(Eradix, Lanmer, Merobat, Merocef, Merofen,  Meronem, Meropex, Merosan, Merotik, Ronem, Tripenem)

Indikasi    1 :  infeksi bakteri aerob dan anaerob gram positif dan gram negatif.

Kontraindikasi1 :   tidak disebutkan

Perhatian1 :    sensitifitas terhadap antibakteri golongan beta laktam (hindari jika terdapat riwayat reaksi hipersensitifitas cepat); gangguan hati; gangguan ginjal; kehamilan; menyusui

Kehamilan :

  • Pabrik menyarankan untuk menggunakan hanya jika manfaat melebihi risiko- tidak ada informasi yang tersedia

Menyusui :

  • Kemungkinan tidak terserap (namun pabrik menyarankan untuk menghindari kecuali manfaat melebihi risiko)

Interaksi obat :

–          Antiepilepsi : meropenem mungkin mengurangi konsentrasi valproat dalam darah.

–          Estrogen : antibakteri yang tidak memicu enzim hati mungkin mengurangi efek kontrasepsi estrogen (risiko kemungkinan kecil).

–          Probenesid : pengeluaran meropenem dikurangi oleh probenesid (pabrik menyarankan untuk menghindari penggunaan bersamaan).

–          Vaksin : meropenem menginaktifkan vaksin oral typhoid.

Dosis :

  • Melalui injeksi intravena lebih dari 5 menit atau melalui infus intravena, 500 mg setiap 8 jam, dosis digandakan pada penumonia karena rumah sakit, peritonitis, sepsis dan infeksi pada pasien neutropenia; ANAK 3 bulan – 12 tahun (tidak dilisensikan untukk infeksi pada neutropenia) 10-20 mg/kg setiap 8 jam, lebih dari 50 kg dengan dosis dewasa

Meningitis, 2 gram setiap 8 jam; ANAK 3 bulan-12 tahun 40 mg/kg setiap 8 jam, lebih dari 50 kg dengan dosis dewasa

Kekambuhan infeksi kronik saluran napas atas pada cystic fibrosis, sampai 2 gram setiap 8 jam; ANAK 4-18 tahun 25-40 mg/kg setiap 8 jam

Sediaan

Vial 0,5 gram; 1 gram.

Efek samping1 :    mual, muntah, diare (dilaporkan colitis karena antibiotik), nyeri perut, gangguan tes fungsi hati; sakit kepala, trombositopenia, tes commb’s positif; ruam, gatal-gatal, reaksi tempat suntikan; agak jarang : eosinofilia, trombositopenia; jarang : kejang; juga dilaporkan paraestesia, leukopenia, anemia hemolitik, penurunan waktu PTT, steven johnson sindrom, dan epidermal nekrolisis toksik.

Share artikel ini: