Q: Apakah MERS itu?

A: MERS adalah penyakit infeksi saluran napas (termasuk paru-paru) yang disebabkan oleh virus bernama Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). MERS-CoV pertama diidentifikasi di Saudi Arabia pada tahun 2012.

Q: Apakah gejala-gejala MERS?

A: Seperti infeksi saluran napas lain yang disebabkan virus, gejala MERS adalah demam, batuk, dan sesak napas. Gejala-gejala ini dapat berkisar dari ringan dan sembuh sendiri dengan cepat, hingga berat dan menyebabkan kematian; tergantung pada kondisi kesehatan awal orang yang terinfeksi.

Karena kemiripan gejala dengan infeksi saluran napas lain, mendiagnosis MERS membutuhkan lebih banyak informasi termasuk riwayat kesehatan yang lengkap, riwayat perjalanan atau kontak dengan seseorang yang telah dikonfirmasi mengalami MERS, pemeriksaan fisik yang teliti, dan pemeriksaan laboratorium.

Q: Apakah pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan untuk mendiagnosis MERS?

A: Pemeriksaan yang dapat membantu diagnosis MERS adalah pemeriksaan lendir saluran pernapasan menggunakan teknik PCR (polymerase chain reaction) untuk mengidentifikasi protein khas virus penyebab MERS. Pemeriksaan ini di Indonesia tersedia di Laboratorium Rujukan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Pemeriksaan lain adalah dengan mengidentifikasi antibodi (zat kekebalan yang dibentuk tubuh) terhadap MERS-CoV. Namun karena antibodi membutuhkan waktu cukup lama untuk dibentuk setelah infeksi terjadi, pemeriksaan ini merupakan cara yang lebih tepat digunakan untuk melacak kasus yang telah terjadi, bukan untuk diagnosis kasus baru.

Q: Bagaimana MERS menular?

A: MERS menular melalui paparan terhadap lendir saluran pernapasan melalui bersin dan batuk. Hal ini dapat terjadi pada mereka yang merawat atau memiliki riwayat kontak dekat dengan seseorang yang menderita MERS.

MERS juga dapat ditularkan melalui kontak dengan unta. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bekerja dengan atau menangani unta memiliki risiko lebih besar untuk mengalami MERS dibanding orang yang tidak memiliki riwayat kontak dengan unta. Diperkirakan penularan terjadi melalui paparan terhadap lendir saluran napas, lendir mata, feses (tinja), air kencing (urin), dan susu. Unta yang terinfeksi MERS-CoV mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Dari hasil surveilans (pelacakan kasus) World Health Organization (WHO), diketahui bahwa sebagian besar penularan terjadi di fasilitas kesehatan tempat pasien dengan MERS dirawat.

Q: Siapakah yang berisiko tertular MERS?

A: Berikut adalah kelompok-kelompok dengan risiko tertular MERS:

  1. Orang-orang yang baru saja kembali dari mengunjungi semenanjung Arabia, termasuk haji atau umrah
  2. Orang-orang yang memiliki riwayat kontak dekat dengan seseorang yang telah dikonfirmasi menderita MERS
  3. Orang-orang yang memiliki riwayat kontak dengan orang yang mengalami gejala infeksi saluran napas yang berkunjung dari semenanjung Arabia, termasuk orang yang pulang haji atau umrah
  4. Orang-orang yang baru kembali dari mengunjungi fasilitas kesehatan di Korea Selatan
  5. Tenaga kesehatan yang terpapar lendir saluran napas dari pasien yang menderita atau dicurigai menderita MERS
  6. Orang-orang yang memiliki riwayat kontak dengan unta

Seseorang dalam kelompok-kelompok tersebut yang mengalami gejala infeksi saluran napas dalam 14 hari setelah paparan terakhir dianjurkan untuk diperiksa dengan tak lupa menyebutkan riwayat bepergian atau riwayat kontak dengan MERS.

Q: Siapakah yang berisiko mengalami penyakit berat dan kematian dari MERS?

A: 3-4 dari 10 kasus MERS berakhir dengan kematian. Risiko penyakit yang berat dan kematian meningkat pada pasien dengan diabetes mellitus, penyakit ginjal kronik, penyakit paru-paru kronik, dan kekebalan tubuh yang sangat rendah (misal: orang dengan AIDS, pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi, dan penerima transplantasi organ).

Q: Bagaimana mencegah penularan MERS?

A: Seperti mencegah penularan infeksi saluran napas pada umumnya, penularan MERS dapat dicegah dengan:

  • Mencuci tangan dengan baik: 20 detik dengan sabun atau dengan pembersih tangan alcohol-based
  • Menutup hidung dan mulut saat bersin atau batuk: gunakan lipat siku atau tissue yang lalu dibuang
  • Menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dicuci
  • Menghindari kontak personal dengan seseorang yang sedang sakit, seperti mencium atau menggunakan gelas yang sama untuk minum
  • Membersihkan permukaaan benda-benda yang sering disentuh seperti pegangan pintu
  • Menghindari kontak dengan unta, mencuci tangan dengan baik setelah menyentuh unta, tidak minum susu unta mentah atau makan daging unta yang belum benar-benar matang

Q: Sudah menyebar di mana sajakah MERS?

A: Hingga saat ini, MERS sudah menyebar di semenanjung Arabia dan sekitarnya termasuk Saudi Arabia, United Arab Emirates (UAE), Qatar, Oman, Jordan, Kuwait, Yaman, Lebanon, dan Iran. Selain itu, kasus MERS yang diawali dengan perjalanan ke semenanjung Arabia juga ditemukan di United Kingdom (UK), Perancis, Tunisia, Italia, Malaysia, Filipina, Yunani, Mesir, United States of America (USA), Belanda, Aljazair, Austria, Turki, Jerman, Korea Selatan, Tiongkok, dan Thailand.

Q: Apakah saya harus membatalkan rencana bepergian ke negara-negara dengan kasus MERS?

A: Tidak perlu, selama Anda bukan dalam kelompok dengan risiko tinggi untuk mengalami penyakit berat. Pastikan Anda melakukan langkah-langkah pencegahan seperti disebutkan di atas dan menghindari kunjungan ke fasilitas kesehatan. Jika Anda termasuk dalam kelompok dengan risiko tinggi untuk mengalami penyakit berat, Anda perlu mendiskusikan rencana bepergian tersebut dengan dokter Anda.

Q: Apakah MERS dapat disembuhkan?

A: Tidak ada obat khusus untuk MERS, termasuk antiviral. Antibiotik tidak bekerja terhadap MERS-CoV. Pasien dengan MERS yang membutuhkan perawatan di rumah sakit akan diberikan perawatan suportif yang ditentukan beratnya penyakit.

Disarikan dari sumber-sumber berikut oleh dr. Nurul I. Hariadi, FAAP

Share artikel ini: