Layanan kesehatan adalah industri dengan risiko cedera (harmed) yang mengagetkan (1 berbanding 300). Jauh lebih tinggi ketimbang risiko cedera di industry penerbangan dan pembangkit tenaga nuklir. Namun demikian, sedikit sekali yang mengetahui hal ini. Oleh karena itu, sekitar setahun yang lalu, tepatnya 29 Maret 2017, WHO meluncurkan The Global patient Safety Challenge (Tantangan global terkait keselamatan pasien). Tujuannya adalah menurunkan angka kejadian perburukan kondisi pasien, mengurangi kesalahan perawatan atau kesalahan penatalaksanaan pasien (medical error) menjadi kurang dari 50% dalam kurun waktu 5 tahun sejak dicanangkan.

Berikut 10 fakta tentang keselamatan pasien menurut WHO:

  1. Di tingkat global, keselamatan pasien yang tercederai, berada di peringkat ke-14 penyebab besarnya beban biaya kesehatan. Beratnya beban ini sebanding dengan beban akibat penyakit seperti tuberkulosis dan malaria. Diperkirakan setiap tahun ada 421 juta pasien rawat inap dan sekitar 42,7 juta yang mengalami kejadian yang tidak diinginkan.
  2. Saat rawat inap, 1 dari 10 pasien, keselamatannya tercederai (di Negara berpenghasilan tinggi). Penyebabnya beragam salah satunya adalah kejadian yang tidak diinginkan (50% di antaranya sebenarnya, bisa dicegah dan dihindari). Di negara berpenghasilan rendah hingga menengah, persentase kejadian yang tidak diinginkan adalah 8%, dimana 83% di antaranya dapat dicegah dan 30% di antaranya menyebabkan kematian. Sekitar dua pertiga kejadian yang tidak diinginkan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ini.
  3. Penggunaan obat-obatan yang tidak aman telah mencederai keselamatan jutaan pasien dan menghabiskan biaya milyaran dollar (USD 42 milyar) setiap tahunnya.
  4. Sejumlah 15% dari biaya kesehatan ternyata merupakan biaya “sia-sia” karena habis terpakai akibat kejadian yang tidak diinginkan.
  5. Investasi yang bertujuan untuk mengurangi kejadian tercederainya keselamatan pasien, ternyata merupakan penghematan yang signifikan (bermakna).
  6. Infeksi nosokomial (infeksi yang diperoleh saat pasien di  rumah sakit), terjadi pada 14 orang dari 100 pasien yang ada di rumah sakit.
  7. Lebih dari satu juta pasien meninggal per tahun disebabkan komplikasi operasi
  8. Diagnosis yang tidak akurat atau diagnosisnya terlambat, mengacaukan semua tatanan terapi dan mencederai keselamatan banyak pasien.
  9. Penggunaan sarana radiologi telah meningkatkan kualitas layanan kesehatan, namun paparan radiasi berpengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan pasien.
  10. Kesalahan administratif di fasilitas kesehatan tingkat primer mencapai lebih dari separuh kesalahan perawatan (medical error).

Pelayanan kesehatan melibatkan setidaknya 3 pihak: pasien dan keluarga pasien selaku konsumen kesehatan, tenaga kesehatan dan institusi layanan kesehatan. Hubungan (relasi) ketiga pihak ini seharusnya berlandaskan saling percaya satu sama lain. Sedikitnya ada dua hal prinsip yang dibutuhkan untuk mewujudkan rasa saling percaya di antara ketiga pihak tersebut. Antara lain, (1) layanan kesehatan menjunjung profesionalisme (etis, kompeten dan transparan) serta (2) komunikasi di antara semua pihak yang dijalin dengan baik.

Salah satu cara meningkatkan kualitas dan keamanan layananan kesehatan adalah melibatkan pasien dan keluarganya secara aktif dalam proses perawatan atau pengobatan (patient family engagement). Keterlibatan pasien dan keluarganya sedari awal akan membantu proses penyembuhan penyakit dengan lebih baik. Maka hubungan dan kerjasama yang baik antara dokter dengan pasien adalah syarat utamanya.

Bagaimana bentuk keterlibatan pasien dan keluarganya?

Keterlibatan pasien dan keluarganya yang baik dapat terwujud bila didukung oleh penyedia layanan kesehatan, pasien dan keluarganya serta para pembuat kebijakan (pemerintah).

Dari sisi pasien dan keluarganya yang bisa dilakukan adalah:

  1. Mengetahui hak dan kewajiban sebagai pasien
  2. Meningkatkan literasi kesehatan, dengan cara mencari informasi kesehatan yang terpercaya.
  3. Memberikan umpan balik (feedback) berdasarkan pengalaman tentang kondisi kesehatan, perawatan dan pelayanan kesehatan yang pernah dialami.
  4. Mempersiapkan diri dengan data yang lengkap sebelum konsultasi dengan dokter (baca link : Konsultasi dokter).
  5. Terlibat aktif (dengan berdiskusi) dalam proses pengambilan keputusan terhadap tindak lanjut perawatan atau penanganan penyakit.
  6. Mengajak keluarga saat berkonsultasi dengan dokter agar dapat membantu mengingat (atau mencatat) hasil konsultasi.
  7. Menyimpan dengan rapi data kesehatan pribadi dan keluarga.

Keterlibatan pasien dan keluarganya di Indonesia

Di tataran legal formal, hubungan dokter, instansi  layanan kesehatan dan pasien di Indonesia secara umum sudah diatur dalam berbagai undang-undang dan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, yakni tentang hak dan kewajiban dokter, rumah sakit dan pasien.

Namun demikian, di tataran praktis, hubungan ketiga pihak ini masih timpang dan didominasi dokter dan institusi layanan kesehatan.

Fenomena yang marak terjadi saat ini di Indonesia adalah munculnya pemberitahuan dari institusi-institusi layanan kesehatan tentang larangan merekam tindakan dan perawatan medis dalam lingkungan institusi layanan kesehatan. Beberapa Undang-Undang dan peraturan pemerintah yang dipakai sebagai  dasar hukumnya adalah UU no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Peraturan Menteri Kesehatan nomer 36 tahun 2012 tentang Rahasia Kedokteran serta Peraturan Menteri Kesehatan no.69 tahun 2014 tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien. Pasal-pasal yang dipakai dari perundang-undangan tersebut adalah yang terkait dengan kerahasiaan rekam medis pasien.

Menurut UU no 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien,pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Rekam medis memang harus dilindungi kerahasiaannya, namun isi rekam medis itu sendiri adalah milik pasien, seperti yang tercantum pada pasal 47 UU yang sama.

Fenomena tersebut tentu saja menimbulkan bermacam-macam respon dari berbagai kalangan. Bagi sebagian besar dokter dan institusi kesehatan, larangan tersebut merupakan bentuk perlindungan diri dari potensi “ancaman” unggahan rekaman, baik berupa foto maupun video, di media sosial. Bagi pasien dan keluarga pasien, larangan tersebut makin membatasi keterlibatan mereka pada masalah kesehatan dan proses perawatan atau pengobatannya.

Larangan tersebut secara tidak langsung merupakan bentuk pernyataan ketidakpercayaan institusi layanan kesehatan dan dokter terhadap pasien dan keluarganya, menganggap mereka adalah pihak yang perlu diwaspadai dan dibatasi perilakunya. Tentu saja ini akan menimbulkan ketidaknyamanan, keengganan untuk terlibat aktif lebih jauh dalam proses perawatan atau pengobatan, dan akhirnya mempengaruhi keamanan atau keselamatan pasien itu sendiri.

Bagaimana menyikapinya sebagai pasien?

Untuk membangun kembali atau mempertahankan hubungan baik dokter-pasien, komunikasikanlah dengan sopan niat dan tujuan mendokumentasikan peristiwa saat berkonsultasi dengan dokter.  Misalnya: ”Permisi,Dok. Saya mau foto untuk kenang-kenangan, boleh kan?” dan sebagainya.

Dengan demikian diharapkan kepercayaan semua pihak terjaga sehingga hambatan komunikasi  dapat dikurangi, yang pada akhirnya mengurangi atau bahkan menghilangkan kemungkinan terjadi kesalahan dalam penanganan dan perawatan kesehatan pasien.

Kesehatan pasien, Tanggung jawab pasien juga

Proses pelayanan kesehatan diawali dengan kedatangan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter di institusi layanan kesehatan. Tokoh awal dan utama seharusnya adalah pasien. Proses awal munculnya keluhan yang mengetahui adalah pasien (dan keluarganya). Saat terapi diberikan yang mengetahui dan merasakan perubahan (membaik atau memburuk) juga pasien. Maka sudah sewajarnya apabila pasien berperan aktif dan mengambil tanggung jawab yang sama besarnya dengan dokter dalam keseluruhan proses ini.

Mari jalin hubungan yang sehat antara pasien,dokter dan institusi layanan kesehatan demi   layanan kesehatan di Indonesia yang lebih berkualitas. Ayo menjadi pasien yang terlibat aktif, karena kesehatan pasien adalah tanggung jawab pasien juga! (sylvi)

Referensi:

1. www.who.int

2. www.gmc-uk.org

3. http://patientsafety.health.org.uk/area-of-care/safety-management/patient-engagement

Share artikel ini: