Berita munculnya kasus cacar monyet pada warganegara Nigeria yang sedang berkunjung di Singapura cukup membuat was-was Indonesia sebagai negara tetangga. Apalagi berkunjung ke Singapura sudah menjadi hal lumrah bagi sebagian warga Indonesia. Supaya tidak cemas tanpa alasan jelas, yuk kita baca informasi berikut ini…

 

Apa itu cacar monyet?

  • Cacar monyet adalah penyakit zoonosis (penyakit pada hewan yang bisa menular ke manusia) yang disebabkan oleh virus cacar monyet.
  • Ditemukan pertama kali tahun 1958 pada dua ekor monyet yang menderita penyakit seperti cacar dalam koloni monyet penelitian di Denmark.
  • Kasus pada manusia pertama kali ditemukan pada 1970 di Republik Demokratik Kongo. Wilayah endemis monkeypox adalah Afrika Tengah dan Barat.

Tanda-tanda dan gejala

Masa inkubasi : 5-12 hari.

Fase prodormal:      Demam

Sakit kepala hebat

Limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening)

Nyeri punggung

Nyeri otot dan lemas

Fase erupsi (fase paling infeksius):

  • Muncul ruam atau lesi pada kulit, dimulai dari wajah kemudian secara bertahap menyebar ke bagian tubuh lain.
  • Muncul bintik merah seperti cacar (makulopapula), kemudian lepuh berisi cairan bening (blister), lalu berisi nanah (pustula) dan akhirnya mengering (krusta) atau menjadi keropeng serta rontok.
  • Dari mulai muncul bintik hingga rontok biasanya diperlukan waktu 3 minggu.

Monkeypox bisa sembuh dengan sendirinya dengan gejala yang umumnya berlangsung 14-21 hari.

Hewan penular

  • Monyet
  • Tupai
  • Tikus gambia
  • Prairie dog

Cara penularan

  • Kontak langsung (mengalami gigitan atau cakaran) dengan hewan terinfeksi virus cacar monyet (darah, cairan tubuh dan lesi kulit).
  • Kontak langsung dengan pasien (manusia) yang menderita cacar monyet – jarang terjadi
  • Kontak langsung dengan daging hewan yang terkontaminasi virus cacar monyet termasuk diantaranya mengolah dan mengkonsumsi daging.
  • Virus cacar monyet dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang rusak (luka), saluran pernafasan atau selaput lendir (mata, hidung atau mulut).

Diagnosis

  • Anamnesa dan pemeriksaan fisik.
  • Dipastikan dengan memeriksakan cairan lesi atau krusta ke laboratorium rujukan.

Perawatan

  • Tidak ada obat dan vaksinasi untuk cacar monyet.
  • Pengobatan hanya untuk meringankan keluhan penderita.
  • Penderita ditempatkan pada ruang isolasi untuk mencegah penularan.

Pencegahan

  • Perilaku hidup sehat dengan cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pembersih tangan berbahan dasar alkohol
  • Hindari kontak langsung dengan tikus atau hewan primata termasuk kontak langsung dengan darah dan daging yang tidak dimasak dengan baik.
  • Hindari kontak fisik dengan penderita cacar monyet, termasuk material yang terkontaminasi seperti tempat tidur dan pakaian yang digunakan penderita.
  • Hindari kontak langsung dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging hewan liar.
  • Pengunjung wilayah endemis cacar monyet yang mengalami demam tinggi mendadak, kelenjar getah bening membengkak dan ruam kulit dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah pulang, diharapkan segera memeriksakan diri dan menginformasikan riwayat perjalanan.
  • Petugas kesehatan atau orang yang merawat penderita cacar monyet wajib mengenakan sarung tangan, masker dan baju pelindung saat menangani penderita.(syl)

Tabel Perbedaan Cacar Air dan Cacar Monyet


Sumber:

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

2.  WHO

Share artikel ini: