Para ibu hamil yang usia kehamilannya 20 minggu atau lebih perlu berhati-hati mengonsumsi obat anti radang non steroid (NSAIDs = nonsteroidal antiinflammatory drugs). FDA (The U.S. Food and Drug Administration; alias BPOM nya Amerika Serikat) memperingatkan masyarakat bahwa meski jarang, NSAIDs dapat mengakibatkan gangguan ginjal serius pada janin. NSAIDs juga dapat menyebabkan berkurangnya cairan amnion dalam kandungan serta komplikasi lanjutan lainnya.

Apa itu NSAIDs dan apa manfaatnya?

NSAIDs adalah obat anti radang/inflamasi non steroid yang sudah sejak lama digunakan untuk mengurangi rasa nyeri dan demam. NSAIDs bekerja dengan cara menghentikan produksi zat kimia tertentu dalam tubuh; zat kimia yang mengakibatkan terjadinya peradangan.

NSAIDs sering digunakan untuk pengobatan jangka panjang dan pendek.  NSAIDs dapat digunakan tunggal atau kombinasi dengan obat lain. Beberapa kondisi medis yang sering menggunakan NSAIDs adalah arthritis (radang persendian), sakit kepala, “kram” (kejang perut) saat menstruasi, insomnia, selesma dan flu.

Yang tergolong NSAIDs antara lain aspirin, ibuprofen, naproxen, diclofenac dan celecoxib (catatan: sila cari berbagai merek dagangnya). Obat-obat tersebut selain diresepkan oleh dokter, dapat diperoleh secara bebas di apotek.

Temuan FDA

FDA meneliti ulang berbagai literatur dan kasus-kasus yang dilaporkan ke FDA tentang cairan amnion berkurang sehingga menjadi sedikit atau gangguan ginjal pada bayi dalam kandungan terkait penggunaan NSAIDs selama masa kehamilan.

Dari 35 kasus yang dilaporkan, semua tergolong kasus serius. Dua bayi baru lahir meninggal karena gagal ginjal dan terkonfirmasi cairan amnionnya sedikit saat para ibunya mengkonsumsi NSAIDs selama hamil. Tiga bayi baru lahir meninggal karena gagal ginjal dan tidak terkonfirmasi mengalami jumlah cairan sedikit saat dalam kandungan. Pada 11 kasus lainnya, diketahui bahwa cairan amnion yang sedikit kembali menjadi normal ketika penggunaan NSAIDs dihentikan. Hal ini senada dengan kasus-kasus serupa dalam literatur medis yang diteliti. Dikatakan bahwa cairan amnion yang sedikit terdeteksi saat penggunaan NSAIDs dengan lama waktu yang bervariasi, mulai dari 48 jam hingga beberapa minggu. Pada kebanyakan kasus, kondisi cairan amnion kembali normal setelah 3 hingga 6 hari sejak berhenti memakai NSAIDs, namun cairan amnion kembali berkurang saat kembali mengonsumsi NSAIDs.

Pengaruh NSAIDs pada kandungan ibu hamil

NSAIDs bila dikonsumsi ibu hamil dengan usia kehamilan 20 minggu atau lebih akan mengakibatkan gangguan pada ginjal bayi dalam kandungan. Saat usia kandungan 20 minggu atau lebih, sebagian besar cairan amnion yang berada di sekeliling bayi dihasilkan dari ginjal bayi. Sehingga gangguan pada ginjal bayi akan menyebabkan jumlah cairan amnion berkurang dan komplikasi lanjutan lainnya. Cairan amnion berfungsi sebagai bantalan pelindung dan membantu perkembangan paru-paru, sistem pencernaan dan otot-otot bayi dalam kandungan ibu.

Oleh karena itu, para ibu hamil tidak disarankan untuk menggunakan NSAIDs sebagai pereda nyeri maupun untuk terapi kondisi kesehatan lainnya. Bila terpaksa menggunakan NSAIDs, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan tidak membeli serta mempergunakan obat tersebut secara bebas.

Rekomendasi FDA untuk tenaga kesehatan

FDA merekomendasikan pada tenaga kesehatan untuk membatasi peresepan NSAIDs bagi ibu hamil dengan usia kehamilan antara 20-30 minggu. FDA juga menyarankan untuk menghindari memberikan resep NSAIDs pada usia kehamilan 30 minggu. Bila NSAIDs perlu diberikan, batasi pemakaian dengan dosis efektif terendah dan masa konsumsi terpendek. Pertimbangkan untuk memantau cairan amnion dengan ultrasound jika terapi NSAIDs lebih dari 48 jam dan hentikan bila ditemukan kejadian oligohydramnion. (Syl)

Sumber: FDA

Share artikel ini: