Telinga terdiri dari beberapa bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar terdiri dari daun telinga yang menjadi tempat hiasan anting-anting bagi anak perempuan dan liang telinga. Telinga luar berfungsi menangkap suara, menentukan asal suara, dan melipatgandakan frekuensi suara. Telinga tengah terdiri dari gendang telinga (membran timpani), tulang-tulang pendengaran yang berfungsi sebagai penguat suara. Telinga bagian dalam berupa sel rambut (karena bentuknya yang halus seperti rambut)yang tersusun melingkar seperti siput dan berfungsi mengubah suara menjadi sinyal elektrik yang akan diteruskan ke sel-sel saraf pendengaran di dalam otak. Perlu diingat bahwa telinga adalah pengantar suara dan pada dasarnya otaklah yang mendengar. Berbagai proses rumit terjadi di dalam otak yang menghubungkan antara proses pendengaran, kemampuan berbahasa dan proses bicara. Evaluasi pendengaran tidak lengkap tanpa disertai evaluasi kemampuan bicara karena keduanya merupakan  satu proses yang saling berkaitan. Pemeriksaan fungsi pendengaran bertujuan untuk menilai berbagai fungsi telinga, menemukan letak kelainan pendengaran dan melakukan deteksi dini gangguan pendengaran.

Pemeriksaan otoacoustic emissions

Salah satu jenis pemeriksaan pendengaran adalah otoacoustic emissions (OAE).Otoacoustic emissions (OAE) mengukur getaran suara dalam liang telinga yang dihasilkan dari getaran sel rambut pada telinga bagian dalam, rangsangan suara diberikan oleh alat OAE tersebut. Pada proses terjadinya pendengaran, sel rambut pada telinga dalam bergetar dan bertindak sebagai amplifier (penguat) suara untuk  dihantarkan ke saraf-saraf pendengaran. Energi dari getaran sel rambut ini sebagian kecil diteruskan ke dalam telinga tengah dan menggetarkan membran timpani, sedikit sisa energy getar diteruskan ke dalam liang telinga, getaran ini yang diukur oleh alat OAE. Energi getar tersebut dianggap mewakili fungsi sel rambut opada telinga dalam. Dengan prinsip tersebut di atas, pemeriksaan OAE sebaiknya di tempat yang tenang sehingga kebisingan lingkungan tidak mempengaruhi hasil.

Prosedur peemeriksaan OAE yaitu sebuah alat kecil di masukkan ke dalam liang telinga, alat tersebut juga bertindak sebagai penghasil suara mini yang merangsang proses pendengaran, getaran suara yang ditangkap oleh sel rambut akan dipantulkan kembali ke dalam liang telinga dan ditangkap oleh mikrofon mini.

Pemeriksaan OAE cukup disukai untuk mendeteksi kelainan pendengaran pada anak karena pemeriksaannya yang cukup mudah, tidak menyakitkan, anak tidak perlu ditidurkan, tidak memerlukan obat-obatan khusus, hasilnya tidak dipengaruhi oleh fungsi otak lain seperti kemampuan kognitif, perilaku anak, sikap dan motivasi anak. Selain itu pemeriksaan OAE dapat menilai fungsi masing-masing telinga kiri dan kanan karena hasilnya tidak dipengaruhi oleh fungsi telinga lainnya.

Terdapat tiga langkah untuk menterjemahkan hasil dari pemeriksaan OAE, pertama adalah menilai kebisingan lingkungan, makin rendah kebisingan lingkungan saat dilakukan OAE maka makin akurat nilau uji OAE tersebut (kebisingan di bawah 10dB sangat dianjurkan), kedua menilai apakah dalam pemeriksaan telah dilakukan beberapa kali dengan hasil yang sama, ketiga menilai perbedaan antara getaran dari alat dengan getaran dari kebisingan lingkungan, adanya perbedaan  > 6dB dapat diartikan “pass” yaitu fungsi sel rambut bagian dalam dianggap tidak mengalami kerusakan. Meskipun demikian, belum dapat dipastikan fungsi pendengaran normal seutuhnya tetapi dengan normalnya pemeriksaan OAE dapat disimpulkan tidak ada gangguan pendengaran berat.

Pemeriksaan OAE biasanya digunakan untuk:

–         Skrining pendengaran pada bayi

–         Skrining pendengaran pada anak sekolah

–         Pemantauan fungsi pendengaran pada anak yang menggunakan obat-obatan ototoksik (obat yang dapat merusak fungsi pendengaran)

–         Mendiagnosis gangguan pendengaran pada anak

Pemeriksaan auditory brainstem response

Selain pemeriksaan OAE terdapat uji pendengaran lain yang umum dilakukan untuk skrining pendengaran pada anak yaitu auditory brainstem response (ABR). Pemeriksaan ABR bertujuan untuk menilai proses pendengaran yang terjadi di dalam otak dengan merekam gelombang elektrik pada saraf otak. Terdapat beberapa tahap alur pendengaran dari saraf pendengaran di telinga tengah sampai ke bagian otak yang menterjemahkan suara tersebut dan menimbulkan persepsi linguistik. Pemeriksaan ABR dapat menilai tahap-tahap tersebut dengan merekam gelombang listrik yang terjadi dalam otak saat mendengar. Sebuah penghasil suara mini diletakkan pada kedua liang telinga pasien dan sepasang elektroda dilekatkan di belakang telinga untuk merekam gelombang listrik yang terjadi. Kelainan dari bentuk gelombang menandakan adanya gangguan proses pendengaran. Berdasarkan prinsip tersebut, ABR digunakan untuk mengkonfirmasi kelainan pendengaran yang disebabkan oleh gangguan saraf.

Joint Committee Infant Hearing tahun 2000 merekomendasikan pemeriksaan ABR untuk bayi yang memiliki setidaknya satu faktor risiko berikut:

–         Adanya tanda-tanda keterlambatan perkembangan yang ditemukan oleh orang tua atau pengasuh.

–         Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran

–         Adanya kelainan bawaan lain yang biasanya disertai dengan gangguan pendengaran

–         Infeksi saat kelahiran misalnya  infeksi selaput otak (meningitis)

–         Infeksi dalam kandungan seperti infeksi virus sitomegalo, herpes, rubella, sifilis atau toxopalsma.

–         Bayi dengan riwayat hiperbilirubinemia yang sangat tinggi, pernah mengalami transfusi tukar, pemakaian ventilator (alat bantu nafas), atau adanya kelainan bentuk wajah dan tulang tengkorak.

–         Infeksi telinga tengah berulang

–         Penggunaan obat-obatan ototoksik

Pemeriksaan ABR memerlukan lingkungan yang tenang dan bebas bising dan anak harus tenang bahkan sebaiknya ditidurkan.

Hasil yang abnormal pada pemeriksaan skrining pendengaran tidak selalu menunjukkan adanya gangguan pendengaran, hal tersering yang menimbulkan positif palsu adalah adanya gangguan di telinga tengah seperti bendungan cairan atau infeksi. Pemeriksaan dapat diulang satu minggu kemudian untuk mengkonfirmasi kelainan tersebut. Sebaliknya hasil yang normal tidak selalu aman, pemeriksaan sebaiknya diulang setiap 6 bulan pada bayi atau anak yang memiliki risiko seperti disebutkan di atas.

Bagaimana mendeteksi gangguan pendengaran di rumah?

Beberapa tips menilai fungsi pendengaran anak di rumah:

–         Bayi baru lahir akan menunjukkan gerakan terkejut saat ada suara keras.

–         Saat usia 3 bulan, bayi sudah mengenali suara orang tuanya.

–         Saat usia 6 bulan, bayi dapat memalingkan kepala ke arah suara dan berespon saat dipanggil.

–         Saat usia 12 bulan, bayi dapat mengucapkan “mama”, “bye-bye” dan mengikuti kata-kata tertentu.(WIN)

Sumber :

  1. Hearing evaluation in children. Thierry Morlet. www.kidshealth.com
  2. Auditory brainstem response audiometry, Neil Bhattacharyya, www.emedicine.medscape.com
  3. Pediatricians guide to otoacoustic Emissions, www.maico-diagnostics.com
Share artikel ini: