Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Suatu malam, di tahun 2010, sekilas saya melihat ada email baru di inbox saya. Berhubung si pengirim terbaca asing, saya skip, lanjut membaca email lainnya. Besok malamnya, saya buka lagi laptop. Ketemu lagi email yang kemarin saya skip. Kali ini saya baca. Sekilas. Eh dari ReAct International.

Singkat cerita, saya diundang ke Kuala Lumpur, pertemuan regional terkait ANTIBIOTIC RESISTANCE di Thailand.

Yang diundang, berbagai tokoh lintas sektor yang menjadi penggiat penggunaan antibiotik secara bijak.

Excited! Sejak 2003, isu tersebut sudah menjadi bagian dari program edukasi kami ke masyarakat. Berangkatlah saya. Disana kami diperkenalkan pada program Thailand yang dijuluki: ASU (Antibiotic Smart Use), icon-nya, anak laki-laki mengacungkan 3 jari:

SAY NO TO ANTIBIOTICS FOR 3 CONDITIONS:

1. SIMPLE WOUND

2. Batuk pilek

3. Diare tanpa darah.

Sangat menarik bagaimana Thailand bisa membina relawan (termasuk para biksu) untuk mensosialisasikan 3 hal tersebut ke pelosok negara, ke desa, ke gunung; didukung penuh oleh pemerintah, universitas dan jajaran akademisinya.

Sekembalinya di Indonesia, saya dan YOP, mengadaptasi ASU menjadi SALAM 2 JARI nya SUA. Kok 2? Bagaimana dengan Simple Wound? Tetap kami sosialisasikan di milis, di web, di PESAT.

Jadi?

JANGAN gunakan antibiotik pada Luka “sederhana” (contohnya, luka jahitan, termasuk “luka” pada sirkumsisi).

Sedihnya, sehari hari, kasus luka tersebut di atas, masih saja diresepkan antibiotik.

Padahal, itu luka steril. Proses penanganan lukanya, proses penjahitannya, dilakukan dalam kondisi steril. TIDAK PERLU mengonsumsi antibiotik!

Protect yourself and your family, and your community, from overuse and misuse, of antibiotics.

Jangan sampai, antibiotik menjadi dongeng, bagian dari sejarah yang sudah lampau.

Wati

Share artikel ini: