(Pehadoxin, Nufadoxin, INH-CIBA, Pyravit,Suprazid)

Indikasi          : Tuberkulosis (TBC), digunakan kombinasi dengan obat lain, terapi pencegahan (profilaksis) tuberculosis.

Kontraindikasi             : penyakit hati karena obat. (drug-induced hepatitis).

Perhatian : gangguan hati, malnutrisi, pecandu alcohol, gagal ginjal kronik, diabetes mellitus, infeksi HIV (berisiko tinggi peradangan saraf  <neuritis perifer>), epilepsy, riwayat psikosis.

Kehamilan : tidak diketahui efeknya pada wanita hamil.

Menyusui : perlu monitor pada bayi terhadap bahaya kejang dan gangguan saraf, baik ibu dan bayi perlu mendapatkan tambahan vitamin B6.

Ajari pasien mengenali tanda-tanda gangguan hati : mual, muntah, lemas, kuning.

Dosis   :

–          Pengobatan TBC (per oral)

  • Dewasa dan anak : 5 mg/kg perhari (maksimum 300 mg perhari) , 10 mg/kg tiga kali seminggu

–          Pasien dengan keadaan berat (melalui suntikan intramuscular)

  • Dewasa : 200-300 mg satu kali sehari
  • Anak : 10-20 mg/kg perhari

–          Profilaksis:

  • Dewasa : 300 mg perhari selama 6 bulan
  • Anak : 5 mg/kg perhari (maximum 300 mg perhari) selama 6 bulan.

Sediaan           : tablet 50mg, 100mg, 300 mg. tersedia sediaan bermerk yang kombinasi dengan piridoksin.

Efek Samping :

Gangguan pencernaan seperti diare, mual, muntah, nyeri perut, konstipasi, mulut kering. Reaksi hipersensitivitas seperti demam, ruam, nyeri sendi, eritema multiformis, dan purpura (terutama seminggu pertama pengobatan). Gangguan saraf tepi, kelainan darah seperti agranulositosis, anemia hemolitik, anemia aplastik. Neuritis optic, kejang, hepatitis, SLE syndrome, pellagra, hyperrefleks, kesulitan berkemih, hiperglikemia, ginekomasti (pembesaran payudara).

Interaksi obat :

–          Anestesi : meningkatkan efek kerusakan hati.

–          Antacid : menurunkan penyerapan isoniazid

–          Sikloserin : meningkatkan risiko kerusakan otak

–          Antiepilepsi : isoniazid meningkatkan risiko keracunan oleh obat-obat antiepilepsi karena isonizid menghambat metabolismee obat-obat tersebut. Karbamazepin dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.

–          Ketokonazole : isoniazid menurunkan kadar ketokonazole dalam darah.

–          Isoniazid menghambat metabolismee diazepam

–          Kortikosteroid menurunkan kadar isoniazid dalam darah

–          Estrogen : isoniazid dapat menurunkan efektivitas kontrasepsi yang mengandung estrogen.

–          Teofilin : isoniazid meningkatkan kadar teofilin dalam darah.

–          Vaksin : isoniazid menginaktifkan vaksin tifoid oral

Share artikel ini: