DUKA DAN KEHILANGAN

PANDUAN SEDERHANA UNTUK PARA ORANG TUA

Tumbuh kembang adalah sebuah proses perubahan yang mencakup proses kehilangan juga proses mendapatkan sesuatu. Bagi anak-anak, perubahan seperti mulai masuk ke tempat penitipan, sekolah, menginap di rumah seorang kawan, berganti ruang kelas dan guru, atau kehilangan binatang peliharaan, teman atau seorang anggota keluarga, semuanya membawa pengalaman baru dan menjadi pembelajaran. Anak-anak bisa belajar untuk menerima dan menghadapi peristiwa-peristiwa seperti itu yang akan terjadi sepanjang hidup mereka, tergantung pada dukungan yang mereka terima dan bagaimana peristiwa seperti ini mereka hadapi sejak dini.

Anak-anak bisa merasakan duka dan perasaan ini dapat mereka hadapi pada usia yang masih dini, namun tidak dengan cara yang sama dengan orang dewasa. Anak-anak mungkin akan lebih menunjukkan kedukaan mereka dengan cara yang tidak langsung daripada yang dilakukan oleh orang dewasa. Anak-anak tidak terus menerus merasakan dukanya. Satu hari mereka terlihat baik-baik saja dan hari berikutnya mereka bisa saja terlihat tidak dapat mengendalikan diri karena terlalu berduka.

Anak-anak seringkali butuh sesuatu yang lebih saat mereka merasakan kehilangan, yang dapat mengakibatkan mereka menunjukkan perilaku yang penuh tuntutan karena mereka mencoba untuk mendapatkan kedekatan, kasih sayang, informasi, kepastian dan dukungan dari orang dewasa. Pengalaman merasakan kehilangan pada tiap anak memiliki efek pengaruh yang berbeda-beda. Usia, kematangan emosional, keadaan saat kehilangan tersebut terjadi, dan ‘kedekatan’ hubungan dengan orang atau apapun yang hilang dari kehidupan seorang anak, adalah faktor-faktor yang sangat penting. Sangat penting untuk melihat setiap anak dengan cara yang berbeda dan mencari jalan keluar yang terbaik untuk membantu anak tersebut.

Saat Dimana Anak-anak Merasa Berduka

Ada saat dimana anak-anak merasakan kedukaan yang sama dengan orang dewasa, misalnya:

  • Saat orang tua pergi atau meninggal dunia
  • Saat ada perpisahan dalam keluarga atau ada keluarga yang mengalami perpisahan
  • Kehilangan teman atau pertemanan
  • Kehilangan hewan peliharaan
  • Mengalami kecacatan
  • Kehilangan benda kenangan karena banjir atau kebakaran
  • Kehilangan budaya atau tanah air saat pindah ke negeri lain
  • Saat kakek atau nenek meninggal dunia
  • Pindah rumah atau pindah sekolah
  • Berpisah dalam jangka waktu yang lama dengan ayah atau ibu
  • Masuk rumah sakit

Ada juga saat-saat dimana anak-anak berduka karena sesuatu yang dianggap sepele oleh orang deweasa, misalnya kehilangan selimut.

Pemahaman anak-anak atas suatu kehilangan

Anak-anak Prasekolah

Pada tahun-tahun awal sebelum mereka mulai sekolah, anak-anak tidak memahami bahwa kematian itu adalah sesuatu yang abadi.

Mereka merasa berduka saat mereka kehilangan seseorang yang dekat dengan mereka. Dampak dari kehilangan ini mungkin akan lebih besar di usia dini karena mereka tidak benar-benar memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka tidak paham mana yang nyata dan mana yang tidak nyata, dan mereka mungkin percaya bahwa keinginan merekalah yang menyebabkan orang tersebut pergi. Bagi anak-anak kehilangan seseorang yang menyayangi mereka adalah tekanan yang sangat berat sehingga perlu banyak waktu dan cinta untuk dapat mengatasinya. Mungkin bisa dianggap seakan-akan mereka kehilangan bagian dari diri mereka sendiri.

Anak-anak kecil yang belum mengenal kata-kata yang bisa digunakan untuk menjelaskan perasaan dan biasanya akan menunjukkan perasaan mereka melalui perilaku. Mereka akan menjadi lebih manja dan rewel atau tiba-tiba timbul masalah saat Anda harus memisahkan diri dengan mereka. Anak-anak seringkali bersikap sangat baik pada orang-orang yang sedang berduka bahkan akan mencoba untuk menenangkan mereka dan kemudian anak-anak itu akan kembali bermain.

Tahun-tahun Awal sekolah

Anak-anak mulai belajar bahwa kematian adalah sesuatu yang sifatnya kekal. Mereka mulai menyadari bahwa bila seseorang meninggal dunia orang tersebut tidak akan kembali lagi, namun mereka perlu untuk mendengar berulang-ulang penjelasan mengenai apa yang terjadi. Beberapa anak ada yang merasa bertanggung jawab atas terjadinya kematian atau perpisahan itu dan berpikir bahwa peristiwa tersebut terjadi karena mereka nakal. Mereka juga bisa merasa khawatir akan kehilangan ayah atau ibu mereka. Mereka akan bicara apa adanya tentang kematian dan ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin, seperti apa yang akan terjadi pada tubuh orang yang sudah mati. Mereka mungkin tidak menyadari apa yang mereka rasakan atau mengetahui kata-kata untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan, namun Anda dapat melihatnya dalam perilaku dan cara mereka bermain.

Tahun-tahun Akhir Sekolah Dasar

Saat ini anak-anak sudah dapat memahami bahwa kematian adalah sesuatu yang sifatnya permanen. Mereka juga dapat memahami mengapa kematian terjadi, misalnya, karena sakit, kecelakaan, atau karena usia. Mereka dapat mengungkapkan perasaan mereka dengan lebih baik meskipun mereka tidak selalu bersedia mengungkapkannya. Mereka tidak akan terlalu menyalahkan diri mereka atas apa yang terjadi, namun mereka bisa menyalahkan orang lain, misalnya, menyalahkan ibu atau ayah atas perceraian yang terjadi di antara kedua orang tuanya.

Mereka memiliki perasaan yang kuat atas apa yang salah dan yang benar dan mungkin mereka juga akan memiliki ingatan yang kuat atas apa yang telah terjadi. Mereka mungkin akan tertarik dengan kehidupan setelah mati dan ingin tahu apa akan terjadi saat itu dan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat spiritual.

Dengan bertambahnya usia, anak-anak juga akan lebih dapat memahami apa yang dialami oleh orang lain.

Duka pada para remaja

Para remaja berduka dengan cara yang kurang lebih sama dengan orang dewasa, namun karena pada tingkat pertumbuhan ini para remaja sering merasakan emosi yang ‘naik turun’, mereka bisa menderita depresi karenanya. Remaja bisa merasakan dampak yang sangat besar akibat kesedihan yang mereka rasakan setelah putus hubungan, perpisahan orang tua atau kematian seseorang yang dekat dengan mereka. Mereka bisa menutup diri, tertekan dan mudah marah. Mereka mungkin lebih suka mendapatkan dukungan dan menghabiskan waktu bersama kawan-kawan mereka daripada dengan keluarga. Namun, mereka masih perlu merasakan bahwa anda tetap berada di sana untuk mereka bila mereka perlu bicara.

Anak-anak muda seringkali menunjukkan kesedihan dengan bertingkah menunjukkan sikap marah untuk menutupi apa yang mereka rasakan di dasar hati mereka. Ada yang pada akhirnya menggunakan obat-obatan atau alkohol, mengebut atau melakukan hal-hal yang berbahaya. Anak-anak muda ini memerlukan banyak dukungan. Anak yang lain merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang aktif dan berisik seperti berlari, menari dengan musik yang disetel dengan suara keras, atau berolahraga bersama teman-teman mereka agar dapat menghadapi perasaan mereka yang sangat kuat. Tapi anak lain mencari ketenangan dengan bermusik, menulis puisi, berjalan sendirian atau berada di tempat yang sunyi untuk memahami rasa duka yang mereka rasakan.

Bila anak anda yang masih remaja menghadapi kehilangan besar seperti kematian seorang kawan, orang tua atau kakek-nenek yang dekat dengan mereka, mereka akan sangat terbantu bila diberi tugas untuk melakukan sesuatu di acara pemakaman atau bila mereka bisa melakukan sesuatu yang spesial untuk mengenang orang tersebut.

Bagaimana anak-anak menunjukkan rasa duka mereka

Anak-anak yang masih kecil pada khususnya, tidak mengetahui kata-kata yang bisa digunakan untuk mengungkapkan perasaan mereka sepeti yang biasa dilakukan oleh orang dewasa. Mereka bahkan tidak memahami apa yang mereka rasakan. Beberapa cara yang mereka tunjukkan untuk menunjukkan kesedihan mereka adalah:

  • Rasa sakit secara fisik, seperti sakit perut atau sakit kepala
  • Bermasalah dalam tidur, mimpi buruk
  • Masalah dalam hal makan, terlalu banyak atau terlalu sedikit makan
  • Bersikap destruktif
  • Bersikap seperti anak kecil (yang usianya lebih muda dari mereka)
  • Pura-pura marah saat bermain atau memainkan hal yang sama berulang-ulang
  • Tidak dapat berkonsentrasi untuk waktu yang lama
  • Masalah dengan pekerjaan rumah dari sekolah
  • Mudah marah
  • Bersikap jahat pada orang lain
  • ‘Bersikap acuh,’ seakan-akan mereka tidak mengalami apa yang sedang terjadi
  • bersikap lebih seperti orang dewasa
  • menunjukkan rasa takut
  • marah atau bersikap agresif terhadap teman, orang tua atau mainan
  • tantrum, mengamuk
  • tidak bahagia dan menyalahkan diri sendiri
  • cenderung untuk berpikir bahwa orang yang pergi itu adalah orang yang sempurna
  • menangis dan tertawa karena alasan yang tidak jelas
  • tidak ingin dipisahkan, manja, ingin selalu berada di dekat orang dewasa
  • melarikan diri, bolos sekolah, mencuri.

Saat-saat dimana sebuah keluarga mengalami kehilangan adalah saat yang sangat sulit bagi anak-anak

  • Orang-orang dewasa yang mencintai mereka mungkin tidak berada dalam posisi untuk memberikan dukungan pada anak-anak bila mereka sendiri sedang merasa gundah.
  • Ada saat-saat yang terasa sedikit ganjil untuk dihadapi, misalnya pemakaman, pindah rumah
  • Rutinitas yang tiba-tiba berubah
  • Orang-orang di sekitar mereka bersikap lain, terlihat sedih, menangis, tidak melakukan rutinitas
  • Anak-anak mungkin diminta untuk melakukan sesuatu yang berbeda, misalnya harus tenang, membantu, bersikap baik
  • Mereka tidak yakin apa yang harus dipikirkan atau dilakukan
  • Saat orang tua mereka meninggal dunia, anak-anak perlu merasakan (dengan dukungan yang penuh kasih sayang) bahwa mereka tidak akan ditelantarkan.

Catatan Khusus

Bantuan tenaga ahli diperlukan apabila seorang anak menunjukkan perilaku sebagai berikut:

  • Bicara soal tidak ingin hidup atau merasa lebih baik mati
  • Kelihatan terlalu sibuk dengan ide soal kematian
  • Kurang konsentrasi dan menarik diri di sekolah beberapa bulan setelah kejadian
  • Selalu menangis, sedih atau tertekan
  • Tidak mau bergabung dan bermain dengan anak-anak lain beberapa bulan setelah kejadian

Yang Bisa Dilakukan oleh Para Orangtua

  • Sediakan lingkungan yang aman bagi anak anda dimana ia dapat mengungkapkan perasaannya dengan cara apapun yang bisa ia lakukan. Bantu dirinya untuk menemukan cara agar dapat mengungkapkan perasaannya melalui permainan, main air, menulis surat, berceritera, puisi, lukisan atau gambar.
  • Berikan informasi yang benar dan jelas pada anak-anak dengan cara yang dapat mereka pahami. Jangan lupa bahwa anak-anak perlu tahu apa yang terjadi meskipun mereka tidak bertanya mengenai hal itu. Terkadang para orang tua begitu sibuk dengan kebutuhan mereka sendiri sehingga anak-anak mereka terlupakan. Anak-anak mungkin tidak terlihat sedih, meskipun menurut Anda seharusnya mereka bersedih, karena mereka masih tidak terlalu memahami apa arti semua yang terjadi di sekeliling mereka. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak sensitif, hanya saja mereka belum cukup umur untuk dapat memahaminya.
  • Berikan waktu pada anak-anak untuk bicara, mengajukan pertanyaan dan berbagi rasa dengan orang dewasa yang mengasuh mereka. Mereka mungkin amat bingung dan perlu untuk mengajukan banyak pertanyaan. Bila Anda tidak sanggup membicarakannya, cari orang dewasa lain yang memiliki hubungan cukup dekat dengan anak-anak untuk menjawab pertanyaan mereka. Bila anak-anak tidak mendapat kesempatan untuk membicarakan soal kehilangan tersebut bersama Anda, mereka bisa merasa bahwa hal itu tidak boleh dibicarakan dan mereka akan terus-menerus merasa bingung dan takut. Mungkin Anda harus menjawab satu pertanyaan yang sema berulang-ulang saat anak Anda belajar untuk memahami apa yang tengah terjadi.
  • Bila anak remaja Anda yang baru saja mengalami kehilangan bersikap penuh kemarahan atau menutup diri, cobalah untuk menyediakan waktu bagi dirinya untuk bicara tanpa mencoba untuk mendapatkan jawaban. Bila perilaku ini terus berlangsung, bicaralah pada seorang tenaga ahli kesehatan mengenai hal ini.
  • Cobalah untuk membuka jalan bila anak merasa tidak dapat membicarakan apa yang ia rasakan. Katakan, “Kadang kala ada hal-hal yang sulit untuk dibicarakan, namun membicarakan hal itu bisa membantu. Bila kau ingin bicara tentang apa yang terjadi, saya ada waktu.”
  • Bersikap jujur. Para orangtua terkadang berbohong pada anak-anak karena mereka ingin melindungi anak-anak mereka. Bila Anda tidak mengatakan pada mereka apa yang sesungguhnya terjadi, Anda mungkin menghalangi mereka untuk mengatasi rasa kehilangan dan duka yang mereka rasakan. Ini dapat menyebabkan timbulnya masalah bila mereka harus menghadapi rasa kehilangan lagi dalam hidup mereka.
  • Tetaplah melakukan rutinitas keluarga sebagaimana biasanya. Terlalu banyak perubahan akan menambah tekanan pada anak. Melakukan hal yang biasa dilakukan sebagaimana biasanya akan membantu anak-anak untuk merasa aman.
  • Pertimbangkan untuk membicarakan tentang adanya perubahan besar atau kehilangan yang baru saja terjadi dalam kehidupan anak Anda pada guru atau pengasuh anak Anda. Para guru dan teman-teman di sekolah bisa membantu untuk memberi dukungan pada anak Anda.
  • Buat peraturan tentang apa yang boleh dilakukan oleh anak Anda. Bila anda merasa bahwa mereka memanfaatkan situasi yang ada Anda akan mulai merasa kesal dan hal itu tidak akan membantu.
  • Keluarkan rasa duka yang Anda rasakan-jangan sembunyikan kesedihan Anda. Anak-anak akan merasa bahwa apa yang mereka rasakan adalah sesuatu yang normal dan merasa nyaman karena mengetahui bahwa apa yang mereka rasakan sama dengan apa yang dirasakan oleh anggota keluarga lain. Bia Anda betul-betul tertekan, bukanlah hal yang bijaksana untuk berbagi apa yang rasakan dengan anak-anak karena sangatlah penting bagi mereka untuk melihat bahwa Anda dalam keadaan terkendali dan bisa melindungi mereka.
  • Upacara seperti upacara pemakaman adalah sesuatu yang penting baik bagi anak-anak ataupun bagi orang dewasa untuk membantu memahami adanya perubahan besar dalam kehidupan mereka. Berbagi emosi dapat membantu seseorang untuk merasa terhubung dengan orang lain.
  • Carilah bantuan untuk diri Anda sendiri. Bicaralah pada pasangan atau kawan Anda. Ada agensi yang memberikan layanan konseling bagi mereka yang sedang berduka.
  • Ingat bahwa anak-anak berduka dengan cara yang berbeda. Masing-masing anak memiliki reaksi yang berbeda-beda, dan mereka merasakan kehilangan yang sama besarnya dengan orang dewasa, namun mereka menunjukkannya dengan cara yang berbeda.
  • Sediakan waktu lebih untuk merasakan kedekatan dan kenyamanan bagi anak-anak.
  • Bila keluarga Anda memiliki kepercayaan spritual, hal ini juga dapat menjadi pendukung bagi para orang tua dan anak-anak.
  • Bila Anda merasa bahwa memang sudah waktunya, bantu anak Anda untuk meneruskan kehidupan mereka dan mencoba sesuatu yang baru.

CATATAN: Kesedihan yang dialami oleh anak-anak dapat mempengaruhi orang dewasa secara personal, terutama bila mereka sendiri tengah berduka atau bila kejadian tersebut membuat mereka teringat akan kehilangan yang pernah mereka rasakan di masa lalu. Bila hal ini terjadi Anda harus dapat mengatasinya. Cobalah untuk bicara dengan seseorang yang dapat memberi dukungan, baik itu teman maupun tenaga ahli yang memiliki pemahaman tentang proses berduka, hal itu dapat membuat perbedaan.

HARAP DIINGAT

  • Anak-anak berduka dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa.
  • Lanjutkan rutinitas keluarga sebagaimana biasanya untuk memberikan rasa aman
  • Beritahu guru atau pengasuh anak Anda tentang apa yang terjadi
  • Jangan bergantung pada anak Anda untuk mendapatkan dukungan. Andalah yang yang memberi dukungan pada anak anda
  • Bersikap jujur, dapat dipercaya, dan dapat diandalkan
  • Berikan waktu khusus pada anak Anda untuk berbicara tentang perasaan mereka
  • Yang paling dibutuhkan oleh anak-anak dan remaja yang menghadapi kehilangan adalah dukungan dan kasih sayang dan orang yang bisa mereka ajak bicara mengenai hal tersebut.
  • Bila anak Anda kelihatan tidak mampu menghadapi kenyataan, cari bantuan.

Grief and Loss

http://www.parenting.sa.gov.au/pegs/Peg6.pdf

Winni M

Share artikel ini: