Masyarakat awam mengenal hernia dengan sebutan ‘turun usus’. Hernia lebih sering dijumpai pada selangkangan dan kantong kemaluan. Meskipun jarang, hernia juga dapat terjadi pada pusar (umbilikus).

Saat dalam kandungan, tali plasenta ibu akan terhubung ke otot perut janin area pusar. Setelah lahir, otot perut area pusar tersebut akan menutup. Akan tetapi, otot tersebut bisa tetap terbuka pada kondisi tertentu, misalnya bayi lahir kurang bulan dan berat lahir rendah. Akibatnya, usus bisa keluar usus keluar dan tampak menonjol ketika bayi menangis atau mengedan. Usus akan masuk kembali ke dalam otot perut ketika bayi tenang sehingga pusar tampak rata.

Sebagian besar hernia umbilikal tidak menimbulkan rasa nyeri dan bayi tampak tenang. Pertolongan medis segera dilakukan bila bayi tampak  rewel/kesakitan, muntah, dan ada tanda radang seperti kemerahan dan bengkak. Tanda radang itu terjadi karena usus yang sudah menonjol tidak bisa masuk lagi ke dalam perut (‘terkunci’). Selanjutnya,aliran darah akan tersumbat, usus membengkak, dan bila dibiarkan akan pecah (perforasi) dan mengeluarkan isi usus. Isi usus yang mengandung kuman akan menimbulkan infeksi pada perut.

Diagnosis hernia umbilikal cukup didiagnosis dengan pemeriksaan fisis. Bila ragu, dapat dibantu dengan ultrasonografi atau CT-scan.

Hernia umbilikal umumnya akan menutup sendiri pada usia 1-2 tahun. Tindakan operasi dipertimbangkan bila bayi tampak kesakitan, diameter >1,5 cm, menetap dan ukuran tidak berkurang pada usia 2 tahun, tidak menutup setelah usia 4 tahun, dan ada tanda radang. Operasi biasanya sederhana dan berlangsung singkat sekitar 20-30 menit. Usus dikembalikan ke dalam perut, dan otot yang terbuka akan dijahit.

Selain bayi, hernia umbilikal bisa juga terjadi pada dewasa. Umumnya dikarenakan peningkatan tekanan di dalam perut seperti obesitas, kehamilan multipel (kembar dua/tiga), ascites (penyakit yang ditandai penumpukan cairan pada rongga perut), riwayat operasi perut, batuk kronik, dan dialisis (cuci darah) melalui rongga perut. (felix)

Sumber :

1. mayoclinic.org

2. nhs.uk

3. pedsurg.ucsf.edu

Share artikel ini: