Dengan mengetahui kebiasaan orang tua yang keliru dalam mengasuh anak, kita dapat membantu diri sendiri membangun pola asuh yang lebih baik.

Mengkritik dan menggerutu.

Perilaku seperti ini membuat anak merasa berada pada posisi yang salah. Mereka akan merasa jauh dari kata “anak baik”. Mereka dapat tumbuh dalam kepercayaan itu. Mereka akan bergantung pada pendapat orang lain untuk mengukur dirinya.

Perkataan yang menghakimi.

Menghakimi adalah menyatakan pendapat kita tentang mereka dari sudut pandang kita sendiri dan dari hasil observasi kita sendiri. Menghakimi juga menunjukan bahwa pendapat kita lebih benar dari padanya.

Contoh perkataan menghakimi :  “kamu sangat bodoh..!”

Kapanpun kita membuat penilaian tentang anak kita, ketahuilah bahwa itu hanyalah sebuah pendapat, bukan hukum yang terukir di atas batu.

Coba bandingkan dua kalimat ini :

“ kamu memang bodoh, nilaimu sangat jelek, kakakmu tidak pernah seperti ini”

Atau “kamu sudah belajar kan? Menurutmu apa kamu pantas dapat nilai seperti ini?”

Pada kalimat yang kedua, anak diberi kesempatan untuk mengevaluasi dirinya.
Hukuman yang tidak logis

Hukuman yang tidak logis misalnya menghukum anak yang berbohong dengan menyuruhnya menulis kalimat “saya tidak akan berbohong lagi” sebanyak satu halaman atau menghukumnya dengan tidak memberikan makan malam. Hukuman seperti itu hanya akan membuat anak marah dan benci kepada kita, namun tidak fokus untuk memperbaiki kesalahannya. Anak akan lebih fokus terhadap hukuman. Memang anak akan mengurangi atau menghentikan tindakan yang membuatnya dihukum namun bukan karena ia mengerti bahwa tindakannya itu buruk tapi karena takut dengan hukuman.

Hukuman fisik hanya membuat anak ketakutan, dan memberitahu kepada anak bahwa kekerasan itu adalah bagian dari menyelesaikan konflik, dan kekerasan halal terjadi untuk mendominasi. Hukuman fisik akan menutup kemungkinan pemecahan masalah yang lebih baik, karena akan berakhir dengan hukuman.

Terlalu mengatur

Sebagai orang tua, kita ingin sekali mengendalikan segalanya, kita membuat perintah-perintah, hukuman-hukuman, ancaman dan ultimatum.

Bandingkan kalimat-kalimat ini, antara yang penuh dengan tekanan dan yang lebih bersifat demokratis:

“tuh,kan kamu pasti ketinggalan tas lagi deh!” atau “jangan lupa tasnya ya”

“Kamu gila.. keluar rumah gak pakai jaket” atau “kalau merasa dingin sebaiknya pakai jaket ya”

“awas ya kalau gak langsung tidur, kamu gak boleh main game sebulan” atau “kamu kenapa gak cepat tidur, kamu ada masalah?”

Menjadi dewa penyelamat

Banyak orang tua yang tidak membiarkan anaknya jatuh dalam kesulitan, bahkan berusaha untuk menanggung kesalahan yang dibuat oleh anaknya. dalam segala situasi, orang tua akan berusaha melindungi anaknya meskipun anak itu seharusnya menanggung konsekuensi dari perbuatannya. Kerap kali juga orang tua selalu ingin menyelesaikan setiap urusan yang seharusnya menjadi porsi si anak. Sikap seperti ini menaruh anak pada posisi aman namun palsu, karena ia tidak diberi kesempatan belajar dan menangani masalahnya sendiri. Justru anak seperti ini tidak merasa aman, karena mereka tidak tahu cara menyelesaikan masalahnya selain menyerahkannya kepada orang tua. Anak juga dapat kehilangan identitasnya. (win)

Share artikel ini: