Di lapangan:

Cukup sering melihat media massa berseliweran mengiklankan obat ampuh mengatasi asam lambung. Obat ini tergolong primadona, pun di kalangan pasien. Namun, benarkah asam lambung sesuatu yang ‘jahat’? sejauh mana harus ‘diobati’?

De Rhetorica:

  • Asam lambung adalah sesuatu yang ada dan alamiah dalam lambung. Fungsinya sangat berguna untuk mencerna makanan. Dan tak kalah penting, asam lambung berperan membunuh kuman yang “kebetulan” masuk ke dalam lambung lewat makanan.
  • Omeprazol adalah obat yang masuk golongan proton pump inhibitor (PPI), yaitu obat yang bekerja menekan produksi asam lambung dengan mekanisme menghambat kanal pompa proton. Contoh obat lain yang tergolong PPI adalah esomeprazol, lanzoprazol, dan pantoprazol.
  • Omeprazol sering diberikan pada penderita refluks gastroesofageal (gastroesophageal reflux disease/GERD). GERD adalah sebuah kondisi asam lambung yang naik ke esofagus dari lambung sehingga menimbulkan sensasi panas di dada (heartburn) dan esofagitis. Selain GERD, omeprazol juga digunakan untuk mengatasi ulkus di lambung dan usus halus.
  • Aturan minum: umumnya omeprazol dikonsumsi 1x/hari, satu jam sebelum sarapan. Pada kasus infeksi Helicobacter pylori (bakteri yang mengakibatkan ulkus), dapat diberikan 2-3x/hari.
  • Keamanan pada ibu hamil dan menyusui: cukup aman. Omeprazol dapat berada dalam air susu ibu namun tidak memberikan efek pada bayi.
  • PPI menduduki peringkat ke-3 penjualan obat terbanyak di AS sebesar 13,5 milyar dolar AS.
  • Hubungan PPI-infeksi saluran pernapasan:
    • Saluran pernapasan dan pencernaan mempunyai letak yang berbeda, namun semuanya bermula dari mulut, lalu tenggorokan, kemudian baru terbagi dua menjadi saluran ke arah paru-paru dan saluran ke lambung. Dalam kondisi normal, cairan lambung dapat naik ke atas kerongkongan (esofagus) dalam jumlah yang sangat sedikit. Dari kerongkongan, dapat masuk ke tenggorokan dan turun ke paru-paru. Peristiwa itu disebut aspirasi. Aspirasi yang ‘normal’ tidak menimbulkan penyakit/keluhan dan tubuh mempunyai proteksi alamiah untuk menghindari itu melalui batuk dan silia.
    • Ketika kadar keasaman dari cairan lambung berkurang (karena efek obat PPI), kuman yang berada di dalamnya tidak mati. Akibatnya ketika proses aspirasi terjadi dan sistem proteksi tubuh menurun (terutama pada lansia), kuman dapat masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan infeksi (pneumonia).
    • Studi Sultan dkk 2008: menemukan infeksi saluran pernapasan pada pasien yang mengonsumsi PPI adalah sebesar 4%, namun insiden untuk pneumonia tidak dijelaskan.
    • Studi Estborn dkk 2008: kasus pneumoni pada kelompok esomeprazol 0,22%, sedangkan kelompok plasebo 0,21%.
  • Hubungan PPI-patah tulang:
    • PPI mengganggu  penyerapan kalsium yang merupakan mineral penting bagi tulang. Bila kalsium tidak terserap, risiko osteoporosis mengintai. Beberapa studi tahun 2006 mengungkapkan semakin lama (sebuah studi menyebutkan konsumsi >6 tahun) dan semakin besar dosis PPI yang dikonsumsi, semakin tinggi pula risiko osteoporosis dan patah tulang. Hubungan PPI dengan patah tulang memang masih menjadi perdebatan. Studi 2009 mengungkapkan tidak ada perbedaan densitas massa tulang antara kelompok PPI dan non-PPI. Tahun 2010, FDA mengeluarkan peringatan kemungkinan efek samping/komplikasi patah tulang akibat PPI, meskipun FDA pun masih mengakui bahwa studi lebih lanjut dengan metode yang lebih baik masih perlu diperlukan. Studi 2012 di AS menunjukkan perawat usia pasca-menopause yang mengonsumsi PPI dalam 2 tahun terakhir mempunyai risiko patah tulang panggul lebih tinggi 35% dari kelompok non-PPI. Gaya hidup merokok semakin meningkatkan risiko patah tulang tersebut hingga 50%.
  • Hubungan PPI-anemia:
    • Tubuh memerlukan asam lambung untuk “melepas” ikatan vitamin B12 dari protein makanan agar dapat diserap. Asam lambung yang berkurang akibat PPI berisiko menurunkan penyerapan vitamin B12. Hal itu dibuktikan pada beberapa studi yang menemukan defisiensi vitamin B12 pada lansia yang mengonsumsi PPI. Setelah lansia tersebut diberi suplementasi vitamin B12 melalui semprotan hidung, kadar vitamin B12 meningkat tetapi tidak bila diberikan vitamin B12 oral. Akibat dari defisiensi vitamin B12 adalah anemia, gangguan saraf (neuropati), gangguan berjalan (gait disorder), dan demensia.
    • Selain vitamin B12, PPI juga dapat mengganggu penyerapan zat besi terutama jenis besi non-heme (besi yang berada di produk nabati). Asam lambung akan “melarutkan” besi non-heme menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh usus halus. Konsumsi PPI jangka panjang diklaim dapat menurunkan cadangan besi pada tubuh.
  • Kesimpulan:
    • Meskipun masih simpang siur, beberapa studi telah menunjukkan bahwa PPI bisa menimbulkan efek jangka panjang yang negatif. Oleh karena itu, perlu evaluasi apakah konsumsi PPI sudah terlalu sering atau terlalu dini. Beberapa makanan seperti coklat, kopi, dan makanan berlemak dapat menimbulkan GERD sehingga hindarilah makanan tersebut. Mengunyah permen karet juga bisa membantu mengurangi refluks asam lambung. Bila gejala heartburn dirasakan malam hari, posisi kepala saat tidur dapat ditinggikan. Pada akhirnya, diskusikan kembali dengan dokter.

Referensi:

  1. National Health Service. http://www.nhs.uk/medicine-guides/pages/MedicineOverview.aspx?condition=Gastro-oesophageal%20reflux%20disease&medicine=omeprazole
  2. US National Institutes of Health. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/meds/a693050.html
  3. Sultan N, dkk. Can J Gastroenterol. 2008;22:761-6.
  4. Estborn L, dkk. Drug Saf. 2008;31:627-36.
  5. Targownik LE et al. Gastroenterology. 2009.
  6. Khalili H, dkk. BMJ. 2012;344:e372.
  7. Ito T, dkk. Curr Gastroenterol Rep. 2010;12:448-57.
  8. Harvard Medical School. Harvard Health Publications 1 Februari 2009.
  9. FDA Consumer Health Information, May 2010.
Share artikel ini: