Di lapangan:

Hampir semua orangtua panik ketika mendapati buah hatinya batuk. Apalagi kalau terdengar dahak yang tidak bisa dikeluarkan. Gemes rasanya. Segala cara dilakukan. Salah satunya, obat pengencer dahak (mukolitik) yaitu f*******l (mengandung N-asetilsistein). Bahkan di salah satu blog, tertulis cerita bahwa si anak sudah “pintar” minta obat f*******l ketika batuk pilek.

Tak hanya anak, f*******l juga sering dikonsumsi dewasa. “Saya pernah flu berat saat hamil usia kandungan 5 bulan. Ke DSOG diberi f*******l. Beberapa kali minum langsung sembuh. Sekarang kalau flu langsung minum obat itu dan saya sembuh.”

De Rhetorica:

  • Mukus merupakan komponen penting pada saluran pernapasan yang berfungsi menjaga hidrasi organ paru dan mengusir kuman ke luar dari saluran pernafasan. Infeksi saluran pernapasan dapat mengganggu kualitas mukus dan kerja silia, misalnya mukus menjadi lebih kental dan banyak, serta silia tidak mampu mengeluarkan kuman.
  • Obat golongan mukolitik bekerja dengan cara mengencerkan atau mengurangi kekentalan dahak. N-asetilsistein (NAS) adalah salah satu contoh mukolitik.
  • Sediaan asetilsistein ada beberapa macam dan dapat diberikan per oral (sirup, tablet, granul/bubuk), intravena, dan inhalasi.
  • Semula NAS diperuntukkan sebagai antidot untuk overdosis asetaminofen/parasetamol. Akan tetapi, sekarang NAS mulai sering digunakan sebagai mukolitik. Di samping itu, NAS mempunyai sifat antioksidan dan antiinflamasi. Mekanisme antioksidan pada NAS dikarenakan NAS meningkatkan produksi glutation. Glutation berguna dalam sistem detoksifikasi terhadap berbagai macam radikal bebas dan xenobiotik.
  • Secara keseluruhan, dosis NAS 1200 mg per hari dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping ringan yang dapat timbul antara lain mual, muntah, diare, ruam kulit, flushing, nyeri ulu hati dan konstipasi; sedangkan efek samping berat pernah dilaporkan adalah sakit kepala, tinitus (telinga berdengung), urtikaria, dan reaksi anafilaksis.
  • Interaksi: NAS meningkatkan kerja nitrogliserin sehingga bila dikonsumsi bersamaan, pasien dapat mengalami hipotensi.
  • Kontraindikasi: pasien dengan riwayat asma atau bronkospasme.
  • Efektivitas:
    • Metaanalisis oleh Shen dkk menyimpulkan bahwa pemberian NAS dosis tinggi dan jangka waktu lama dapat menurunkan kejadian eksaserbasi pada penyakit paru obstruktif kronis. Kekentalan dahak dan frekuensi batuk juga berkurang. Hasil serupa juga ditemukan oleh metaanalisis Stey dkk dan uji acak Decramer dkk. Akan tetapi, systematic review oleh Sathe dkk tidak menemukan manfaat NAS pada fungsi paru dan hanya sedikit memberikan efek pada volume dan konsistensi sputum.
    • Studi pada dewasa menjelang musim influenza menemukan kelompok subjek yang mengonsumsi 600 mg NAS 2x/hari hanya 29%nya mengalami gejala klinis influenza dibanding 51% kelompok plasebo. Gejala klinis influenza pada kelompok NAS juga lebih ringan.
    • Pada anak yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut, studi Cochrane hanya menemukan sedikit manfaat setelah hari ke 6-7 terapi. Keamanan NAS cukup baik pada anak berusia >2 tahun, namun belum ada data keamanan pada anak berusia <2 tahun. Uji klinis pemakaian mukolitik pada anak masih relatif sedikit. Data saat ini belum menunjukkan manfaat NAS yang signifikan sebagai mukolitik.
  • Kesimpulan: indikasi utama pemberian NAS adalah overdosis asetaminofen. Manfaat NAS pada penyakit paru obstruktif kronis cukup terbukti, namun pada penyakit lain seperti influenza dan infeksi saluran pernapasan akut masih memerlukan hasil studi yang lebih konsisten.(Felix)

Referensi

Sathe NA, dkk. Respir Care. 2015;60:1061-70.

Duggal A, dkk. Minerva Anestesiol. 2015;81:567-88

Shen Y, dkk. COPD. 2014;11:351-8.

Duijvestijn YC, dkk. Cochrane Database Syst Rev. 2009;21:CD003124.

Decramer M, dkk. Lancet. 2005;365:1552-60.

De Flora S, dkk. Eur Respir J. 1997;10:1535-41.

Stey C, dkk. Eur Respir J. 2000;16:253-62.

Millea PJ. Am Fam Physician. 2009;80:265-9.

Share artikel ini: