HIV adalah kependekan dari Human Immunodeficiency Virus, merupakan virus golongan Retroviridae. Virus HIV memiliki protein spesifik yang dapat berikatan dengan reseptor pada sel limfosit manusia. Seperti kita ketahui bahwa sel limfosit adalah salah satu sel darah putih yang memiliki fungsi sebagai kekebalan tubuh. Oleh karena itu orang yang terinfeksi HIV sangat mudah mengalami infeksi akibat fungsi kekebalan tubuhnya yang lemah. AIDS merupakan kependekan dari Acquired immunodeficiency syndrome, adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh gangguan kekebalan tubuh. Oleh karena itu HIV positif dan AIDS adalah hal yang berbeda. Penderita HIV yang tidak mengalami AIDS tidak memiliki gejala atau manifestasi penyakit. Pada saat kekebalan tubuh mulai turun dan tubuh terinfeksi berbagai penyakit, maka keadaan tersebut dinamakan AIDS.

Secara umum, penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang bergantian pada pengguna narkoba dan penularan dari ibu kepada bayi. Infeksi HIV pada bayi dan anak terutama ditularkan oleh ibu melalui kehamilan, proses kelahiran dan pemberian air susu ibu (ASI). Sebagian kecil kasus HIV pada anak disebabkan oleh pelecehan seksual dan transfusi darah.

Kapan kita mencurigai seorang anak terinfeksi HIV?

Mengingat bahwa HIV menyerang kekebalan tubuh sehingga gejala yang dicurigai sebagai manifestasi dari HIV pada umumnya adalah gejala infeksi. Berikut adalah gejala yang perlu dicurigai sebagai infeksi HIV:

–        Infeksi bakteri berat lebih dari 3 kali pada kurun waktu 12 bulan terakhir seperti pneumonia berat, selulitis, sepsis atau meningitis.

–        Oral thrush. Oral thrush adalah infeksi jamur pada mukosa mulut yang berupa bercak putih susu. Oral thrush yang tidak perbaikan selama 30 hari meskipun dengan pengobatan dapat mengindikasikan adanya gangguan kekebalan tubuh. Oral thrush yang luas sampai liah dan kerongkongan juga perlu dicurigai sebagai manifestasi infeksi HIV. Pada bayi baru lahir umum ditemukan oral thrush terutama pada bayi yang mendapatkan antibiotic. Hal tersebut dapat saja normal dan akan menghilang seiring bertambahnya usia.

–        Pembesaran kelenjar getah bening yang luas. Jika terdapat pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuh (Leher, belakang kepala, ketiak, selangka) perlu dicurigai adanya infeksi HIV.

–        Parotitis lebih dari 2 minggu. Pada umumnya, parotitis (infeksi kelenjar liur) disebabkan oleh virus dan akan sembuh sendiri dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. Parotitis yang berkepanjangan meskipun tidak disertai demam dapat merupakan tanda gangguan kekebalan tubuh.

–        Pembesaran hati. Pada anak dengan infeksi HIV, sangat mungkin menderita infeksi virus lain yang menyebabkan pembesaran hati sehingga adanya pembesaran hati tanpa etiologi yang jelas perlu dicurigai sebagai infeksi HIV.

–        Herpes Zoster yang  terjadi pada anak. Herpes zoster atau cacar ular merupakan infeksi yang pada umumnya terjadi pada usia lanjut atau dewasa yang mengalami gangguan kekebalan tubuh, jika herpes zoster terjadi pada anak perlu dicurigai adanya gangguan kekebalan tubuh.

–        Infeksi kulit yang luas seperti molluscum yang ekstensif.

–        Demam lama yang tidak diketahui etiologinya setelah melakukan pemeriksaan. Demam yang terus menerus lebih dari 2 minggu perlu dilakukan berbagai pemeriksaan untuk investigasi penyebab demam, HIV merupakan salah satu diagnosis yang perlu dipikirkan pada demam yang berkepanjangan.

–        Gangguan nutrisi. Terdapat gizi kurang atau gizi buruk pada anak yang mendapatkan nutrisi yang cukup atau tidak adanya perbaikan status gizi dengan terapi gizi standar.

–        Diare persisten lebih dari 14 hari.

Perlu diketahui bahwa HIV bukan saja penyebab satu-satunya dari gejala tersebut di atas sehingga penting untuk ditelusuri riwayat medis anak dan pemeriksaan penunjang yang dapat menegakkan diagnosis.

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan HIV pada anak harus disetujui oleh orangtua atau pendamping/pengasuh anak yang dipercaya sebab pemeriksaan HIV bersifat rahasia.

–        Tes antibodi HIV.

Pemeriksaan antibodi HIV pada bayi yang dilahirkan oleh ibu pengidap HIV dilakukan pada usia lebih dari 18 bulan. Jika pemeriksaan dilakukan sebelum usia 18 bulan maka hasilnya dapat positif palsu akibat antibodi ibu yang ditransfer melalui plasenta.

–        Tes virologI

Tes virologi merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya asam nukleat virus. Ini merupakan pemeriksaan paling akurat untuk mendeteksi adanya infeksi virus HIV pada bayi kurang dari 18 bulan. Meskipun demikian, pemeriksaan pada bayi yang mendapatkan terapi pencegahan zidovudin, keakuratannya dapat berkurang. Selain itu, pada bayi yang mendapatkan ASI dari ibu yang terinfeksi HIV, pemeriksaan harus dilakukan 6 minggu setelah ASI dihentikan.

–        Pemeriksaan CD4

CD4 merupakan reseptor yang terdapat pada sel limfosit. Pada pasien dengan gangguan imunitas seluler, terdapat penurunan nilai CD4. Nilai CD4 merupakan indikator untuk menentukan derajat imunitas pasien. Pada anak, nilai CD4 yang dianggap normal adalah lebih dari 25% sedangkan pada bayi nilai CD4 dianggap normal jika lebih dari 35%. Berbeda dengan pasien dewasa yaitu CD4 yang dianggap normal adalah lebih dari 500 sel/mm3.

–        Pemeriksaan limfosit.

Limfosit adalah sel darah putih yang berperan dalam imunitas seluler. Pada pasien HIV, kadar limfosit dapat digunakan sebagai parameter status imunitas pasien. Meskipun demikian, penggunaannya tidak dianjurkan pada daerah dimana CD4 dapat diperiksa. Pemerksaan  CD4 lebih akurat dalam menggambarkan status imunitas seluler.Jumlah limfosit kurang dari 1250/µL dianggap berpotensi terinfeksi penyakit-penyakit opportunistik.

Pemberian ASI pada bayi dengan ibu pengidap HIV.

Pemberian ASI pada bayi dengan ibu pengidap HIV dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Oleh karena itu pemberian susu formula dianggap dapat mencegah penularan HIV dari ibu kepada bayinya, namun tidak semua situasi memungkinan untuk seorang ibu memberikan susu formula.

Pemberian susu formula pada bayi dengan ibu yang terinfeksi HIV dilakukan pada keadaan yang memenuhi syarat sebagai berikut:

–        Acceptable. Ibu dan keluarga menerima keputusan untuk memberikan susu formula, tanpa disertai stigma dan diskriminasi dari budaya dan lingkungan keluarga.

–        Feasible. Keluarga atau orangtua memiliki waktu, pengetahuan, kemampuan dan dukungan yang cukup untuk memberikan susu formula setidaknya 12 kali dalam 24 jam.

–        Affordable. Keluarga atau orangtua dapat membeli susu formula dan menjamin berlangsungnya pemberian susu formula selama 6 bulan. Ketidakmampuan ekonomi seringkali membuat penghentian pemberian susu formula pada bayi yang digantikan dengan nutrisi cair lain yang tidak layak seperti susu yang diencerkan, susu kental manis, atau air the.

–        Sustainable. Tersedianya susu formula dan semua peralatan yang dibutuhkan untuk menjamin bahwa pemberian susu formula aman dan berlangsung terus menerus setidaknya selama setahun. Pada daerah terpencil yang sulit transportasi, pembelian susu formula akan sulit dilakukan. Bukannya tidak mungkin sebuah pemukiman berjarak 1-2 hari dari kota yang menyediakan susu formula.

–        Safe. Pemberian susu formula harus bersih, dan aman diberikan kepada bayi. Salah satu contoh adalah tersedianya air bersih. Adalah sulit menerapkan pemberian susu formula pada tempat yang jauh dari air bersih, tidak ada sarana untuk melakukan pencucian botol susu yang bersih dan aman.

–        Kriteria tersebut dikenal dengan nama kriteria AFASS.

–        Apabila ibu terinfeksi HIV dan sedang menyusui, sedangkan status infeksi bayi tidak diketahui, dapat direkomendasikan untuk menghentikan menyusui dan memberikan susu formula jika syarat AFASS terpenuhi.

Pemberian ASI eksklusif pada bayi dengan ibu pengidap HIV positif dapat dilakukan pada keadaan berikut:

–        Ibu tidak dapat memberikan susu formula, karena tidak memenuhi salah satu syarat di atas.

–        Bayi terbukti sudah terinfeksi HIV.

Pemberian ASI harus dilakukan secara eksklusif, TIDAK boleh melakukan pergantian antara pemberian susu formula dan ASI. Hal tersebut disebabkan karena pemberian susu formula dapat mengiritasi lapisan usus bayi sehingga mempermudah infeksi virus HIV yang terdapat pada ASI.

Pemberian ASI atau susu formula pada bayi dengan ibu HIV merupakan keputusan yang berisiko baik susu formula maupun ASI. Pemberian susu formula dapat meningkatkan angka kematian bayi sedangkan pemberian ASI dapat meningkatkan risiko tertularnya HIV. Pemberian susu formula pada daerah dengan sosial ekomoni yang rendah dan lingkungan alam yang sulit sangat berisiko menimbulkan infeksi dan kematian pada bayi muda. Pemberian ASI memiliki risiko penularan HIV sekitar 5-15% sedangkan pada pemberian susu formula adalah 0%. Pemberian ASI dan susu formula secara bergantian memiliki risiko penularan sampai 24%. Meskipun demikian, penularan HIV dari ibu kepada bayi dapat dicegah dengan melakukan Prevention mother to child transmission (PMTCT), yang diadopsi oleh Departemen Kesehatan RI dengan namaPencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA). Komponen PPIA adalah sebagai berikut:

–        Semua wanita hamil hendaknya melakukan pemeriksaan HIV. Wanita hamil dengan HIV negative harus tetap menjaga dirinya tidak terinfeksi dan melakukan pemeriksaan HIV pada pasangannya.

–        Ibu hamil dengan HIV positif harus mengkonsumsi obat antriretroviral (ARV) sampai 1 minggu setelah berhenti menyusui. Pengobatan dilanjutkan seumur hidup jika ibu memenuhi kriteria pemberian ARV (stadium klinis 3 atau 4, atau memiliki CD4 kurang dari 500 sel/mm3). Pemberian ARV pada ibu hamil dimulai saat usia kandungan 14 minggu, apabila kondisi penyakit ibu berat (stadium klinis 2,3,atau 4 atau CD4 kurang dari 350 sel/mm3) maka pemberian ARV dapat dilakukan sebelum usia kehamilan 14 minggu.

–        Proses kelahiran yang dianjurkan adalah operasi sectio caesaria. Proses kehamilan pervaginam sangat berisiko terjadi penularan HIV dari ibu ke bayi. Proses kelahiran pervaginam dapat dilakukan jika ibu telah menjalani pengobatan dan tersedianya pemeriksaan viral load di RS setempat. Viral load yang rendah pada umumnya  tidak berpotensi menularkan. Pemberian ARV pada usia kehamilan lebih dari 36 minggu harus melakukan persalinan melalui operasi.

–        Bayi yang lahir dari ibu HIV positif mendapatkan pengobatan ARV sampai usia 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai 1 tahun jika tidak dapat melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengkonfirmasi infeksi HIV.

Apabila fasilitas pemeriksaan virology tersedia, ARV terjangkau, dan orangtua patuh terhadap pengobatan. Ibu hamil dapat melakukan proses persalinan melalui pervaginam dan dapat memberikan ASI eksklusif kepaa bayinya.

Pengobatan HIV

Pemberian obat ARV pada anak dilakukan jika memenuhi syarat sebagai berikut:

–        ARV diberikan pada semua anak dengan HIV positif yang berusia kurang dari 60 bulan.

–        ARV diberikan pada anak dengan usia ≥60 bulan jika stadium klinis anak 3 atau 4, atau nilai CD4 kurang dari 350 sel/mm3.

–        Pada anak dengan gizi buruk, pemberian ARV dilakukan setelah fase stabilisasi.

–        Pada anak dengan infeksi TBC, ARV diberikan setelah terapi TBC berjalan 2-8 minggu, kecuali kondisi klinis anak sangat berat.

–        Pemberian terapi pencegahan dengan kotrimoksazol harus dilakukan bersamaan dengan terapi ARV.

Resistensi terhadap ARV sangat mudah terjadi oleh karena itu diberikan 3 obat untuk menghindari resistensi. Selain pemberian 3 jenis obat, edukasi yang baik juga harus dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat. Ketidakpatuhan minum obat dapat meningkatkan risiko resistensi ARV.

Pencegahan HIV

Pencegahan HIV dapat dilakukan jika kita mengerti bagaimana penularannya. Berikut adalah jalur penularan HIV:

  1. Hubungan seksual.

Setia kepada pasangan adaalah kunci untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual, asalkan pasangan kita adalah HIV negatif. Sebelum menikah sebaiknya melakukan pemeriksaan HIV baik diri sendiri dan pasangan. Pemakaian kondom dapat menurunkan risiko penularan HIV meskipun masih terdapat kemungkinan kecil tertular.

  1. Terpajan dengan cairan tubuh.

Bagi para tenaga medis, melakukan universal precaution saat melakukan tindakan medis atau merawat pasien. Pada unit transfusi darah, pemeriksaan antibody HIV pada darah donor rutin dilakukan dan merupakan standar wajib di seluruh Unit PMI. Namum, pemeriksaan tersebut tidak dapat mengidentifikasi virus yang masih dalam window period. Saat ini tersedia pemeriksaan yang lebih sensitif yaitu NAT. Pemeriksaan NAT lebih peka dalam mendeteksi HIV dibandingkan dengan skrining antibodi biasa. Sayangnya NAT belum merupakan pemeriksaan rutin pada PMI, sehingga pasien harus mengeluarkan dana tambahan untuk melakukan pemeriksaan tersebut. HIndari penggunaan narkoba, narkoba merupakan pintu gerbang menuju penggunaan jarum suntik yang bergantian dan seks bebas.

  1. Penularan dari ibu hamil ke bayinya.

Penularan dari ibu hamil ke bayi dapat dicegah seperti yang telah dipaparkan pada artikel di atas.

Harapan hidup pada HIV

Dengan adanya pengobatan ARV, harapan hidup pasien HIV meningkat. Pengobatan ARV yang dilakukan pada saat pasien terdiagnosis HIV tanpa disertai AIDS memiiki harapan hidup sampai lebih dari 20 tahun pasca terapi. Penyebab kematian pada penderita HIV adalah infeksi. Oleh karena itu, pengobatan ARV tidak akan berhasil tanpa pengendalian dan tata laksana infeksi yang sesuai.

Apa yang harus kita lakukan?

Sebagai bukan penderita HIV, kita wajib menjaga diri dan keluarga supaya tidak tertular. Memberikan dukungan moral, tidak melakukan stigma pada penderita HIV dapat membantu mereka lebih percaya diri dan patuh terhadap pengobatan. Sebagai penderita HIV, kita wajib melakukan pencegahan infeksi opportunistik pada diri sendiri dan pencegahan penularan kepada orang lain. Angka kematian dan kesakitan HIV pada anak tidak akan turun tanpa keterlibatan kita semua. (win)

Sumber:

  1. Pelayanan kesehatan anak di Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI.
  2. HIV and Infant feeding. World Health Organization.
  3. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Pencegahan Penularan HIV ibu ke anak.
  4. Starting 1st-line therapy. Pediatric HIV management. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  5. Life expectancy of patients with newly-diagnosed HIV infection. Oxford Journal.
  6. CD4 and lymphocyte count as predictor of HIV progression. Oxford journal.
Share artikel ini: