Latar belakang

Cedera kepala merupakan kejadian yang umum terjadi pada semua usia kanak-kanak. Penyebab trauma kepala mulai dari jatuh, kecelakaan olahraga, kecelakaan lalu lintas sampai kecelakaan yang tidak disengaja. Kunci utama dari tatalaksana trauma kepala adalah mencegah atau meminimalisasi cedera otak ikutan yang diakibatkan oleh hipoksia (kurangnya kadar oksigen dalam darah), gangguan aliran darah ke otak, perdarahan otak, hipoglikemia (kekurangan gula darah), kejang dan demam.

Bagaimana menilai trauma kepala:

Penialian awal dan resusitasi:

  • ABC: pastikan Airway (jalan napas) anak tidak ada yang menyumbat, tulang leher anak juga tidak ada trauma (jangan gerakkan anak bila curiga ada patah tulang leher) dan Circulation (jantung dan aliran darah) tidak terganggu.
  • Nilai kesadaran/status mental anak dengan menggunakan skala AVPU. Lakukan tekanan di atas bola mata untuk menilai respon nyeri (bila anak tidak respon terhadap panggilan)
  • A Alert: sadar sepenuhnya
  • V respond to Voice: anak hanya bangun atau respon bila dipanggil
  • P respond to Pain: anak hanya berespon dengan rangsang nyeri
    • Rangsang terhadap nyeri sesuai dengan arah nyeri
    • Rangsang nyeri tidak sesuai dengan arah nyeri yang diberikan
      • Rangsang fleksi
      • Rangsang ekstensi
      • U Unresponsive: tidak ada rangsang nyeri
      • Nilai respon pupil mata terhadap cahaya, ukuran kiri dan kanan

Alur Tatalaksana Awal Trauma Kepala

Penilaian lengkap:

  • Nilai kesadaran anak dengan skala koma glasgow (glasgow coma scale)
  • Niali leher dan tulang servikal
    • Adakah perubahan bentuk
    • Nyeri tekan
    • Kaku otot (muscle spasm)
    • Nilai kepala
      • Apakah terdapat kemerahan/benjolan (bruise) di kepala
      • Laserasi (robek)
      • Bengkak (swelling)
      • Nyeri tekan
      • Mata raccon
      • Kemerahan dibelakang telinga (battles sign)
      • Mata
        • Ukuran pupil
        • Ukuran kiri dan kana
        • Reaksi terhadap cahaya
        • Pemeriksaan funduskopi (adakah perdarahan retina)
        • Telinga
          • Apakah terdapat cairan (darah atau cairan sistem saraf pusat)
          • Hidung
            • Adakah perubahan bentuk
            • Bengkak
            • Perdarahan
            • Cairan dari sistem saraf pusat
            • Mulut
              • Trauma gigi
              • Luka pada gusi dan rongga mulut dalam
              • Wajah
                • Apakah ada nyeri tekan
                • Apakah ada krepitasi (udara di bawah kulit pada perabaan)
                • Fungsi motorik
                  • Refleks
                  • Tanda lateralisasi (tanyakan kepada dokter anda)

*kecurigaan adanya patah tulang dasar tengkorak

Riwayat yang harus diketahui

  • Waktu dan mekanisme kecelakaan
  • Keadaan saat terjadinya kejadian  contoh apakah kecelakaan, bukan kecelakaan, jatuh yang tidak diketahui penyebabnya (pertimbangkan kejang atau gangguan irama jantung)
  • Adakah kehilangan kesadaran dan berapa lama hal itu berlangsung
  • Mual dan muntah
  • Perjalanan klinis mulai dari kejadian sampai waktu pemeriksaan – stabil, penurunan, atau perbaikan
  • Luka-luka yang lain
  • Riwayat gangguan perdarahan sebelumnya

Pemeriksaan:

Pencitraan radiologi

  • Ada tanda patah tulang dasar tengkorak
  • Ada gangguan neurologis
  • Kecurigaan patah tulang kepala
  • Tidak respon terhadap rangsangan atau hanya respon terhadap rangsang nyeri
  • GCS < 8
  • Napas tidak teratur, tidak ada refleks muntah

Indikasi relatif:

  • Kehilangan kesadaran yang disaksikan oleh orang lain lebih dari 5 menit
  • Amnesia (tidak ingat kejadian sebelum atau setelah kejadian) lebih dari 5 menit
  • Muntah yang terus menerus
  • Kecurigaan kejadian bukan karena kecelakaan
  • Kejang setelah terjadinya kejadian (kecuali kejang singkat <2 menit saat kejadian)
  • Skala koma glasgow menetap kurang dari 14, atau untuk bayi kurang dari  1 tahun GCS <15, pada pemeriksaan di gawat darurat
  • Jika kurang dari 1 tahun, terdapatnya kemerahan, bengkak atau robek >5 cm pada kepala
  • Mekanisme kejadian yang berbahaya (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian)
  • Terdapat riwayat gangguan perdarahan

Pemeriksaan penunjang lain

–          Rontgen tulang servikal

–          Analisa gas darah, kadar gula darah

–          Elektrokardiografi (bila jatuh diduga karena aritmia)

Menilai derajat berat dari trauma kepala:

Minor

–          Tidak ada penurunan kesadaran

–          Satu kali episode muntah

–          Stabil, selalu dalam keadaan sadar

–          Dapat terdapat kemerahan atau luka di kepala

–          Pemeriksaan lengkap dalam batas normal

Sedang

–          Terdapat periode hilang kesadaran sesaat saat kejadian/trauma kepala

–          Sadar atau respon terhadap suara/panggilan

–          Dapat mengantuk

–          Dua atau lebih episode muntah

–          Sakit kepala yang menetap

–          Dapat mengalami satu episode kejang singkat (<2 menit) segera setelah kejadian

–          Dapat mengalami kemerahan, hematom atau luka yang besar

Berat

–          Penurunan kesadaran – respon hanya terhadap nyeri atau tidak ada respon

–          Tanda gangguan neurologis (pupil yang tidak sama ukurannya, kelemahan satu sisi)

–          Terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial:

  • Pupil yang membesar di satu sisi dan tidak respon terhadap rangsang cahaya
  • Napas tidak teratur
  • Tangan menekuk, kaki lurus (tidak dapat dilawan)

–          Luka tusuk kepala

–          Terdapat rembesan cairan saraf pusat (cairan otak) melalui hidung atau telinga

Tatalaksana

Trauma kepala ringan

  • Pasien dapat rawat jalan
  • Jika terdapat keraguan apakah terdapat periode hilang kesadaran maka dianggap terdapat periode kehilangan kesadaran dan tatalaksana sebagai trauma kepala sedang.
  • Pemberian antinyeri yang cukup.

Trauma kepala sedang

  • Tatalaksana ditujukan untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut. Tatalaksana adalah dengan menjaga kadar oksigen, pernapasan dan sirkulasi darah yang adekuat dan mencegah peningkatan tekanan di dalam kepala (tekanan intrakranial).
  • Lakukan pemeriksaan CT scan kepala dan tulang servikal.
  • Intubasi dan ventilasi mekanik dilakukan bila:
    • Anak tidak respon atau tidak ada respon terhadap nyeri
    • GCS menetap <8
    • Tidak ada refleks muntah
    • Pernapasan tidak teratur
    • Perawatan intensif (ICU)

Kriteria pulang

Pastikan keluarga pasien menjaga dan memantau pasien dan segera datang bila terdapat:

  • Anak menjadi tidak sadar atau sulit dibangunkan
  • Anak menjadi kebingungan
  • Anak terdapat kejang
  • Anak mengalami nyeri kepala yang menetap
  • Muntah lebih dari 1 kali
  • Terdapat perdarahan atau keluar cairan bening dari telinga atau hidung (anak tidak menangis). (Anto)

Sumber : rch.org.au

Share artikel ini: