Anak mengalami batuk dan pilek yang disertai dengan demam? Tentunya bisa bikin orang tua tak tenang. Selain membuatnya rewel, batuk, pilek, dan demam yang dialami anak juga bisa bikin orang tua cemas. Meski begitu, jangan buru-buru membelikan antibiotik untuk anak ya!

Pemberian antibiotik dinilai sebagai cara cepat menyembuhkan batuk, pilek, dan demam yang dialami anak. Padahal, pemberian obat antibiotik sembarangan bisa memicu masalah kesehatan yang lebih parah, yakni resistensi antimikroba. Apa itu?

Resistensi antimikroba merupakan kondisi di mana mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus, dan parasit, berubah karena paparan obat antibiotik, antiviral, antifungal, dan sebagainya. Perubahan ini membuat mikroorganisme memiliki kekebalan terhadap obat tersebut. Dengan kata lain, resistensi antimikroba membuat bakteri, jamur, dan virus menjadi kebal terhadap obat.

Contohnya, antibiotik merupakan obat keras untuk melawan kuman atau bakteri, bukan obat untuk melawan virus, jamur atau parasit. Ketika antibiotik dikonsumsi untuk menyembuhkan penyakit akibat virus, jamur, atau parasit, maka dampaknya adalah bakteri dalam tubuh malah jadi kebal. Penyakit pun jadi lebih mudah menyebar sekaligus lebih sulit diobati.

Saat ini, resistensi antimikroba menyebabkan lebih dari 700.000 kematian di dunia setiap tahunnya. Jika resistensi antimikroba tidak ditangani segera, diperkirakan pada tahun 2050 diperkirakan 10 juta orang di dunia meninggal karenanya.

Kapan saat yang tepat menggunakan antibiotik?

Sebelum menggunakan antibiotik, orang tua wajib mengetahui apa saja penyakit yang bisa diobati dengan antibiotik. Jika infeksi penyakit disebabkan oleh virus, tentu saja pemberian antibiotik bukan langkah yang tepat. Begitu pun ketika pengobatan penyakit yang disebabkan oleh jamur dan parasit, tentu obatnya bukan antibiotik.

Patut diingat, obat antibiotik tidak boleh dijual bebas, dan hanya boleh digunakan sesuai dengan resep dokter. Salah satu alasan mengapa antibiotik termasuk dalam golongan obat resep dan bukan obat bebas adalah karena hanya melalui hasil pemeriksaan dokter yang bisa membedakan infeksi akibat bakteri dari infeksi lain yang tidak bisa ditangani oleh antibiotik.

Nah, berikut ini adalah beberapa contoh infeksi virus yang tidak perlu ditangani menggunakan antibiotik:

• Flu

• Bronkitis

• Sebagian besar jenis batuk

• Sebagian besar sakit/radang tenggorokan

• Sebagian besar infeksi telinga

• Flu perut (viral gastroenteritis)

Di sisi lain, ada pula penyakit karena infeksi bakteri yang memang hanya bisa diobati dengan antibiotik. Beberapa di antaranya adalah:

• Radang paru (pneumonia bakterialis)

• Infeksi saluran kemih

• Sebagian besar luka dan infeksi kulit (infeksi staphylococcus)

• Infeksi menular seksua (gonore, chlamydia, dll)

• Meningitis (radang selaput otak)

Pencegahan Resistensi Antimikroba

Resistensi antimikroba bisa menjadi masalah besar jika dibiarkan begitu saja. Untuk itu, perlu ada kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan agar resistensi antimikroba tidak menjadi masalah besar di Indonesia.

Pencegahan langkah pertama bisa dilakukan oleh seluruh orang tua di rumah. Caranya antara lain, tidak menyimpan obat antibiotik cadangan d rumah, tidak membeli obat antibiotik sembarangan di apotek, tidak memaksa dokter meresepkan antibiotik untuk penyakit yang bukan disebabkan oleh bakteri, menghabiskan obat antibiotik yang diresepkan oleh dokter, dan membuang seluruh obat antibiotik yang tidak lagi digunakan.

Untuk dokter dan tenaga kesehatan lain, beberapa hal yang bisa dilakukan adalah tidak meresepkan obat antibiotik tanpa pemeriksaan yang baik dan mendalam, tidak menjual antibiotik di apotek tanpa pengawasan, meresepkan antibiotik sesuai dosis dan kebutuhan pasien. (Aditya-Kom)

Sumber:

  1. Kementerian kesehatan RI
  2. WHO
  3. CDC

 

 

 

Share artikel ini: