Kriptorkismus (undescended testiscular) adalah kondisi testis berada di luar kantung kemaluan/skrotum. Kriptorkismus menjadi kelainan bawaan organ kemih-kelamin yang paling sering dijumpai pada anak laki-laki. Kondisi tersebut lebih sering dijumpai pada bayi berat lahir rendah, prematur, dan kembar. Pada beberapa kasus juga dijumpai pada anak dengan kelainan genetik/kromosom.

Dalam kondisi normal, testis mulai turun ke skrotum sejak usia kandungan 28 minggu. Saat lahir, hormon estrogen dari ibu akan terhenti dan digantikan oleh hormon testosteron yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari. Peningkatan kadar hormon testosteron mencapai puncak ketika usia 60 hari (2 bulan). Oleh karena itu, testis anak yang mengalami kriptorkismus perlu dipantau berkala dan diharapkan turun spontan pada usia 3-6 bulan.

Orangtua dan dokter perlu memeriksa ada tidaknya testis sejak lahir. Testis yang tidak berada di dalam skrotum bisa ditemukan di skrotum atas, kanalis inguinalis (sekitar selangkangan), atau di dalam perut. Kriptorkismus yang tidak ditangani dini mengakibatkan infertilitas, testis terpuntir (torsio) dan kanker testis.

American Academy of Pediatrics mengeluarkan rekomendasi penting berkaitan dengan kriptorkismus sebagai berikut:

  1. Rujuk bayi ke dokter bedah bila testis tidak turun spontan pada usia 6 bulan. Usia optimal tindakan operasi adalah 6-18 bulan untuk mencegah risiko infertilitas.
  2. Segera konsultasi ke dokter anak subspesialisi endokrinologi atau bedah subspesialis urologi anak bila didapatkan bayi laki-laki dengan kedua testis tidak teraba atau kriptorkismus disertai hipospadia untuk evaluasi kemungkinan gangguan perkembangan seksual.
  3. Tidak perlu melakukan ultrasonografi atau pemeriksaan diagnostik lain sebelum merujuk. Lebih dari 70% kriptorkismus dapat teraba oleh dokter yang sudah berpengalaman tanpa pemeriksaan diagnostik.
  4. Tidak menggunakan terapi hormon untuk merangsang penurunan testis sebab bukti menunjukkan tingkat keberhasilannya rendah (6-21%).
  5. Pemilihan teknik operasi (operasi terbuka atau laparoskopik) tergantung dari preferensi dokter bedah dan letak testis (skrotum, selangkangan, atau di dalam perut). Tingkat keberhasilan teknik operasi  pada testis yang teraba sekitar 96-100%, sedangkan yang tidak teraba 75-96%.

Setelah testis berhasil diturunkan dengan operasi, anak harus diajarkan untuk memeriksa testisnya sendiri setelah masa pubertas untuk mendeteksi dini kemungkinan kanker.(fx)

Referensi:

Kolon TF. http://www.aappublications.org/content/35/6/12.2

Callaghan P. http://pedsinreview.aappublications.org/content/21/11/395

Royal Children Hospital. http://www.rch.org.au/kidsinfo/fact_sheets/Undescended_testes/

Share artikel ini: