Time out(waktu jeda) sebagai sebuah teknik disiplin

Waktu jeda adalah teknik disiplin yang menempatkan anak di sebuah tempat yang sangat membosankan untuk beberapa menit setelah perilaku yang tidak dapat diterima terjadi. Waktu jeda berarti rehat dari semua segala perhatian. Banyak orang tua yang menemukan waktu jeda sebagai sarana efektif memperbaiki perilaku anak daripada memukul, menjerit, berteriak dan efektif menurunkan perilaku bermasalah seperti tantrum, memukul.

Beberapa orang tua mengatakan sudah melakukan waktu jeda tetapi tidak berhasil. Hal ini terjadi kebanyakan karena waktu jeda tidak digunakan secara benar. Sangat penting prosedur waktu jeda diikuti dengan baik, hanya membutuhkan sedikit perubahan dalam prosedur untuk membuat waktu jeda yang efektif menjadi tidak efektif.

Konsistensi sangat penting. Orang tua sebaiknya memastikan semua orang dewasa yang mendisiplinkan anak mereka menggunakan teknik yang sama. Prosedur waktu jeda umumnya sesuai untuk anak usia 18 bulan sampai 10 tahun.

Untuk perilaku apa waktu jeda sebaiknya digunakan?

  • Anak sebaiknya ditempatkan pada waktu jeda bila tidak mengikuti perintah orang tua. Jika anak tidak mengikuti perintah orang tua dalam waktu 5 detik maka waktu jeda sebaiknya dilakukan. Orang tua sebaiknya jangan memberikan perintah jika mereka tidak siap untuk tegas. Orang tua sebaiknya juga tidak memberikan peringatan lebih dari satu kali sebelum menggunakan waktu jeda. Anak akan dengan mudah belajar orang tua bersungguh-sungguh setelah satu kali atau setelah 5 kali peringatan. Dengan hanya memberikan satu peringatan akan menurunkan frustasi dan kemungkinan emosi.
  • Anak sebaiknya ditempatkan pada waktu jeda untuk perilaku yang tidak dapat diterima. Perilaku yang orang tua putuskan tidak dapat diterima seperti tantrum, memukul, menggigit, melanggar aturan rumah. Konsistensi sangat penting, sehingga orang tua perlu untuk menentukan sebelumnya perilaku-perilaku apa yang mereka setujui untuk dikenakan waktu jeda. Saat orang tua baru memulai waktu jeda, lebih baik bila fokus kepada satu atau dua masalah perilaku, setelah perilaku tersebut membaik maka orang tua dapat menambahkan perilaku-perilaku yang lain yang dapat dikenakan waktu jeda. Anak sebaiknya ditempatkan pada waktu jeda setiap kali perilaku yang tidak dapat diterima terjadi.
  • Anak sebaiknya ditempatkan pada waktu jeda untuk perilaku yang berbahaya. Waktu jeda sebaiknya digunakan saat anak melakukan sesuatu yang berbahaya atau bisa membahayakan.

Memilih tempat untuk pelaksanaan waktu jeda

Saat orang tua memutuskan untuk menggunakan waktu jeda maka perlu memilih satu atau dua tempat di rumah untuk tempat pelaksanaan waktu jeda. Panduan yang dapat membantu dalam memilih tempat untuk pelaksanaan waktu jeda :

v  Pilih tempat yang jauh dari mainan, televisi, radio, jendela dan hal-hal lain yang bersifat menghibur

v  Sebaiknya tidak ada benda yang mudah pecah di sekitarnya

v  Baik sekali untuk menempatkan anak duduk di kursi selama waktu jeda. Kursi yang dipergunakan sebaiknya kursi dapur dengan punggung rata daripada kursi yang nyaman atau yang bagus. Kursi besar lebih disukai dari kursi anak.

v  Kamar tidur anak bukan tempat yang baik untuk waktu jeda. Kamar tidur anak seringkali terdapat banyak barang untuk menghibur anak.

v  Tempat yang baik seringkali kursi di lorong atau pojok ruangan

v  Jika menggunakan ruangan terpisah maka jangan matikan lampu. Hal ini hanya akan menakuti anak-anak. Tujuan dari waktu jeda adalah memindahkan anak dari perhatian bukan menakuti mereka.

Mempersiapkan anak untuk waktu jeda

Sebelum menggunakan waktu jeda untuk disiplin orang tua sebaiknya menjelaskan dengan singkat kepada anak mereka sesuai tingkat pemahamannya. Orang tua sebaiknya memberitahukan anak mereka bahwa mereka akan menggunakan waktu jeda sebagai disiplin bukan berteriak, menjerit atau mengancam. Orang tua juga sebaiknya memberitahukan anak mereka perilaku-perilaku apa saja yang akan berakibat waktu jeda. Anak sebaiknya diberitahukan terdapat 2 aturan mengenai waktu jeda :

  • Anak perlu untuk tetap diam selama waktu jeda. Orang tua sebaiknya memberitahukan bahwa waktu jeda tidak akan dimulai sampai anak diam dan akan dimulai dari awal kembali jika anak berbicara atau membuat banyak suara.
  • Anak harus tetap berada di kursi sampai mereka diperkenankan untuk turun dari kursi. Orang tua sebaiknya memberitahukan anak mereka jika mereka turun dari kursi sebelum diperkenankan maka waktu jeda akan diulang kembali. Batita tidak bisa diharapkan mengingat aturan tersebut, mereka perlu belajar dengan mengalami aturan tersebut saat mereka berbicara atau turun dari kursi tanpa persetujuan selama waktu jeda. Bahkan anak yang lebih tua pun tidak akan mematuhinya kecuali orang tua tegas. Setelah menjelaskan maka orang tua dan anak dapat berlatih. Orang tua dapat berkata kepada anak seakan-akan sebuah aturan telah dilanggar, kemudian orang tua membimbing anak melaksanankan prosedur waktu jeda. Orang tua sebaiknya memuji anak setelah latihan untuk mempelajari prosedur tersebut.

Mengirim anak untuk waktu jeda

  • Segera setelah anak melakukan perilaku yang tidak dapat diterima maka orang tua sebaiknya memberitahukan anak, “Karena kamu … (apa yang mereka lakukan), kamu harus menjalani waktu jeda.” Orang tua sebiknya mengatakan ini satu kali. Orang tua harus tetap tenang tetapi dengan suara tegas. Orang tua sebaiknya tidak menggunakan lebih dari satu kalimat dalam mengatakan anak harus menjalani waktu jeda. Orang tua juga sebaiknya segera menempatkan anak ke waktu jeda segera setelah perilaku anak menjadi tidak dapat diterima, tidak perlu menunggu sampai anak menjadi tantrum. Penting sekali bagi orang tua untuk tidak berteriak. Orang tua harus setenang mungkin.
  • Tetap tenang
  • Jangan menggurui, berdebat atau mengkritik
  • Jangan menerima alasan apapun
  • Jangan berbicara dengan anak selama perjalanan menuju kursi. Orang tua sebaiknya tidak berbicara apapun sampai waktu jeda berakhir
  • Jika anak tidak segera pergi ke tempat waktu jeda, maka orang tua dapat membimbingnya (pegang tangan anak dan arahkan ke kursi). Jika anak menolak maka orang tua sebaiknya menggendong anak menuju kursi.
  • Abaikan teriakan, protes dan janji untuk menjadi baik

Apa yang dilakukan selama anak dalam waktu jeda

Saat orang tua pertama kali menggunakan waktu jeda maka anak dapat berteriak atau menangis. Hal ini normal dan orang tua sebaiknya mengabaikan saja. Sangat penting untuk siapapun mengabaikan anak yang sedang menjalani waktu jeda. Saudara yang mengganggu adik/kakaknya yang sedang menjalani waktu jeda sebaiknya dikenakan waktu jeda juga. Sebaiknya tidak ada yang berbicara atau kontak mata dengan anak yang sedang menjalani waktu jeda. Semua protes dan kerewelan sebaiknya diacuhkan. Saat anak menjalani waktu jeda maka orang tua sebaiknya melakukan aktifitas seperti biasa. Orang tua sebaiknya tidak berdiri menunggu waktu jeda berakhir. Anak perlu melihat bahwa anggota keluarga yang lain tidak terganggu dengan waktu jeda.

Dianjurkan orang tua menggunakan jam weker untuk mencatat waktu jeda. Saat anak sudah duduk di kursi dan tenang maka orang tua menjalankan waktu jam (alarm). Sebagai aturan umum disarankan waktu jeda berlangsung satu menit untuk tiap usia anak sampai maksimal 5 menit. Waktu ini merupakan waktu untuk tenang. Jika anak mulai berbicara atau mencari perhatian maka waktu diulang kembali.

Orang tua tidak perlu mengajarkan atau mengingatkan anak tentang aturan diam. Mereka akan mendapat pesan tersebut dengan melihat orang tua mengulang waktu di jam.

Jika  anak turun dari kursi sebelum waktu jeda selesai maka orang tua sebaiknya segera berkata “tidak” dengan suara tegas dan menempatkan anak kembali di kursi. Kemudian mengatur ulang jam untuk mengukur waktu jeda.

Apa yang dilakukan saat periode waktu jeda berakhir

Setelah anak duduk dan diam selama waktu jeda maka alarm jam akan berbunyi. Hal ini bukan tanda anak untuk turun dari kursi, orang tualah yang menentukan apakah anak sudah bisa turun atau belum dari kursi. Saat waktu jeda berakhir orang tua sebaiknya menanyakan anak apakah mereka sudah siap untuk turun dari kursi atau belum. Jika jawabannya “ya” maka orang tua sebaiknya mengatakan bahwa waktu jeda sudah berakhir. Jika jawabannya negatif (atau anak masih marah) maka orang tua sebaiknya pergi dan kembali mengatur alarm untuk waktu jeda. Orang tua sebaiknya tidak mengajarkan anak mereka mengenai kenapa anak menjalani waktu jeda.

Jika anak dikenai waktu jeda karena tidak menuruti perintah (contoh membersihkan mainan) maka setelah waktu jeda berakhir anak diminta untuk melakukan perintah tersebut. Jika anak mengikuti perintah maka orang tua sebaiknya mengatakan sesuatu seperti ,” Saya suka saat kamu melakukan apa yang diminta.” Jika anak tidak melakukan kembali maka anak mengikuti waktu jeda berikutnya. Butuh beberapa kali sebelum anak belajar bahwa orang tua bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka katakana.

Setelah waktu jeda, penting untuk orang tua memuji perilaku yang sesuai dari anak.

Menggunakan waktu jeda di luar rumah

Disarankan untuk orang tua menggunakan waktu jeda di rumah saja sampai orang tua dan anak mempelajari prosedurnya. Saat anak secara konsisten mendapat waktu jeda dengan sedikit keluhan maka orang tua dapat mulai menggunakannya di luar rumah. Pada tempat yang tidak tersedia kursi maka orang tua dapat mengganti dengan berdiri di pojok, duduk di tangga atau berdiri di ujung lantai. Hal yang perlu diingat adalah orang tua jangan pernah meninggalkan anak mereka tidak terjaga di tempat umum.

Waktu masuk (time in)

Hal yang sangat penting untuk membuat waktu jeda berjalan baik adalah apa yang dilakukan jika anak berlaku baik. Sangat penting untuk orang tua untuk tidak menganggap biasa saja perilaku anak yang baik, tetapi orang tua sebaiknya memberitahukan anak dengan pujian atau perhatian fisik saat mereka berlaku baik.

Sumber :

Time-out. Center for effective parenting

http://www.parenting-ed.org/handouts/timeout.pdf

Share artikel ini: