Pentingnya Kesadaran Akan Bahaya Obat dan Adverse Drug Reaction (ADR)

Setiap kali Anda ke dokter apakah Anda selalu meminta obat untuk keluhan Anda? Ataukah setiap kali anak Anda sakit Anda baru merasa tenang saat dokter memberikan obat untuk persediaan di rumah? Apakah Anda berpendapat setiap kali sakit dengan minum obat maka sakit akan hilang? Atau untuk anak, Anda sudah tidak sembarangan memberikan obat , tetapi bila Anda sakit apapun obatnya pasti Anda minum yang utama cepat sembuh?

Pengetahuan dan kesadaran akan bahaya obat sekarang disebarluaskan kepada masyarakat. WHO dengan konsep “Patient Safety” mengupayakan agar layanan kesehatan berorientasi bagi keselamatan pasien. Salah satu bagian dari keselamatan pasien adalah keselamatan dari obat-obatan karena obat-obatan dapat menimbulkan efek obat yang tidak diinginkan (ADR).

Laporan di US adverse drug reaction (ADR) /  efek obat yang tidak diinginkan menyebabkan lebih dari 770.000 kesakitan dan kematian setiap tahun dan biaya 5,6 juta dolar setiap rumah sakit tergantung berat ringannya. Pasien dengan ADR dirawat rata-rata 8-12 hari lebih lama daripada pasien yang tidak menderita ADR dan biaya perawatan 16.000 – 24.000 dolar. Sekitar 28-95% ADR dapat dicegah dengan mengurangi kesalahan pengobatan melalui cara komputerisasi.

Menurut Agency for Healthcare Research Quality US, bentuk kesalahan yang berhubungan dengan efek obat yang tidak diinginkan adalah :

  • Kesalahan dosis
  • Pemberian yang salah
  • Permintaan obat yang tidak sesuai
  • Duplikasi terapi
  • Interaksi obat
  • Faktor peralatan
  • Pemantauan yang tidak optimal
  • Penyediaan obat yang salah

Efek obat yang tidak diinginkan bisa berakibat ringan sampai berat bahkan kematian. Karena ADR dapat dicegah maka sudah sepatutnya dibangun kesadaran dan sistem mengenai keamanan obat.

Konsumen

Pemberian informasi mengenai tanda-tanda ADR harus disosialisasikan kepada konsumen. Sosialisasi bisa melalui dokter, suster, apoteker dan layanan masyarakat serta media. Bila terjadi ADR maka konsumen harus segera melaporkan kepada dokter dan rumah sakit serta badan pemantauan efek obat yang tidak diinginkan (bila sudah terbentuk).

Tanda-tanda ADR adalah :

  • Ruam di kulit
  • Perubahan frekuensi pernapasan, denyut jantung, pendengaran atau kesadaran
  • Kejang
  • Anafilaksis / alergi berat
  • Diare
  • Demam

Kesadaran konsumen sangat penting karena bila terjadi ADR maka pasien yang paling menanggung akibatnya, sementara hal ini dapat dicegah. Pasien juga harus menginformasikan semua riwayat kesehatan dirinya, riwayat pengobatan, riwayat alergi dan obat/vitamin/suplemen apa saja yang sedang dikonsumsi. Konsumen akan sangat membantu tenaga kesehatan bila memiliki catatan kesehatan. Sehingga walaupun konsumen berganti layanan kesehatan (rumah sakit/klinik) tidak akan terjadi kebingungan atau memberikan obat yang dahulu menyebabkan alergi bila riwayat kesehatan konsumen terdokumentasikan dengan baik.

Dokter

Dokter berperan dalam pemilihan obat yang sesuai dengan diagnosis pasien. Penghindaran off label use dari obat, terapi sesuai panduan pelayanan medis. Dokter juga mengedukasi pasien mengenai terapi yang diberikan dan menggali informasi seputar kesehatan pasien. Bila menemukan ADR maka dokter berkewajiban untuk melaporkan hal tersebut kedalam laporan rumah sakit dan badan pemantauan efek obat nasional. Kadangkala saat menemukan satu kasus dokter tidak melaporkan dan menganggap hal itu sebagai kejadian biasa, sebetulnya hal itu tidak boleh terjadi karena berapapun ADR harus dilaporkan sebagai salah satu cara pemantauan obat setelah pemasaran (post marketing surveillance). Peran dokter sangat penting karena semakin cepat pelaporan ADR masuk maka semakin cepat obat tersebut dievaluasi kembali sehingga tidak menunggu gangguan yang lebih berat dan banyak di masyarakat.

Layanan kesehatan

Rumah sakit dapat melakukan pemantauan kepada pasien saat di rumah. Pendekatan aktif dengan menghubungi pasien saat mengkonsumsi obat dan menanyakan efek yang muncul akan lebih cepat mendeteksi ADR sehingga bila ADR muncul dapat dicegah perburukannya.

Sistem komputerisasi di rumah sakit dapat membantu meminimalisir kesalahan dalam pengobatan. Sistem online dapat membuat farmasi bisa langsung menanyakan kepada dokter perihal pengobatan dan dosisnya. Informasi tentang obat di komputer dapat membantu dokter dalam memilih obat sesuai diagnosis dan dalam memberikan keterangan kepada pasien seputar obat dan efek yang dapat ditimbulkan. Bila sudah tercipta sistem online antara rumah sakit dengan layanan kesehatan primer, maka dokter di rumah sakit dapat lansung mengirimkan data pasien kepada dokter keluarga. Bila sistem online belum tercipta, maka dokter di rumah sakit dapat memberikan resume kepada dokter keluarga mengenai tatalaksana yang didapat pasien di rumah sakit, ADR dan obat penyebabnya.

Layanan farmasi di rumah sakit juga memberikan informasi seputar ADR kepada pasien.

Pemerintah

Badan pemantauan Efek samping obat dapat diintegrasikan dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pemantauan setelah pemasaran (post marketing surveillance) dari suatu obat sebaiknya menjadi salah satu syarat dalam ijin edar suatu obat. Evaluasi izin edar suatu obat harus dievaluasi. Bila timbul ADR maka dapat diupayakan informasi tertulis kepada dokter atau modifikasi dari label obat untuk mencantumkan ADR yang baru diketahui timbul. Bila ADR sangat berbahaya maka obat harus dipertimbangkan untuk ditarik izin edarnya.

Laporan ADR harus diambil secara aktif dari konsumen, dokter, rumah sakit dan pengguna obat lainnya.

Pabrik Obat

Pabrik obat berkewajiban untuk melakukan pemantauan ADR setelah obat dipasarkan. Bila terdapat ADR maka informasi harus didistribusikan kepada apoteker dan dokter dan penggantian/ modifikasi label obat.

Semua pihak harus berpartisipasi secara aktif dalam meningkatkan kesadaran akan bahaya obat dan ADR. Tujuannya adalah untuk melindungi kesehatan masyarakat banyak. Untuk itu jangan anggap sepele efek yang Anda rasakan setelah minum obat bila tidak sesuai yang diharapkan. Laporan Anda dapat menyelamatkan orang banyak.

(YSK)

Sumber

1.Reducing and Preventing Adverse Drug Events To Decrease Hospital Costs. http://www.ahrq.gov/qual/aderia/aderia.htm

2.Pilians, Peter Ian. Clinical Perspectives in Drug Safety and Adverse Drug Reactions. http://www.medscape.com/viewarticle/583670

Share artikel ini: