Konferensi WHO tahun 1985 di Nairobi sudah mendefinisikan pengobatan yang rasional sebagai :

“Rational use of drugs requires that patients receive medications appropriate to their clinical needs, in doses that meet their own individual requirements for an adequate period of time, and the lowest cost to them and their community.”

Pengobatan menjadi tidak rasional saat : (artikel Masalah Pengobatan yang Tidak Rasional)

  • menggunaan obat saat tidak diindikasikan, contoh antibiotik untuk infeksi virus saluran napas atas
  • penggunaan obat yang salah untuk kondisi yang memang membutuhkan obat, contoh tetrasiklin pada anak diare yang membutuhkan cairan rehidrasi oral
  • penggunaan obat yang efektifitasnya diragukan atau tidak terbukti, contoh penggunaan antimotilitas pada diare akut
  • penggunaan obat yang status keamanannya diragukan, contoh dypirone
  • kegagalan untuk menyediakan obat yang aman dan efektif, contoh gagal vaksinasi campak atau tetanus, gagal meresepkan cairan rehidrasi oral untuk diare akut
  • penggunaan obat yang tepat dengan cara pemberian, dosis dan durasi yang tidak tepat, contoh penggunaan infus metronidazole saat sediaan oral tersedia
  • penggunaan obat-obat yang mahal dan tidak perlu, contoh generasi ketiga antimikroba saat generasi pertama spektrum sempit tersedia

Masalah pengobatan yang tidak rasional sudah menjadi masalah dunia karena 50% dari peresepan di dunia tidak sesuai, memberikan pemborosan obat dan biaya, dan menempatkan efek samping obat menjadi risiko yang dapat timbul bagi masyarakat. WHO sudah memberikan strategi menghadapi pengobatan yang tidak rasional ini. Dua belas langkah tersebut dinyatakan sebagai langkah yang sebaiknya dijalankan secara simultan. Artikel Rational Use of Medicine memberikan rencana WHO mengenai pelaksanaan pengobatan yang rasional.

Mempromosikan Pengobatan yang Rasional menyelamatkan jiwa dan menghemat dana, percayakah? Anda bisa lihat pada artikel tersebut. Obat-obat yang tidak perlu selain membuat pemborosan anggaran negara dan masyarakat, tentu memberikan risiko efek samping. Lalu bagaimana dengan obat racikan? Ternyata obat racikan juga menjadi polemik di negara lain seperti Amerika Serikat. FDA bahkan secara gamblang menyatakan bahwa FDA tidak menjamin keamanan dan keefektifan obat racikan. Artikel Obat Racikan dan Risiko dari Obat Racikan Farmasi mencoba menberikan gambaran dari negara lain.

Pembuatan obat disarankan dengan pedoman Cara Pembuatan Obat Baik (CPOB)- Good Manufacturing Practice (GMP). Obat buatan pabrik disarankan untuk melakukan hal ini untuk menjamin mutu obat, obat racikan belum memakai standar tersebut. Pentingnya CPOB dapat anda lihat dalam Tanya Jawab Seputar CPOB.

Mari kita belajar untukmeyakinkan diri untuk berperan serta dan mendukung pengobatan yang rasional, karena saat pengobatan sudah tidak rasional maka dalam bentuk apapun kemasan obat anda, itu tetap menjadi tidak rasional

Ikut sertakah anda bersama kami mempromosikan pengobatan yang rasional?

Salam SEHAT

Share artikel ini: