Cukup sering kita temui anjuran dari pemerintah maupun lembaga layanan masyarakat untuk memberikan obat cacing rutin setiap 6 bulan kepada anak. Benarkah semua itu diperlukan?

Cacingan merupakan masalah di Negara-negara berkembang. Cacingan terutama menyerang anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Selain mempengaruhi gizi, cacingan dapat menyebabkan menurunkan produktivitas, kecerdasan, dan daya tahan tubuh.

Pada tahun 2006, Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan keputusan berkaitan dengan pemberantasan cacingan. Program tersebut bertujuan untuk menurunkan prevalensi kecacingan dan memberantas rantai hidup cacing.

Penanggulangan cacingan dibagi menjadi 3 yaitu:

  1. Pengobatan
  2. Pencegahan
  3. Promotif

Pengobatan kecacingan yaitu memberikan obat cacing yang aman, efektif, tersedia, harga terjangkau,dapat membunuh beberapa jenis cacing dan dapat membunuh cacing, larva dan telur. Pengobatan kecacingan dibagi menjadi dua pendekatan yaitu blanket treatment dan selective treatment. Pengobatan secara blanket treatment adalah pemberian obat cacing bagi populasi berisiko, tanpa melihat apakah pemeriksaan tinja positif atau tidak.  Pengobatan blanket treatment juga dilakukan pada daerah yang sulit terjangkau, tidak ada pemeriksaan laboratorium dan pernah didapatkan data lebih dari 30% masyarakat menderita cacingan. Pemberian  obat secara blanket treatment harus disertai dengan perbaikan sanitasi, kebersihan lingkungan dan diri sendiri, penyuluhan masyarakat. Program blanket treatment boleh dilakukan maksimal 3 tahun, setelah itu diharapkan adanya fasilitas pemeriksaan tinja. Sedangkan selective treatment adalah pemberian obat cacing pada pasien yang terbukti mengidap cacingan dari pemeriksaan tinja.

Populasi yang menjadi sasaran blanket treatment:

–           Masyarakat golongan sosial ekonomi rendah

–          Lingkungan perumahan kumuh (di pinggir rel kereta, pinggir sungai, daerah terpencil, fasilitas kamar mandi bersama-sama dengan kepala keluarga lain, sulit air bersih)

–          Tidak terjangkau untuk ke laboratorium atau tidak tersedia fasilitas laboratorium

–          Tidak tersedia dana untuk melakukan pemeriksaan tinja

–          Kondisi geografis yang buruk, transportasi yang sulit

–          Intensitas cacingan tinggi

–          Terdapat data >30% populasi menderita cacingan

–          Daerah nelayan, daerah petani

–          Desa tertinggal

–          Daerah perkotaan yang kumuh

–          Daerah industri yang memenuhi syarat di atas

Pada populasi yang tidak memenuhi persyaratan di atas, pemberian obat cacing berdasarkan selective treatment. (WIN)

Sumber: KEMENKES 2006 Pedoman pengendalian cacingan.

Share artikel ini: