Penyebab

Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella (cacar air). Setelah seseorang sembuh dari cacar air, maka virus varicella tetap berada di dalam tubuh, yaitu di ganglion saraf sensorik di mana virus varicella berada dalam keadaan tidak aktif (laten). Pada sebagian orang, virus yang laten tersebut menjadi aktif kembali bertahun-tahun kemudan (biasanya pada usia lanjut) dalam bentuk herpes zoster, bukan sebagai cacar air.  Penyebab reaktivasi masih belum diketahui pasti, diduga berkaitan dengan penurunan sistem kekebalan tubuh.

Gejala

Gejala herpes zoster dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: fase praerupsi; fase erupsi; fase kronis. Fase praerupsi berupa nyeri/gatal/baal di area kulit tertentu (tetapi kulit masih tampak normal) yang berlangsung selama kurang lebih dua hari. Setelah itu akan berlanjut ke fase erupsi di mana muncul kemerahan di daerah kulit yang tadinya nyeri. Kemudian akan muncul lenting-lenting (seperti pada cacar air) yang berkumpul di atas kulit yang kemerahan itu, yang mulanya berisi air. Lenting tersebut nantinya dapat berisi nanah atau darah.

Semua kelainan kulit tersebut bersifat lokal pada dermatom tertentu. Dermatom adalah area kulit tertentu yang disuplai serabut saraf, biasanya satu sisi tubuh. Jadi kelainan kulit herpes zoster umumnya hanya pada satu sisi tubuh dan meliputi sebagian area kulit (biasanya pada daerah badan). Kelainan pada kulit tersebut akan menyembuh dengan sendirinya dalam waktu 10-15 hari. Proses penyembuhan dapat meninggalkan jaringan parut.

Fase kronis dari herpes zoster berupa post herpetic neuralgia (PHN), yaitu nyeri pada daerah kulit yang sudah sembuh,dirasakan hilang timbul atau terus menerus. Nyeri ini berlangsung lebih dari sebulan (kadang sampai tahunan) dengan derajat nyeri bervariasi, dari ringan sampai berat. Sebagian besar dari PHN akan menghilang dengan sendirinya. Nyeri PHN yang berat dan berlangsung lama memerlukan pengobatan untuk mengurangi nyeri.

Herpes zoster kadang mengenai daerah kulit di luar badan, misalnya herpes zoster oftalmika yang meliputi daerah kulit di sekitar mata dan kadang-kadang dapat menimbulkan gangguan pada mata. Herpes zoster oticus adalah herpes zoster yang mengenai organ pendengaran.

Komplikasi

Komplikasi kulit misalnya: infeksi sekunder bakteri, pembentukan jaringan parut, terbentuk gangren, penyebaran lesi zoster melebihi dermatom.

Komplikasi viseral: hepatitis, pneumonitis, gastritis, perikarditis, artritis, dll.

Komplikasi neurologi: meningoensefalitis, mielitis, kelumpuhan saraf kranialis, ketulian, dll

Diagnosis

Diagnosis herpes zoster ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas. Pemeriksaan penunjang seperti laboratorium kurang berperan dalam mendiagnosis herpes zoster.

Tata Laksana

Pada fase akut, pengobatan simtomatik yang dapat diberikan antara lain: obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID); lotion calamine; kompres dingin. Tujuan dari terapi simtomatik adalah untuk mengurangi nyeri dan memberikan rasa nyaman.

Obat antiviral idealnya segera diberikan dalam waktu kurang dari 72 jam sejak munculnya kelainan kulituntuk mempercepat waktu penyembuhan dan mengurangi risiko timbulnya PHN. Obat antiviral yang dapat digunakan antara lain:

  • Acyclovir oral (dosis: 800 mg per kali pemberian, 5 kali dalam 24 jam, selama 7 hari) ATAU
  • Valacyclovir oral (dosis: 1000 mg tiap 8 jam, selama 7 hari) ATAU
  • Famcyclovir oral (dosis: 500 mg tiap 8 jam, selama 7 hari)

Risiko munculnya PHN pada penderita herpes zoster yang berusia kurang dari 50 tahun dan dalam kondisi sehat adalah rendah, sehingga terapi antiviral tidak harus diberikan pada kelompok usia ini. Konsultasikan dengan dokter Anda tentang perlu tidaknya pemakaian obat antiviral.

Pengobatan PHN relatif sulit, perlu waktu lama, banyak efek samping, dan angka keberhasilannya rendah, oleh karena itu lebih diutamakan upaya pencegahan supaya tidak timbul PHN misalnya dengan vaksin zoster. Obat yang digunakan untuk mengobati PHN antara lain gabapentin, pregabalin, amitriptilin, nortriptilin, dan lain-lain.

Prognosis

Tingkat kesembuhan penderita herpes zoster yang sehat dan tanpa penyakit penyerta sangat baik. Penderita herpes zoster dengan gangguan imunitas tubuh berisiko menderita berbagai komplikasi. Diperkirakan satu dari lima orang penderita herpes zoster akan mengalami PHN.

Pencegahan

Vaksin zoster direkomendasikan bagi semua orang orang yang berusia ≥60 tahun. Vaksin ini bermanfaat untuk mengurangi risiko seseorang menderita herpes zoster dan mengurangi risiko terjadinya PHN. Kontraindikasi vaksin zoster antara lain: alergi terhadap gelatin, neomisin, komponen vaksin; gangguan kekebalan tubuh; hamil atau akan hamil. Efek samping vaksin: kemerahan, nyeri, bengkak, gatal pada daerah suntikan; sakit kepala. Vaksin zoster diperkirakan baru akan tersedia di Indonesia tahun 2014.

(Daniel)

Sumber:

1. Allen A. Shingles & chickenpox: what’s the link? http://www.webmd.com/vaccines/what-you-should-know-11/shingles-chickenpox

2. Janniger CK. Herpes zoster. http://emedicine.medscape.com/article/1132465-overview#showall

3. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, et al. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th ed. 2008

Share artikel ini: