Setiap individu mempunyai sekitar 600 kelenjar getah bening yang tersebar di seluruh tubuh. Limfadenopati adalah perubahan ukuran dan konsistensi kelenjar getah bening (KGB). Apabila limfadenopati disertai tanda infeksi seperti nyeri dan kemerahan disebut limfadenitis.  Di dalam KGB terkandung banyak sel kekebalan tubuh. Ketika ada infeksi, KGB yang terletak dekat dengan daerah terinfeksi (muara dari KGB) akan membesar. Hal itu menandakan sel kekebalan tubuh sedang ‘berkembang biak’ untuk melawan infeksi tersebut.

Ukuran KGB dikatakan normal bila <1 cm di daerah leher dan ketiak, dan <1,5 cm di daerah selangkangan. Limfadenopati yang ditemukan di atas tulang selangka/klavikula perlu dicurigai keganasan [NB: tulang selangka terletak di atas tulang rusuk pertama].

Biopsi KGB dipertimbangkan bila:

  1. Ukuran KGB >2 cm
  2. Ukuran bertambah dalam 2 minggu
  3. Ukuran tidak berkurang setelah 4 minggu
  4. Lokasi di atas tulang selangka
  5. Konsistensi keras
  6. Kecurigaan limfoma pada Rontgen dada
  7. Demam, penurunan berat badan, dan pembesaran hati

Limfadenopati leher dibagi dua yaitu akut dan kronik.

Limfadenopati leher akut ditandai dengan ukuran KGB >10 mm, merah, dan nyeri; bisa juga teraba fluktuasi (seperti cairan di dalam benjolan) dan demam. Kuman penyebab biasanya Streptokokus atau Stafilokokus yang masuk dari infeksi sekitar mulut, tenggorokan, gigi, dan kulit kepala.

Limfadenopati leher kronik ditandai dengan pembesaran KGB lebih dari 2 minggu. Beberapa penyebab limfadenopati kronik adalah:

  1. Eksim/atopi: pembesaran KGB ditemukan di kepala bagian belakang, bilateral, dan tidak nyeri.
  2. Infeksi kronis: sitomegalovirus, tuberkulosis, toksoplasma, dan HIV.
  3. Keganasan: limfoma dan leukemia.
  4. Penyakit rematik: artritis reumatik juvenil dan lupus.

Limfadenopati akut diobati dengan antibiotik, atau drainase (mengeluarkan cairan) bila teraba fluktuasi. Sementara itu, limfadenopati kronik perlu diinvestigasi penyebabnya dengan pemeriksaan darah, Rontgen dada, CT-scan, USG, tes tuberkulin (Mantoux), dan biopsi eksisi.

Referensi:

  1. Royal Children’s Hospital Melbourne. http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/Cervical_lymphadenopathy/
  2. Nguyen T, Jekyll AM. http://learn.pediatrics.ubc.ca/body-systems/hematology-oncology/approach-to-lymphadenopathy-2/
  3. Sahai S. Lymphadenopathy. Ped Rev. 2013;34:216-26.
Share artikel ini: