lahir menyebabkan berbagai penyakit dan kematian karena komposisinya yang tidak sesuai dengan kebutuhan bayi manusia.

Pada tahun 1890, para ilmuwan menemukan racikan formula yang dibuat dari susu sapi, madu, gula dan air yang menyerupai ASI. Susu formula tersebut dinilai lebih aman dikonsumsi oleh bayi baru lahir dibandingkan dengan susu murni dari hewan. Kandungan dan komposisi susu formula terus berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan perubahan komposisi susu formula semata-mata adalah menciptakan nutrisi pengganti ASI yang ‘semirip’ mungkin dengan ASI.

Pada tahun 2001, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa, susu formula yang dapat digunakan sebagai pengganti ASI harus sesuai dengan standar Codex Alimentarius. Codex alimentarius berasal dari bahasa Latin yang artinya “Buku makanan” merupakan panduan dan standar mengenai makanan dan keamanannya. Codex no 72-1981 mengatur mengenai standar keamanan, komposisi, dan regulasi susu formula sebagai pengganti ASI ataupun sebagai makanan tambahan. Pada tahun 2003, WHO dan UNICEF membuat program ‘strategi global mengenai pemberian makan pada bayi dan anak’ dan salah satu rekomendasinya adalah semua produk makanan apapun yang diberikan kepada bayi dan anak harus sesuai dengan standar codex alimentarius. Berdasarkan hal tersebut, maka susu formula dengan berbagai macam merk sebenernya memiliki kandungan standar yang sama.

Indikasi penggunaan susu formula adalah sebagai berikut:

  1. Bayi –bayi yang ditelantarkan (bayi-bayi yang terdapat dip anti asuhan).
  2. Bayi adopsi
  3. Ibu sakit kritis sehingga tidak mampu menyusui.
  4. Ibu mengidap HIV positif.
  5. Ibu mengalami gangguan jiwa yang dapat mencelakai bayi jika menyusui
  6. Ibu menggunakan obat-obatan yang dapat membahayakan bayi jika menyusui.
  7. Bayi mengalami gangguan nutrisi. Bayi dengan gizi buruk misalnya harus diberikan terapi nutrisi. Dalam kasus ini pemberian susu formula sebagai terapi untuk pengobatan.
  8. Bayi yang menderita kelainan bawaan seperti galaktosemia (tidak mampu mencerna jenis karbohidrat yang terdapat dalam ASI).
  9. Bayi-bayi yang tinggal dalam lokasi konflik, perang, atau bencana seringkali tidak terpisah dengan ibunya dan kesulitan mendapat ibu susu.

Dalam perkembangannya, banyak masalah terjadi terkait dengan susu formula terutama dalam hal pemasaran. Susu formula yang awalnya diciptakan untuk kesejahteraan bayi-bayi yang tidak mendapat ASI telah menjadi pengganti ASI bagi bayi-bayi yang sebenarnya layak dan mampu mendapat ASI.

Susu formula menjadi komoditi dagang yang cukup besar baik di Negara maju maupun berkembang. Di Amerika Serikat, masalah etika periklanan susu formula kerap kali muncul sedangkan di Inggris sejak tahun 1995 iklan susu formula adalah illegal. Bagaimana di Indonesia? (WIN)

Share artikel ini: