Komunitas memiliki peran penting dalam pengendalian HIV/AIDS, begitulah makna tema Hari AIDS Sedunia “Communities Make the Difference”.

Hari AIDS Sedunia atau World AIDS Day (WAD) diperingati setiap tanggal 1 Desember. Di Indonesia, peringatan WAD akan diselenggarakan pada tanggal 30 Desember 2019 di Bandung, Jawa Barat dengan tema “Bersama Masyarakat Meraih Sukses”.

Selama ini berbagai kelompok masyarakat telah aktif menggelar kampanye, mendukung pemberian layanan HIV, membela hak asasi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) serta menyebarkan informasi tentang HIV dan AIDS kepada masyarakat, baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan organisasi lain dan pemerintah. Meskipun begitu, masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan. Bantuan masyarakat tidak saja membuat pengendalian AIDS berjalan lebih baik tetapi juga membuat ODHA dapat hidup lebih baik.

Informasi tentang HIV/AIDS masih harus terus disebarkan, sehingga anggota masyarakat memahami cara penularan dan pencegahan penularannya. Namun, masih banyak yang beranggapan bahwa HIV dan AIDS merujuk pada satu hal saja. HIV (human immunodeficiency virus) adalah suatu jenis virus yang menyerang sistem kekebalan yang pada sel-sel CD4, sel yang membantu tubuh memerangi infeksi. HIV berkembang biak dalam CD4 dan merusak sel tersebut. Sementara AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) adalah istilah yang digunakan saat infeksi HIV telah mencapai tahap yang lebih parah. Seseorang dengah HIV belum tentu menderita AIDS.

Mereka yang telah teridentifikasi memiliki HIV di dalam tubuhnya dapat menjalani antiretroviral therapy (ART), yang kini sudah tersedia di Puskesmas di berbagai wilayah Indonesia. ART dapat menekan perkembangan virus sehingga sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi, dan orang dengan HIV tidak mengalami hambatan fisik dalam melakukan kegiatan sehari-hari. ODHA yang menjalani perawatan ART secara tepat, berisiko kecil menularkan HIV kepada orang lain. Mereka seharusnya dapat diterima untuk bergaul seperti biasa oleh keluarga, kawan dan orang-orang di sekitarnya.

ART harus rutin dilakukan dan memerlukan disiplin. Keluarga dan komunitas dapat membantu memastikan agar ODHA terus bersemangat menjalankan perawatan dengan rutin.

Tidak ada vaksin yang dapat melindungi seseorang dari HIV dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS. Pencegahan adalah cara terbaik untuk bebas dari HIV/AIDS. HIV terdapat pada cairan tubuh yang terdiri dari darah, sperma, cairan vaginal dan dari anus, serta air susu ibu. HIV juga menular melalui berbagai bentuk hubungan seks, penggunaan jarum atau benda tajam lain yang sama dengan yang digunakan ODHA. HIV juga menular dari ibu ke anak, baik saat masih di dalam kandungan maupun melalui air susu ibu. Saat ini telah terdapat cara agar ibu dengan HIV dalam tubuhnya dapat melahirkan anak yang sehat, tanpa virus HIV dalam tubuhnya.

Pengguna narkotik dan zat adiktif sering bersama-sama menggunakan jarum atau alat tajam, tranfusi darah yang terkontaminasi HIV, kemudian, berganti-ganti pasangan adalah perilaku berisiko bagi penularan HIV. Pencegahan penularan HIV tentu saja dengan menghindari hal-hal di tersebut. Ada juga anggota masyarakat yang sudah mengetahui bahwa sunat pada laki-laki dapat menurunkan risiko transmisi HIV melalui hubungan seks sebanyak sekitar 60%. Sunati tidak sepenuhnya melindungi para lelaki dari HIV, sehingga mereka tetap harus menerapkan prinsip-prinsip pencegahan penularan HIV.

Mereka yang membawa HIV dalam tubuhnya, kerap tidak terlihat sakit, sampai kemudian sampai pada fase yang parah. Banyak para ibu rumah tangga yang tertular HIV melalui suaminya, dan baru mengetahui bahwa dirinya tertular HIV setelah suaminya sakit atau meninggal karena AIDS. Selain harus merawat atau kehilangan suami, mereka juga harus berhadapan dengan penyakit mereka. Para ibu ini memerlukan dukungan bagi psikologis dari orang-orang terdekat untuk tetap dapat mengasuh keluarga.

HIV tidak menular melalui air, makanan, minuman, serangga, hewan, alat makan, dan toilet. HIV juga tidak menular melalui kotoran manusia, cairan hidung, air liur, air mata, keringat atau muntah, selamat tidak ada darah pada hal-hal tersebut. Ketidak-tahuan tentang hal ini membuat ODHA sering dijauhi atau malah diasingkan. Mereka juga sering mengalami diskriminasi, padahal perubahan keadaan kesehatan membuat ODHA memerlukan pertolongan orang lain.

Menyebarkan informasi yang benar adalah langkah untuk mencegah pengendalian HIV/AIDS, dimulai dengan upaya mengetahui fakta seputar HIV/AIDS dari sumber terpecaya. Dengan informasi yang cukup, anggota masyarakat juga dapat membantu ODHA untuk hidup lebih baik.

Sumber informasi:

www.kemenkes.go.id

https://www.who.int/news-room/q-a-detail/hiv-aids

https://www.cdc.gov/hiv/

Share artikel ini: